
Bian masih terus saja menatap punggung ramia dibalik selimut tebalnya itu.entah sudah berapa lama bian disitu ramia belum saja menyadarinya, hingga ia tertidur pulas dalam keadaan menangis.melihat itu bian memberanikan diri memegang kepala ramia lalu dielusnya dengan pelan.
"maaf" guman bian pelan.
tiba tiba ramia terbangun,perutnya terasa lapar dan ia sedikit mual.namun ramia mencoba menghilangkan rasa tidak enak itu dengan berusaha tidur kembali.tapi rasa mualnya tak bisa ia tahan lagi,ramia bangun dan berlari menuju kamar mandi tanpa menghiraukan bian yang ada dikamarnya.
"hoek hoekk" ramia terus saja memuntahkan isi perutnya hingga habis.tenaganya mulai lemas.
Bian yang berdiri didepan pintu hanya bisa melihat ramia tanpa mau mendekatinya,ia bingung harus melakukan apa.beberapa saat kemudian bian melangkahkan kakinya masuk kedalam membantu ramia berdiri dan membawanya kembali ketempat tidur.
ramia hanya menunduk,memikirkan bagaimana Bian bisa masuk kekamarnya.
"apa kau sakit?" tanya bian.
ramia menggeleng pelan.
"aku akan memanggil bi sarah" bian berdiri namun ramia mencegahnya.
ramia tidak ingin merepotkan bi sarah lagi.
"aku...aku hanya lapar" ujar ramia tertunduk.
"lapar?" bian mengerutkan dahinya.tapi setelah melihat kejadian tadi,ia langsung mengerti,bahwa perut nya kosong sekarang.
sedari tadi bian terus saja memerhatikan ramia yang sering mengelus perutnya dan selalu memegang pinggangnya.perasaan bian tak tenang,ia berpikir wanita dihadapannya sedang tidak baik baik saja.beberapa bulan ini,ia selalu melihat perubahan wajah ramia yang begitu berbeda saat pertama kali bertemu dulu.
"kamu ingin apa? biar aku yang mengambilkannya" tawar Bian pada ramia.
"biar aku saja" saat hendak berdiri,Bian mencegah tangan ramia lalu menyuruhnya untuk tetap berada ditempat tidur.
"duduklah biar aku saja"
merasa tidak enak hati,ramia hanya duduk diam dan menunduk tanpa mau menjawab apa yang di katakan bian.ia gugup,baru kali ini selama pernikahannya bian begitu perhatian.
"apa masih sakit?" tanya Bian ingin tahu.
ramiapun hanya menggeleng pelan.
tanpa mereka sadari ada seseorang dibalik pintu yang menyaksikan perhatian bian dengan penuh kemarahan.tangannya mengepal,tak henti henti nya ia mengumpat dalam hati.
"aku akan membuat perhitungan denganmu"batinya.ia lalu pergi menuju kamarnya dengan perasaan kesalnya.
.
.
.
__ADS_1
.
pagi pagi sekali sebelum melakukan aktifitasnya bi sarah pergi kekamar ramia.hari ini adalah jadwal ramia pergi kedokter untuk memeriksakan kandungannya,dan bi sarah akan mengingatkannya lagi.
"mia ingat kan hari ini? tapi bibi belum bisa mengantarmu."ucapnya. seperti biasa ketika akan masuk kekamar ramia,bi sarah tidak lagi mengetuk pintunya,bi sarah akan masuk begitu saja.
"ehh den bian maafkan bibi" ucap bi sarah terbata bata lalu mundur keluar dari kamar itu.
"bibi aku akan keluar,bibi silahkan bangunkan dia" kata bian,ia tersenyum pada bibi sarah lalu keluar dari kamar itu.semalam ia menemani ramia makan dan tau taunya dia ketiduran.
bi sarah mengganguk membalas senyum Bian padanya.
"semoga ini awal dari kebahagianmu" gumam bi sarah pelan.ia lalu membuka tirai jendela kamar ramia untuk membangunkan nya.
rasa sayang nya begitu sangat tulus,bi sarah terus saja memandang wajah ramia yang damai dalam tidurnya itu.kalau saja anaknya tidak meninggal waktu itu pasti ia sudah sebesar ramia sekarang.dulu pernikahan bi sarah tidak berjalan mulus,saat anaknya yang baru lahir meninggal dunia, suaminya juga pergi meninggalkannya entah kemana dan demi membiayai hidupnya bi sarahpun pergi kekota untuk mencari pekerjaan.
