Gadis Kecilku Yang Baik Hati

Gadis Kecilku Yang Baik Hati
Bab 11: Toilet


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Chelsea mencuci kedua tangan nya, mengelap dengan tisu, lalu keluar.


Langkah nya terhenti di depan pintu toilet. Toilet wanita dan pria bersampingan. Bersamaan dia keluar, El juga keluar pandangan mereka tak ada sengaja bertemu.


El berjalan menghampiri nya, kebetulan atau bagaimana toilet sepi. Chelsea yang gugup El mendekati nya meremas kuat ujung baju nya.


"Apa kabar? apa kau masih mengingat ku?" bisik El tepat di telinga Chelsea.


"Baik, Kak. Saya harus pergi sekarang," ucap Chelsea bergegas pergi, tapi tangan nya di tahan El.


"Kenapa buru-buru? kita baru bertemu lagi setelah sekian lama, apa kau tidak mau melepas rindu?" tanya El. Dia menarik Chelsea masuk ke dalam toilet pria dan mengunci pintu.


"Apa yang kakak lakukan?" takut Chelsea kini tubuh nya terhimpit di dinding tembok.


"Entah ini pertemuan sengaja atau tidak saya tidak tau. Yang saya tau gadis kecil seperti mu unik," ucap El tangannya terangkat membelai pipi Chelsea yang sudah lama tidak dia sentuh.


"Kak saya harus pergi, sahabat saya akan mencari saya nanti," kata Chelsea makin gugup. El begitu dalam menatap nya.


"Teman mu tidak akan masuk ke toilet pria, kau tenang saja," sahut El.


Hmmpt....


El membungkam bibir Chelsea yang sudah lama tidak di cicipi. Rasanya masih manis sama seperti dulu pertama kali dia lakukan.


Lum**** El masih sama lembut, dia tak pernah bermain kasar pada gadis kecil tersebut.


Chelsea tidak tau kenapa dia selalu tidak berdaya dengan keadaan seperti ini. Tubuh nya begitu menikmati. Dia memejamkan mata mencoba tenang. El suka hal seperti ini Chelsea tidak pernah menolak ciuman nya.


El memperdalam ciuman, lidah nya menari-nari di dalam. Tubuh Chelsea berdesir hebat, tangan El terulur ke bawah mer**** gunung kembar nya. Br* berhasil di lepaskan. Chelsea perlahan membuka mata dan saat itu mata mereka bertemu, El menatap dalam kedua bola mata gadis kecil yang di cumbu.


"Kau begitu menikmati, apa kau melakukan selama kita berada di sini?" tanya El, melepaskan ciumannya, mengelus bibir Chelsea lembut.


"Tidak Kak, saya tidak bisa," tolak Chelsea, dia tak pernah berpikir melakukan hal ini di usia nya masih 17 memasuki 18 tahun.

__ADS_1


"Apa kau yakin? saya tidak memberi dua kali penawaran, jadi pikirkan baik-baik," ucap El.


Bibir nya kembali mencumbu tubuh Chelsea.


"Ahhh.... Kak...." Desaah Chelsea. El mengh**** kuat leher nya. Tangan nya juga masih berada di gunung kembar.


El tersenyum kecil, membuat gadis kecil seperti Chelsea menikmati begitu muda.


Tangannya semakin liar, semakin turun dan turun pada area sen**** yang rindukan.


Tubuh Chelsea lemas, El berhasil membuat nya tak berdaya. Sensasi sentuhan El tubuh terasa terkena arus kuat membakar semua energinya.


"Kita bisa mencoba di sini sekarang," ucap El, tangannya mengelus lahan bawah Chelsea.


"Kak... jangan lakukan ini," mohon Chelsea lemas. Keadaan nya makin lemah, bukan karena serangan dadakan El, tapi sejak pagi hingga sekarang dia belum menyentuh makanan.


"Apa tidak mau kau coba dulu?" tanya El memastikan. Chelsea yang selalu memakai rok pendek membuat nya berpikir gadis kecil yang di cumbu adalah gadis nakal jadi tidak masalah untuk nya senang-senang.


Setiap dia menyentuh Chelsea tidak pernah menolak, kalau perempuan baik-baik pasti akan marah dan memaki, tapi Chelsea tidak melakukan itu sama sekali. Dia malah menikmati.


