
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
"Ya, aku juga tidak mau menjadi salah satu boneka nya, Ra. Sekarang lupakan pria itu, kita fokus pada urusan kita, ayo," ajak Chelsea tidak mau akan hal itu terjadi.
Sekarang dia belum memikirkan tentang percintaan, baginya itu hanya membuat semua makin runyam. Chelsea ingin menyelesaikan kuliah dan melanjutkan S2, tentu dengan bantuan beasiswa lagi.
Pikirnya terus belajar lebih menyenangkan, menikmati hidup seperti ini.
"Kau benar, lebih baik melupakan playboy itu. Tapi jika aku ketemu lagi aset nya akan ku potong," serius Ria dan Chelsea mendengar itu bergidik ngeri.
"Ra, jangan bicara seperti itu. Kau sudah seperti psikopat, tau. Menakutkan," ucap Chelsea bulu kuduk nya naik semua.
"Hehehe... maaf membuat mu takut, habis nya aku kesal bawaan nya melihat pria seperti itu," ungkap Ria baru menyadarkan Chelsea wanita penakut mendengar sesuatu yang berbahaya.
"Tidak masalah, aku mengerti," sahut Chelsea.
"Ya sudah, ayo kita beberes," ajak Ria tidak mau membuang waktu lagi membicarakan pria tak berguna seperti Dariel sang playboy buntung.
Selama packing, Ria terus berbicara mengenai keberadaan mereka selama 10 hari di Negara B.
"Kurang tau sih, tapi yang ku dengar dua juri nya dari negara kita," ucap Chelsea tidak tau, karena dia hanya mendengar itu dari dosen pembimbing mengatakan.
"Semoga saja kedua juri itu orang baik, jadi langsung memilih kita penenang nya," sahut Ria, hal itu membuat Chelsea memutar bola mata malas. Dia bingung Ria pintar sama dengan nya, tapi kenapa bersikap seperti orang bodoh.
"Kau terlalu banyak omong Ra, mending cepat selesaikan. Aku mau hubungi Mama ku," ucap Chelsea meriah ponsel di meja belajar dan segera menghubungi.
__ADS_1
Panggilan pertama masuk, tapi tak ada jawabannya, kedua dan seterusnya nya sama tidak di jawab.
Chelsea pun memutuskan untuk tidak lagi menghubungi Mamanya, mungkin saat ini sedang sibuk jadi tidak bisa mengangkat panggilan, dia beralih pada Papa nya dan hal itu kembali terjadi sama dengan panggilan Mama nya tidak di jawab.
Chelsea tidak lagi menghubungi nya, melainkan mengirim pesan pada kedua orang tuanya. Dia memaklumi mungkin saat ini mereka sedang berada di keadaan yang tidak bisa menerima panggilan.
"Gak jadi nelpon? apa panggilan nya gak di angkat lagi?" tanya Ria melihat wajah Chelsea tersenyum dia sudah bisa menebak hal apa yang terjadi.
"Hmmm, mungkin mereka sedang sibuk gapapa, aku sudah mengirim pesan," jawab Chelsea meletakkan ponsel di meja dan duduk di kursi.
"Kau begitu sabar Ce, aku jadi kau sudah protes di perlakukan seperti ini," ucap Ria bingung orang tua seperti apa yang di miliki Chelsea.
Sejak berteman dengan Chelsea dari SD hingga sekarang dia tidak pernah bertemu dengan kedua orang tua Chelsea. Entah kenapa Ria merasa orang tua Chelsea sangat sibuk, tidak ada waktu santai bersama Chelsea.
Dan, anehnya Chelsea tak pernah keberatan, wanita itu seolah tidak mementingkan semua nya yang di alami.
"Untuk apa protes? ini bukan masalah besar Ra. Aku biasa saja, lagian kehidupan tak hanya memikirkan satu orang yang harus di prioritaskan, banyak orang yang harus di pikirkan. Kita sebagai manusia tidak boleh egois, biarkan semua seperti air yang mengalir," bijak Chelsea. Ria mendengar itu terharu, sudah mendapat perlakuan seperti ini Chelsea tidak pernah kecewa dan marah pada orang tuanya.