"bibi" ucap ramia mengucek matanya yang masih terasa perih.semalam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.beberapa saat ia kembali mengingat tentang kejadian semalam.sekejab ia bangun dan langsung duduk melihat kesamping.tidak ada siapa siapa disana,seingatnya semalam bian di kamar nya dan tertidur di ranjangnya.
bi sarah tersenyum dan duduk disamping ramia yang masih diam ditempat tidur.
"bibi senang melihatmu bersama den bian,ini awal dari kebahagiaanmu"
"bi,mia tidak mau banyak berharap pada siapapun.aku takut akan terluka lagi" kata ramia lalu pergi kekamar mandi.perubahan bian kali ini tidak akan membuatnya tersentuh lagi.
dari luar pintu kamar mandi bi sarah memanggil ramia.
"iyah bi.kak sean yang akan mengantarku nanti" jawab ramia lagi.
Bi sarah lalu keluar dari kamar ramia menuju dapur untuk membuat sarapan.
dimeja makan dina menatap tajam anak satu satunya itu.ia kesal dengan Bian,beberapa kali ia melarang bian untuk tidak mendekati ramia lagi dan segera menceraikannya tapi bian selalu saja menolaknya.
"bian mommy perlu bicara" tatapan mommy dina sangat menakutkan hingga membuat bian tak dapat menolaknya.clarissa pun merinding melihat wajah mommy dina yang menahan amarah.
"hm"
bian berdiri menuju keruang kerjanya dan disusul oleh mommy dina, meninggalkan clarissa sendirian dimeja makan.
"bian harus berapa kali mommy bilang jangan dekati gadis itu lagi,mommy membencinya" ujar mommy dina kesal.namun bian hanya diam saja,membuat amarah momny dina semakin memuncak.
"mommy salah.maafkan mommy dengan cepat menikahkanmu dengannya"
"jadi sekarang mommy minta ceraikan dia,clarissa yang akan jadi menantu mommy satu satunya sesuai permintaanmu dulu" ucap mommy dina lagi.
Bian menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan.tidak mungkin ia akan memnceraikan ramia begitu saja,rasa bersalahnya semakin menyelimuti hatinya.biar bagaimanapun ia harus berganggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya pada ramia.tapi disisi lain dia tidak mau menyakiti hati clarissa dan juga mommynya,kedua wanita yang paling ia sayangi.
"Bian jawab mommy.ceraikan dia atau kau akan kehilangan mommy selama lamanya.!" ancam mommy dina.
__ADS_1
"mom,tenanglah.bian janji tapi tidak sekarang beri bian waktu" setelah itu bian keluar dari ruangannya.
"aku kekantor dulu" Bian mencium kening clarissa lalu pergi kekantor.
mommy dina kembali ke meja makan dan masih ada clarissa disana yang menatap kedatangan mommy dina dengan penuh tanya.
"lihat wanita tua ini,dulu dia membenciku tapi sekarang dia malah sangat memujaku.ckk" batin clarissa.
.
.
kedatangan sean membuat keduanya saling pandang,bukannya kekantor tapi malah kerumah mencari ramia.
"sean untuk apa mencarinya?" tanya mommy dina penasaran.akhir akhir ini ia perhatiakan, sean makin dekat dengan ramia gadis yang dibencinya itu.
sean terdiam,ia tidak tau harus membuat alasan apa untuk meyakinkan mommy dina,agar bisa pergi bersama ramia tanpa ada curiga sedikitpun.
"hmm begini mom,aku ..."
"aku meminta kak sean untuk mengantarku ketoko tempat sahabatku ifa bekerja " ucap ramia memotong perkataan sean.
"iyah mom.ayo mia biar aku antar"kata sean lagi.keduanya segera pergi meninggalkan mommy dina dan juga clarissa.
mommy dina terlihat sangat kesal,menurutnya semakin hari sikap ramia semakin membuatnya naik darah.apalagi kedekatanya dengan sean,ia bisa melihat tatapan sean ke ramia yang tidak seperti biasanya membuatnya semakin curiga.
"mom biarkan saja dia pergi untuk apa mengurusinya" ucap clarissa dengan malas.
"oh iyah cla,hari ini jadwal kontrolmu kerumah sakit kan? biar mommy yang akan mengantarmu"
ucap mommy dina sangat bersemangat,ia menginginkan secepatnya clarissa bisa hamil lagi.moodnya dengan ceoat berubah jika jika meyangkut masalah cucu.
"wanita gila ini selalu saja merepotkanku,tidak bisa kah dia memberiku sehari untuk keluar bersenang senang,aku bosan setiap hari harus bersamanya.aku pikir hari ini dia tidak akan menemaniku,hahh." batin clarissa.ia lalu mengambil handphonnya mengirimkan pesan pada tania.
.
.
.
.
.
.
lanjut yah ✌
__ADS_1