Gadis Pilihan Mommy

Gadis Pilihan Mommy
minta maaf


__ADS_3

Kedua pengantin baru itu segera bergegas masuk kedalam rumah,diperjalan tadi Mommy Dina tak henti hentinya menelpon menanyakan keberadaan kedua anak dan menantu kesayangannya.


"assalam alaikum Mom"


"walaikum salam sayangnya mommy" Dina menyambut Ramia dengan pelukan.


tanpa sepatah katapun Bian lalu naik keatas menuju kamarnya ,ia enggan menyapa atau sedikit basa basi dengan mommy dan istrinya itu,perasaanya kacau balau .kejadian semalam sangat menguras emosi dan pikirannya,melihat itu Sean menyusul mengkuti Bian naik keatas membawakan koper milik istri tuanya itu.


"kamu istirahat sana,kamar Bian ada di atas.makan siang nanti mommy akan memanggilmu" setelah berucap dina segera kedapur untuk membantu Bi sarah.ia akan memasak makanan spesial hari ini untuk menyambut kedatangan menantunya itu.


Ramia yang kebingungan mencari kamar suaminya hanya bisa menatap beberapa pintu yang masih tertutup rapat. jika saja tidak melihat sean, ia tidak akan tau dimana kamar suaminya.


"nona cari siapa" tanya sean,ia mengikuti arah pandangan ramia yang seperti kebingungan.sean tersenyum.


"dimana kamarku tuan"


"nona jangan panggil saya tuan,panggil nama saja seperti tuan Bian memanggil saya" sean merasa tidak pantas dengan sebutan itu.apalagi didepannya ini istri bossnya.


"hmm aku tidak bisa, tuan kan lebih tua dari saya"


"tapi,jangan panggil saya tuan"


"bagaimana kalau kakak saja?" tanya ramia


"boleh" sean tersenyum. sebenarnya ia sangat bahagia ada yang memanggilnya kakak lagi.karena beberapa tahun ini hidupnya sangat kehilangan sosok yang ia anggap paling penting dalam hidupnya itu.


"kak sean dimana kamarku" ramia menunduk malu.


sean segera menunjukan kamar dimana ia keluar tadi.


"terima kasih kak" senyuman manis ramia mampu menghipnotis pandangan sean.baru kali ini ia melihat senyuman manis dari gadis yang pertama ia temui ditoko bunga.


"iyah,saya permisi nona" sean menunduk lalu meninggalkan ramia sendiri didepan pintu.


tangan ramia terangkat ingin mengetuk pintu yang ada dihadapannya,namun ia urungkan.keberanian nya menciut membayangkan perlakuan kasar Bian saat dihotel itu.


jantungnya berdetak semakin kencang,bayangan amarah Bian selalu terlintas dipikirannya.


"huhh bagaimana ini" batin ramia.ia membuang napasnya kasar.


setelah berhasil mengumpulkan keberanianya ramia memegang gagang pintu sambil menutup kedua matanya.


"klekk" pintu terbuka.pandangan ramia tertuju di sofa samping tempat tidur,tatapannya bertemu dengan lelaki yang ia takuti itu.wajahnya kembali menunduk ,dia tidak sanggup menatap nya lebih lama.


"masuk" perintah Bian.suara terdengar datar dan menakutkan.


Ramia menutup kembali pintunya lalu maju beberapa langkah.tangannya memegang ujung bajunya untuk menetralkan sedikit kegugupannya.


"lihat aku,jangan menunduk" ucap Bian dengan penuh penekanan.

__ADS_1


mendengar suaranya saja ia sudah merasa takut apalagi menatap wajahnya.


"dengar tidak.aku sangat tidak menyukai orang yang mengabaikannku" Bian melemparkan pulpen tepat diwajah ramia


Ramia kaget,seketika wajahnya terangkat dan menatap Bian dengan air mata yang sudah lolos begitu saja.


Bian maju memegang dagu ramia dan sedikit menekannya.


"aku tidak mau mommy mendengar tangisanmu" ancam nya,lalu melepaskan tanganya diwajah ramia dengan kasar.


"apa salahku" ramia memegang pipinya yang masih sakit akibat perlakuan bian semalam ditambah lagi hari ini.


"jangan pura pura bodoh.aku tau kau menghasut mommy dengan wajah polosmu itu untuk menikahkanmu denganku kan?" Bian melipat kedua tangannya melihat kearah jendela.


mobil sean baru saja keluar dari halaman rumahnya,ia berharap sean segera menemukan apa yang dia perintahkan hari ini juga.


"tapi aku tidak menghasut mommy.mommy sendiri yang memintaku" jawabnya pelan.