"Aku benar-benar tidak kuat, Tuhan. Kepala ku terasa berat," batin Chelsea.


"Jika kau takut sakit, saya bisa melakukan dengan pelan," ucap El tidak henti mengajak Chelsea melakukan tahap akhir.


"Tidak, lepaskan saya Kak. Kita hanya orang asing yang tak sengaja bertemu. Saya tidak menyalahkan Kakak untuk semua ini, jadi kita sudahi sampai sini," mohon Chelsea suara nya terdengar semakin lemah.


El diam mendengar itu, melepaskan Chelsea. Dia juga tak pernah serius melakukan itu, jika serius pun dia akan buang luar, bukan dalam.


"Baiklah. Kalau itu mu gadis kecil, kita sudahi semua di sini, saya akan menganggap semua tidak pernah terjadi," ucap El pergi meninggalkan Chelsea.


Kepergian El, Chelsea jatuh terduduk, hati nya sakit mendengar El berkata seperti itu. Dia tidak tau setiap mendengar El berkata itu dia merasa dada nya sesak.


"Tuhan, kenapa rasa nya sesakit ini?" sedih Chelsea memengang dada nya.


...----------------...


Bruk...

__ADS_1


"Nona, maaf saya tidak sengaja," takut pelayan tidak sengaja menabrak dan menumpahkan sup panas di pakaian nya.


Di seberang sana semua mata pengunjung mengarah pada kejadian tersebut.


Ria dan Aiden melihat itu terkejut, cepat beranjak menghampiri.


"Chelsea, pakaian mu basah, ini sangat panas. Bagaimana bisa terjadi?" khawatir Ria beralih pada pelayan wanita.


"Kau tidak punya mata? lihat apa yang kau lakukan sekarang?" marah Ria.


"Sudah Ra, tidak apa-apa, pelayan nya sudah minta maaf, ini juga salah ku tidak lihat jadi tabrak," Chelsea menenangkan Ria tidak perlu di besarkan.


"Tidak bisa, lihat pakaian mu basah, dan sup ini juga sangat panas," ucap Ria tidak terima.


Chelsea yang sudah lemah sejak tadi, berusaha kuat, kepala nya semakin berat seperti terkena pukulan.


"Kepalaku," batin Chelsea, pandangan nya mulai pudar.


"Ra, keributan tak akan menyelesaikan apapun. Mbak pergi saja, saya tidak apa-apa," ucap Chelsea. Wajah pelayan tersebut begitu takut, dia tidak tega membiarkan Ria terus memarahi.


"Chelsea, kau terlalu baik ini tidak baik untuk dirimu. Jika begini terus orang di luar sana yang tidak mengenal mu akan salah menilai mu. Please sekali saja marah pada orang yang berbuat salah padamu jangan membalas dengan kebaikan, mereka akan kembali melakukan hal yang sama," marah Ria menasehati Chelsea untuk sesekali bisa menempatkan posisi dimana harus berada.


"Untuk apa Ra? marah tidak menyelesaikan apapun, jika orang menilai ku buruk tidak apa-apa itu hak mereka, aku tidak bisa memaksa mereka menilai ku baik. Semua orang memiliki pemikiran masing-masing," ucap Chelsea. Aiden diam mendengar itu kagum dengan pemikiran Chelsea.


Gadis sekecil Chelsea sudah begitu dewasa dalam bertutur kata. Dia yakin orang tua nya pasti bangga, berhasil mendidik Chelsea seperti sekarang.


Di seberang sana tidak jauh dari tempat kejadian itu, seorang pria melihat detail kejadian, tidak percaya dengan semua yang di dengar. Ada perasaan bersalah di hati sudah berpikir negatif. Dia tau sekarang kenapa tidak pernah melihat itu.


"Kau selalu saja seperti ini, bagaimana kalau ada pria nakal di luar sana menjahati mu?" marah Ria pusing bagaimana cara membuka jalan pikir Chelsea.


"Aku akan mati setelah mereka merenggut itu


... " Chelsea tak melanjutkan, memengang kepala, pandangan nya perlahan makin gelap dan terjatuh.


Gedebuk!


"Chelsea!"

__ADS_1


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2