"Kenapa? apa ada yang salah dengan perkataan ku?" tanya Chelsea, Ria terus menatap nya sejak dia selesai berbicara.
"Tidak, aku hanya kagum padamu. Aku berdoa kau bisa menemukan seseorang yang tulus padamu dan memberi kebahagiaan yang seharusnya kau dapatkan, karena kau wanita baik," jawab Ria jujur.
"Hahaha... aku sudah mendapatkan kebahagiaan ku Ra, kau berbicara seperti ini seolah aku hidup tidak bahagia. Ingat semua proses kehidupan yang ku jalani aku menyukai dan aku nikmati, tidak ada penyesalan jadi tidak perlu mencemaskan ku," terang Chelsea tidak mau Ria terlalu berlebihan memikirkan nya. Dia bahagia sekarang.
"Kau selalu seperti ini Ce, dasar menyebalkan," Ria melempar boneka kecil hello kitty pada Chelsea, namun segera tangkap.
"Sudah Ra. Selesai beberes mu, aku sangat lapar," ucap Chelsea mengelus perut nya.
__ADS_1
"Ck, makanya belajar masak jangan cuman belajar komputer dan buku," sindir Ria bingung, Chelsea mandiri tapi tidak tau masak selain memasak mie.
"Ya nanti kalau sempat aku akan belajar dari mu. Sekarang cepat selesaikan, kalau kau tidak mau memasak hari ini kita cari makan di luar," ucap Chelsea.
"Tidak perlu, aku akan memasak. Persediaan kita masih ada, sayang kalau gak di apain, besok kita sudah pergi masa harus di buang," sahut Ria mengingat persediaan bahan masakan mereka masih ada.
"Bagus, jadi tunggu apa lagi buruan masak, beberes mu biar aku yang lanjutkan," usir Chelsea sudah tidak tahan.
"Ya, baiklah. Aku juga sudah lapar sekarang," sahut Ria bangkit keluar kamar menuju dapur umum.
Di asrama hanya ada satu dapur dan itu di gunakan semua para penghuni asrama. Syukur nya kompor gas cukup banyak sekitar 10 jadi mereka tidak perlu menunggu terlalu lama jika ada yang memasak, bisa menggunakan kompor gas yang lain.
"Masak, Ra?" tanya salah satu wanita yang berada di dapur juga sedang masak.
"Iya Kak," jawab Ria. Wanita yang bertanya padanya adalah kakak semester di tempat kuliah nya.
"Sendiri saja, mana Chelsea?" tanya nya, biasa Chelsea selalu menemanimu Ria memasak meski tak membantu.
"Lagi di kamar, beberes barang," jawab Ria.
"Jadi kalian benar yang kepilih untuk lomba mewakili kampus?" kaget nya berarti berita yang beredar benar. Mahasiswa baru di beri kepercayaan begitu besar mewakili kampus, biasanya lomba seperti ini hanya di wakili semester tinggi, karena kemampuan yang sudah berpengalaman tentu nya, dan juga ilmu pengetahuan yang lebih. Bukan semester awal yang belum memiliki pengalaman apapun.
Tanpa semua ketahui Chelsea dan Ria sudah banyak mengikuti lomba, meski kadang tidak mendapat juara pertama setidaknya masuk jajaran 3 besar.
"Memang nya kenapa? apa ada masalah kalau kita yang mewakili? ekspresi Kakak seperti kaget begitu, apa karena kita semester awal jadi takut kita mempermalukan nama kampus?" tanya Ria tidak suka ekspresi wanita yang berbicara dengan nya seperti sedang meremehkan kemampuan nya saja.
"Bisa di kata seperti itu, kalian masih bau anak SMA, belum cukup pandai mengikuti lomba besar seperti ini. Kita saja yang semester tinggi tidak berani, karena kita sadar diri, jika kalah nama kampus jadi buruk. Tapi lihat kalian baru masuk sudah mau merusak citra kampus."
__ADS_1
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...