"haaha hhaa, kamu pikir aku tidak tau.banyak wanita wanita murahan diluar sana yang menggunakan trik menjijikan sepertimu"


"sa saya tidak tau maksud tuan"


"cihh tidak usah berpura pura jadi gadis yang sok polos.menjijikan" Bian berbalik menatap ramia yang berdiri kaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya.


"aku juga punya kebahagiaan bersama orang yang kucintai,tapi semua itu percuma" Bian mengacak rambutnya lalu duduk disofa dengan menundukkan kepala.wajahnya memerah menahan emosi yang begitu meluap luap,kalau saja bukan dirumah mommy dia akan melakukkan apapun yang membuatnya puas bahkan menyiksanya.


Merasa bosan Bian keluar dari kamar meninggalkan ramia sendirian yang masih berada ditempatnya ia berdiri tadi tak ada pergerakan sedikitpun.


Bian kemuar dari kamar dan mulai menuruni tangga,ia sudah bisa melihat mommynya,Bi sarah dan lainnya sibuk mondar mandir dan membuat Bian sakit kepala.


ia menuju kehalaman rumah untuk menenangkan pikirannya sekalian menelpon sean. belum ia sampai kepintu utama Bian menghentikan langkahnya,terdengar suara mommy Dina yang memanggil namanya.


"Bian" iapun menoleh.membuang napasnya pelan.


"mau kemana nak,temani istrimu" Dina mengikuti langkah Bian menuju keteras rumahnya.


"mom,aku butuh waktu" ucap bian lemah


"lupakan dia" tegas Dina.ia menatap tajam Bian


mendengar ucapan mommynya,Bian segera memalingkan wajahnya menatap balik wajah mommynya.


"tidak semudah itu mom.lima tahun bukan waktu yang singkat untuk melupakan seseorang hanya dalam satu hari" tegasnya


"dia tidak pantas untukmu Bian" wajah Dina mulai memerah.


"mom,tenanglah" Bian meraih tangan mommy Dian ia berusaha menenangkannya.


Bian menghela napas dalam lalu membuanya pelan. ia ingin memberitahu mommy tentang rencananya yang sudah ia pikirkan sejak semalam.

__ADS_1


"mom kami akan pindah.sean baru saja mengirimkanku pesan,dia sudah mendapatkan rumahnya,kami akan tinggal disana" ucap Bian


mendengar itu Dina mengerutkan keningnya lalu menggelengkan kepalanya. ia tidak ingin jauh dari anaknya,cukup selama ini ia kesepian dan merindukan sosok anak perempuan yang telah pergi dari kehidupannya untuk selama lamanya. apalagi Bian sebulan sekali ia tak pulang dan lebih memilih tinggal diapartemenya atau bersama clarissa.


baru saja impian nya akan jadi kenyataan untuk tinggal bersama anak dan menantunya tapi justru mereka akan meninggalkannya lagi.


Dina menggelengkan kepalanya.


"mom,ini waktu yang tepat buat kami untuk mengenal satu sama lain.kalau kami tinggal berdua banyak peluang untuk kami bersama,dan kalau disini pastinya mommy tidak akan memberiku waktu bersamanya kan" ucap bian cemberut.


"tapi,kenapa buru buru.kan bisa seminggu disini atau sebulan" Dina merajuk


"mom,lebih cepat lebih baik.kan mommy bisa datang kerumah kami kalau mommy rindu aku dan juga...." ucapan Bian terputus,ia berusaha mengingat nama istrinya.hanya satu kali ia menyebut nama istrinya itu,disaat ia melakukan ijab kabul namun sudah dilupakan nya.


"Ramia" sambung mommy Dina.


"bisa bisanya nama istri sendiri tidak tau" kesal Dina,ia mencubit lengan Bian.


Bian hanya tersenyum kaku.


"oke,mommy ijinkan kalian pindah asalkan seminggu sekali mommy kerumah kalian"


"tidak mom" sergah bian.


mendengar itu Dina yang hendak berdiri meninggalkan bian terhenti tiba tiba menatap bingung jawaban Bian yang menolaknya.


"ma maksud aku mom.aku tidak mau mommy cape,kan harus kebutik lalu kerumah kami,dan aku tidak mau mommy sakit,nanti seminggu sekali aku dan ra Ramiaa akan datang kerumah menjenguk mommy" jelas Bian panjang lebar untuk meyakinkan mommynya.


"iyah,mommy tau.kamu sangat menghawatirkan mommy" Dita sangat bahagia,walaupun beberapa tahun belakangan ia jarang mengobrol dengan anak kesayangannya itu,ia yakin Bian sangat menyayanginya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


like dan komen nya yah 😉

__ADS_1


__ADS_2