
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
"Chelsea!" teriak Ria kaget. Chelsea ambruk di hadapan nya.
"Apa yang terjadi dengan nya?" tanya Aiden khawatir melihat gadis kecil tak berdaya.
"Saya tidak tau Kak, tapi... astaga saya baru ingat, Chelsea belum sarapan dari pagi, Kak," Ria menepuk jidat nya, lupa kalau Chelsea terbiasa makan tepat waktu, terlambat sedikit asam lambung akan cepat naik.
"Ya sudah kita bawa ke kamar saja, nanti saya akan menghubungi dokter kemari periksa keadaan Chelsea," ucap Aiden saat ingin menggendong Chelsea, seseorang mencegah.
"Biar saya saja," El langsung menggendong Chelsea.
Aiden melihat sikap aneh El perhatian pada Chelsea mengerut kening, bingung. Dia sudah merasa antara mereka berdua ada sesuatu.
Berbeda dengan Ria, dia penasaran ada hubungan apa Chelsea dengan El.
"Di mana kamarnya?" tanya El menoleh pada Ria.
"Di No 015, Kak," jawab Ria cepat.
Aiden mengikuti dari belakang, dia sudah menghubungi dokter dan mungkin sebentar lagi akan tiba.
Setiba di kamar, El membaringkan Chelsea di kasur dengan lembut.
"Belikan bubur di bawa, agar sadar nanti dia bisa langsung makan," ucap El tanpa menoleh, dia menyelimuti tubuh Chelsea.
"Baik Kak. Saya titip Chelsea, sebentar," sahut Ria.
"Saya ikut, sekalian tunggu dokter di bawah," seru Aiden.
Kepergian mereka, El menatap wajah Chelsea dia merasa bersalah sudah berpikir buruk mengenai. Dia tidak menyangka gadis kecil yang sedang berbaring sudah dewasa dalam berpikir.
Dua kali melakukan hal gila pada gadis kecil, dia seperti pria bejat. Bagaimana bisa menikmati tubuh perempuan yang tak di kenal setiap mereka bertemu.
"Maafkan saya. Hari ini saya baru tau, kenapa tidak kau kasih tau dari awal? kalau saya tau semua tidak akan seperti ini," menyesal El, tangannya mengelus pipi Chelsea.
"Kau gadis kecil yang baik, orang tuamu pasti bahagia sudah berhasil mendidik anaknya menjadi perempuan baik penuh ketulusan di hati. Saya janji hari ini akan menjaga mu."
Tak berapa lama dokter datang. Dan segera periksa keadaan Chelsea.
"Bagaimana dok? keadaan sahabat saya tidak ada yang serius, kan?" tanya Ria setelah Dokter selesai periksa.
"Semua baik-baik saja, hanya perlu di perhatikan makan nya, jangan telat atau kembali drop," jawab dokter.
__ADS_1
"Ini resep obat nya, bisa di beli di apotek terdekat, berikan setelah makan," lanjut Dokter.
"Terimakasih Dok," ucap Ria lega tidak ada yang serius pada Chelsea.
"Iyaa, sama-sama kalau begitu saya permisi," pamit Dokter.
"Biar saya antar Dok, sekalian juga mau keluar tebus obat, ayo Ra," ajak Aiden melirik El merawat Chelsea.
Ria yang mengerti kode Aiden pun menurut, membiarkan mereka berdua.
"Ayo. Kak, saya titip lagi Chelsea nya, tolong jagain," ucap Ria.
"Tanpa kau suruh saya akan menjaga Chelsea," sahut El. Ria mendengar itu melongo tidak percaya, sama hal dengan Aiden.
"Ya, jangan kau apain dia, awas kalau berani," ancam Ria memperingati El tidak berbuat aneh pada Chelsea saat mereka pergi.
"Sudah, Ria. Ayo pergi," ajak Aiden menarik tangan Ria segera pergi.
Aiden yakin hubungan El dan Chelsea sudah dekat, bukti nya ada banyak banyak merah di leher Chelsea, itu bukan bekas gigitan nyamuk atau apapun jenis hewan, karena dia mengerti arti tanda Itu.
Aiden tidak mau Ria menganggu waktu berdua mereka, biarkan El menjaga Chelsea.
