
sudah berkali kali bahkan hampir puluhan kali sean mencoba menghubungi Bian namun itu sia sia saja.entah dimana kepergian Bian saat ini sean tidak tau,bahkan ia pun tidak mengetahui kondisi istrinya saat ini.
"heyy...ramia sadarlah" sean berusaha menepuk pipi gadis dihadapanya itu yang tak berdaya sama sekali.dahinya terluka dan sedikit mengeluarkan darah akibat terbentur disisi ranjang.
ia harus apa,tidak mungkin dirinya menghubungi mommy Dina yang ada pasti akan terjadi masalah besar.sean tidak mau membuat mommy Dina khawatir.
"mia ,bangunlah" sean berusaha menyadarkan nya.ia bergegas mencari minyak kayu putih untuk dioleskannya ke hidung ramia,berharap ramia secepatnya sadar.
beberapa menit kemudian akhirnya ramia sadar,ia merintih kesakitan dan memegang kepalanya yang pusing.
ia berusa mengumpulkan kesadarannya dan melihat sekitar.
"kak sean,ada apa denganku" ramia berusaha bangun,ia merasa tidak enak berdua dengan sean apalagi ini dikamar bian,kalau saja bian tau pasti ia akan marah dan ramia tidak mau itu terjadi.
"mari kakak bantu" sean membantu ramia untuk mencari posisi duduk yang nyaman.
"kak tolong bantu aku kebawah,aku sedikit kesusahan untuk berjalan" dengan sekuat tenaga ramia berdiri dan memijakkan kakinya yang memar untuk berusaha berjalan namun kekuatannya begitu sangat lemah.
"ada apa ni mia ,apa yang terjadi" ucap sean dengan nada sedikit meninggi dan khawatir.
"tidak apa apa kak,aku tidak berhati hati tadi saat menaiki tangga dengan membawa koper keatas" ramia sambil tersenyum,ia berusaha tenang agar sean tidak curiga padanya dengan apa yang terjadi.
setelah sampai kelantai bawah sean membawa ramia duduk disofa,ia kemudian pergi mencari kotak p3k untuk mengobati luka memar ramia. sean sedikit curiga dengan tidak adanya bian dirumah,dikantorpun ia tidak menemukannya bahkan handphon nya sejak tadi tidak terus terhubung.
"kemana bian,bahkan aku tidak bisa menghubunginya" tanya sean,berharap ramia tau dimana keberadaan bian saat ini.
asisten sean sedari tadi menelpon,klien sudah menunggu di ruang rapat kantornya.
"mia tidak tau kak" balas nya.
"baiklah aku pergi dulu,jaga kesehatanmu dan jangan terlalu cape" pamit sean.
ia pun keluar dari rumah dan segera menuju kemobilnya.
baru saja sean akan keluar dari halaman rumah dan akan masuk mobil tiba tiba mobil Bian datang .ia bisa melihat ada seseorang bersama bian didalam mobil tersebut .
Bian turun,ia menoleh sebentar kearah sean lalu berpamitan pada seseorang didalam mobil tersebut.melihat itu sean segera masuk menyusul bian kedalam ia melirik sekilas siapa yang ada didalam mobil itu,namun karena terburu buru ia tidak terlalu jelas melihatnya.
"tuan tunggu" panggil sean.
"ada apa lagi" ucap bian dengan sedikit kasar.
__ADS_1
"hari ini ada rapat penting dan klien kita dari luar negeri sudah ada ada dikantor dan katanya mereka harus bertemu dengan tuan" ucap sean sambil mengikuti langkah kaki bian.
" batalkan semua nya,hari ini aku akan keluar negeri menemani clarissa.ia ada pemotretan selama tiga hari " Bian kemudian berjalan ke walk in closet untuk berganti pakayan disana.
mendengar itu sean terdiam,tidak biasanya bian seperti ini. baru kali ini ia mengabaikan rapat penting,yang dia tau clarissa selalu mengajak bian keluar negeri bersamanya namun bian selalu menolak dan lebih mementingkan pekerjaan nya.
