Gadis Buta Milik Tuan Arogan

Gadis Buta Milik Tuan Arogan
Bab 7


__ADS_3

Alice dan Cecilia mulai bekerja seperti biasanya. Bagi Alice sendiri kekurangannya tidak membuat dia kesusahan dalam menjalankan aktifitasnya. Dia tidak menjadikan kekurangannya sebagai sebuah hambatan dalam melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan oleh orang normal, Alice justru ingin membuktikan kepada semua orang kalau kekurangannya bukan sebuah alasan baginya untuk mendapat rasa empati dan iba dari orang lain. Bukan hanya itu, Alice pun sangat enggan kalau orang-orang memandangnya sebagai seseorang yang perlu dikasihani karena Alice adalah gadis yang mandiri.


"Kamu sudah menata semuanya, Alice?" tanya Ken yang memang selama ini selalu memandang Alice sebagai seseorang yang normal, sama seperti dirinya dan juga Cecilia.


Namun, tanpa orang lain ketahui, Ken sangat kagum dengan kepribadian Alice yang sangat mandiri dan juga enggan untuk dikasihani padahal dia memiliki kekurangan. Ken jelas sangat jarang bertemu dengan gadis yang seperti Alice, justru di luar sana dia lebih sering bertemu dengan orang-orang yang menjadikan kekurangannya sebagai ajang untuk mencari sesuap nasi.


"Sudah, pak, Bapak bisa melihatnya apakah aku menatanya dengan baik atau tidak? Khawatir kalau aku salah meraba kue yang tadi aku tata," kata Alice yang meski pun sudah melakukan semuanya sebaik mungkin, tetapi dia pun sadar dengan keadaannya sehingga perlu koreksi dari Ken atau pun Cecilia mengenai apa yang dia kerjakan.

__ADS_1


Ken yang mendengar apa yang dikatakan Alice pun mulai memeriksa pekerjaan Alice secara saksama. Hasilnya tentu saja seperti biasanya, sangat rapi dan menarik. Inilah salah satu hal yang membuat Ken kagum kepada Alice yang bisa mengerakan semuanya dengan sempurna dan tidak ada celah sedikit pun untuk dia komentari karena kesalahannya dalam bekerja.


"Seperti biasa, kamu selalu perfect dalam melakukan apa pun, Alice!" puji Ken dan sebuah senyuman pun muncul di bibir Alice, dan itu sangat manis sekali, bahkan mengalahkan manisnya gula.


"Terima kasih, pak, padahal tadi aku khawatir kalau apa yang aku lakukan akan membuat Pak Ken kecewa," kata Alice yang tidak sedikit pun memudarkan senyumannya dari bibirnya yang merona itu.


Ken ikut tersenyum saat melihat senyuman Alice itu dan seketika jantungnya berdegup dengan sangat kencang seolah-olah ada sesuatu yang membuatnya seperti itu. Terasa sangat aneh bagi Ken, tetapi dia berusaha untuk bersikap biasa saja seolah-olah apa yang dia rasakan bukan sesuatu yang aneh.

__ADS_1


Cecilia yang berada tidak jauh dari keduanya jelas bisa melihat interaksi antara Alice dan Ken yang sedikit tidak biasa. Dia sedikit menaruh curiga kalau ada sesuatu yang terjadi di antara mereka atau salah satunya memiliki rasa yang lebih, hanya saja Cecilia segera mengenyahkan semua rasa itu agar tidak membuat rasa tidak nyaman di antara mereka semua.


"Pak Ken kenapa?" tanya Cecilia yang kini sudah berada di dekat Alice.


"Dia hanya bertanya mengenai kue yang sudah aku susun saja," jawab Alice yang mengatakan kebenaran tanpa ada yang dia tambahkan


"Katanya sih sudah bagus, tapi aku tidak tahu apakah dia jujur atau bohong."timpal Alice.

__ADS_1


Sesaat Cecilia melihat ke arah kue yang sudah ditata dengan sangat rapi, dan kali ini dia setuju dengan apa yang Ken katakan, semuanya tersusun dengan sangat rapi dan tidak ada kekurangan sedikit pun.


"Pak Ken berbicara jujur, dan aku pun sepakat dengannya! Lagi pula, kamu kan tidak suka dikasihani, jadi kami pasti akan berkata jujur!" kata Cecilia sambil tersenyum meski Alice tidak mengetahuinya.


__ADS_2