El, duduk di samping memengang tangan Chelsea, sudah satu jam pingsan belum sadar juga.
"Kau sudah bangun?" senang El melihat Chelsea tersadar.
"Apa yang terjadi pada saya? kenapa kakak bisa berada di sini?" tanya Chelsea takut. El menyadari itu mengelus pipi Chelsea.
"Kau tadi pingsan. Jangan khawatir saya tidak akan melakukan hal itu, maafkan saya sudah lancang," tulus El minta maaf.
"Tidak apa-apa saya sudah memaafkan, jadi tidak perlu minta maaf," ucap Chelsea tidak pernah membenci El. Dia sadar juga melakukan kesalahan, karena tidak bisa menolak.
"Dimana Ria dan Kak Aiden?" tanya Chelsea mengingat terakhir kali bersama mereka sebelum tidak ingat apapun lagi.
"Mereka sedang ke apotek menebus obat, sekarang kau makan dulu, nanti obat nya datang langsung minum obat," jawab El, mengambil bubur masih sedikit hangat dan menyuapi Chelsea.
"Terimakasih," ucap Chelsea menerima suapan bubur masuk ke mulut nya.
"Tidak perlu terimakasih, habiskan makanan biar cepat pulih. Besok kegiatan kalian akan padat, jadi jangan telat makan lagi," El mengingatkan Chelsea tidak mengulangi lagi.
"Iya, Kak. Saya tidak akan telat makan lagi," ucap Chelsea.
"Bagus, besok sebelum materi di mulai saya akan kemari," seru El.
"Untuk apa Kak?" tanya Chelsea bingung.
__ADS_1
"Kita akan makan bersama. Mana ponsel mu?"
"Di tas sepertinya."
"Tas nya di mana sekarang?"
"Itu yang hitam, emangnya ada apa Kak?"
Aiden tidak menjawab, dia beranjak pergi membuka tas Chelsea mencari ponsel.
"Apa sandi ponsel?" tanya El, berjalan mendekat Chelsea.
"192735," jawab Chelsea. El memasuki sandi itu pada ponsel dan layar tampilan menu kini terbuka.
"Saya sudah menyimpan nomor mu di sini sebaliknya dengan saya," ucap El, dan Chelsea mengangguk mengerti, El mencari ponsel nya hanya untuk save nomor.
Chelsea tak mengerti dengan semua yang terjadi pada El, mendadak sikap pria tersebut berubah menjadi lembut padanya.
Dia pun mengingat perkataan minta maaf tadi, entah kenapa dia baru menyadari hal itu lagi, permintaan maaf untuk hal apa yang di maksud El, dia tak mengerti.
Chelsea masih menatap penuh pertanyaan di benaknya.
"Ada apa?" tanya El lembut pada gadis kecil yang terus menatap nya.
"Tidak, apa-apa Kak. Boleh saya tanya sesuatu?" tanya Chelsea ragu.
"Apa yang ingin kau tanyakan? katakan saja," lembut El mengelus pipi Chelsea, ada rasa bersalah sudah mencumbu gadis kecil yang ternyata baik tidak seperti pikiran nya.
"Apa yang membuat Kak El berubah seperti ini pada saya? apa kakak berencana melakukan lagi? saya mohon jangan Kak, saya tidak bisa, tubuh saya memang menikmati, tapi otak saya menolak. Mengerti lah," ungkap Chelsea, El mendengar itu wajah Chelsea terlihat jujur tersenyum kecil gadis kecil di depan nya seharusnya dia lindungi bukan sakiti.
Cup.
El mengecup lembut kening Chelsea sedikit lama.
"Tidak perlu seperti ini, saya janji tidak akan melakukan hal seperti itu. Saya akan melindungi mu mulai hari ini," ucap El, menatap serius Chelsea.
"Tapi kenapa mendadak melakukan ini?" tanya Chelsea bingung.
"Itu karena kau gadis kecil yang baik, bukan gadis nakal," batin El.
"Tidak perlu tau, yang harus kau tau saya akan selalu bersama mu," jawab El. Pipi Chelsea begitu lembut, hingga dia terus mengelus seperti akan menjadi kebiasaan dari hari ini.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
__ADS_1