"tuan masih berhubungan dengan gadis itu? bukan nya tuan sudah menikah dengan nona ramia" sean berusaha mengingatkan nya dengan statusnya yang sekarang.
"sudah lah sean kamu selalu ikut campur urusanku.minggir" bian sengaja menyenggol bahu sean.
"bian tunggu" sean mendekat dan menarik kerah baju bian.
Bian menatap sean denga wajah yang sudah memerah,amarahnya semakin memuncak.
sean pun tidak mau kalah ia juga menatap bian dengan tatapan membunuh.
menurutnya kali ini bian sudah sangat keterlaluan.ia menghargai bian karena bian adalah atasannya dan sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
waktu berumur sepuluh tahun ayah sean yang merupakan supir pribadi daddy dari bian membawa sean ke rumah majikannya. hari itu sean baru saja kehilangan ibunya dan ayahnya tidak tau harus membawa sean kemana apalagi setiap hari ayah sean harus bekerja.
sean akhirnya tumbuh besar dirumah tersebut,kasih sayang nyonya dina dan suaminya sangat begitu tulus,mereka tidak membedakan atara bian dan sean bahkan mereka menyekolahkan sean disekolah yang sama dengan anaknya bian.
hubungan keduanya pun sangat baik,namun sejak terjadinya sebuah kecelakaan itu yang menewaskan ayah dan adik bian juga ayah sean membuat bian berubah,ia lalu membeci sean dan menuduh ayah sean yang menyebabkan daddy dan adiknya meninggal.
memang tidak mudah bagi bian ,ia kehilangan dua orang sekaligus yang merupakan bagian dari hidupnya itu.
bahkan dulu sebelum kejadian itu bian selalu memanggil sean dengan panggilan kakak. karena sean lebih tua tiga tahun dari bian.
"lepaskan" bian lalu mendorong sean.
"bian,aku tidak menyangka kamu sekasar ini pada perempuan.seharusnya kamu menolak keinginan mommy waktu itu"
"bukan urusanmu" bentak bian lagi.ia berlalu dari hadapan sean,namun sean langsung...
"bughh" ia melayangkan tinjunya tepat diwajah bian.
mendengar ada suara yang mengganggu pendengarannya ramia keluar dari kamarnya dengan sedikit tertatih tatih.kakinya masih terasa sakit.
" kak sean " panggil ramia.
mendengar namanya dipanggil seanpun menoleh.lalu bian dengan mengepalkan tangan dan membalas sean.
__ADS_1
"bugh" sean terjatuh.ramia segera berlari menghampiri sean walaupun kakinya masih terasa nyeri.
melihat itu Bian tertawa puas.
"sama sama pembawa sial" umpat bian.
sean berusah berdiri akan membalas bian lagi namun ramia mencegahnya,sean menoleh melihat ramia menggelengkan kepalanya iapun menurut.
"sudah kak" ucap ramia pelan.
"tidak apa apa" kata sean.
melihat kedua nya bian semakin murka dan tak ingin berlama lama disana.saat bian akan pergi clarissa masuk menyusul bian kedalam.
"Bi kenapa lama sekali aku bosan" clarissa langsung menggandeng tangan bian.
"ayo pergi" ajak bian.
"siapa dia" tunjuk clarissa kearah ramia.
"ayo pergi,tidak usah membuang buang waktu" bian menarik tangan clarissa agar keluar dari rumah itu.
"tunggu Bi,aku tanya siapa dia"nada clarissa sedikit meninggi.
Bian pun hanya diam.
"oh aku tau,dia istrimu itu kan?" clarissa melepaskan tangannya dari pegangan bian lalu maju mendekati ramia,melihat itu bian hanya diam dan membiarkan clarissa.
"cantik sih tapi sayang murahan.penggoda pula." ucap clarissa.ia semakin mendekat.
"stop apa yang kau lakukan" cegah sean.
"minggir" bentak clarissa.ia mendorong tubuh sean dan berjalan semakin dekat kearah ramia.
.
.
.
.
__ADS_1
.
lanjut lagi yah ✌