
"hallo Bi,mommy dirumah kalian.sepertinya rumahnya kosong,ramia bersamamu?" tanya mommy Dina dibalik teleponnya.tangannya meraih pintu dan mencoba membukannya dan ternyata pintu tidak dikunci.
"ceroboh sekali mereka,setidaknya mereka harus punya pelayan untuk bisa mengurus dan menjaga rumah ini" gumam mommy dina.ia lalu menuju dapur membuka kotak makanan yang dibawanya dari rumah kemudian memanakannya kembali.
saat hendak mencuci tangannya,kaki mommy dina hampir saja tergelincir.untung saja ia dengan cepat memegang tembok dengan kedua tangannya,pinggang nya terasa sangat nyeri.
"apa ini" mommy dina berjongkok melihat sesuatu cairan berwarna merah yang sudah mengering dengan pecahan beling yang berserakan.
matanya terus saja mengikuti arah dimana tetesan darah tersebut.keningnya mengkerut mencoba memahami kekacauan yang terjadi dirumah itu.
ia berdiri,kakinya terus saja melangkah mengikuti arah matanya melihat darah tersebut berada dan berhenti disebuah pintu.perasaanya kembali tidak tenang,kali ini kekhawatirannya semakin menghantui perasaanya.
sebelum membuka pintu tersebut tangan mommy dina memegang dada nya,ia menarik napas pelan dan dikeluarkan kemulut.
Dan mommy dina membulatkan matanya,ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.darah diruangan itu semakin banyak bahkan belum sempat mengering.
"ada apa ini?" ucap mommy dina.ia kembali berjalan mendekati tempat tidur dan matanya tidak sengaja melihat benda pipih yang terdapat diatas kasur.tangannya meraihnya.
"ini kan ponsel ramia" gumam mommy dina lagi.ia berlari menuju kamar mandi dan membuka pintunya,namun ramia tidak ada disana.
"mia sayang,dimana kamu nak.jangan buat mommy khawatir" mommy dina lalu keluar menuju meja makan untuk mengambil handphone nya lalu menghubungi bian untuk meminta penjelasan.
baru saja ia akan menelpon Bian,orangnya sudah ada dihadapan mommy dina.mendengar nada telepon berbunyi dibelakang nya mommy dina berbalik menatap bian dengan berbagai pertanyaan.iapun mendekat.
"bi,kenapa sih.kakiku pegal,jangan berlari seperti itu" ucap clarissa manja.ia kesal bian dengan tergesa gesa turun dan tanpa membukakan pintu mobil lalu meninggalkannya.
Tatapan dina semakin menajam melihat kedatangan clarissa.dan maju perlahan mendekat kemudian,
"plakk" tampar mommy dina.tangannya gemetar,mukanya pun memerah.
clarissa tersentak kaget,ia membulatkan matannya.ternyata mommy dina ada dirumah itu.
"bian dimana ramia? jelaskan apa yang sudah terjadi dirumah ini? dan dia,kenapa bisa dia ada disini?" ucap mommy dina.ia menunjuk kearah clarissa dengan mata yang melotot,seakan ia ingin memakan clarissa hidup hidup.
"mommy tenangnlah.biar aku jelaskan" jawab clarissa dengan percaya dirinya.
"diamm" teriak mommy dina.
seketika dada mommy dina terasa nyeri,napasnya naik turun tak karuan.tangannya memegang dadanya yang sudah semakin sakit dan akhirnya ia pingsan.
__ADS_1
"mommyyy" teriak bian histeris,ia dengan cepat berlari kearah mommy dina lalu menangkapnya agar tidak terbentur meja.
sepanjang jalan menuju rumah sakit,bian tak henti henti nya meminta maaf pada mommy dina.ia tidak mau kehilangan lagi,sudah cukup.ia juga hampir kehilangan mommynya dua tahun lalu,saat sean dan bian terlibat perkelahian yang disaksikan oleh mommy dina.
"mom sadarlah,bian minta maaf" bian mengusap lembut pipi mommynya,berharap mommynya akan segera sadar.
.
.
.
.
.
Di pohon yang begitu banyak kenangan,keduanya duduk dibangku sambil melihat indah nya bunga mawar yang baru saja bermekaran.
begitu banyak ramia bercerita tentang kisah hidupnya pada sean.saat dimana ia bersama ayah dan ibunya, lalu berakhir dengan tidak bahagia.
dan satu hal yang sean tahu yang membuat rasa penasarannya selama ini terjawabkan sudah,bahwa ramia adalah gadis simawar merah yang sering bersamanya dulu.seorang gadis yang membantunya saat dia tersesat di rumah yang halamannya begitu luas dan hampir disemua sudut ruangan dipenuhi mawar merah.bahkan ditempat duduk mereka sekarang berserakan buket bunga beserta kartu ucapan.
"mia sangat bersyukur dipertemukan dengan kak sen lagi" ucap ramia tersenyum.
"kak sen,tuhkan berantakan" kesal ramia,ia lalu menggelitik pinggang sean.
sama seperti dulu,seakan mereka berdua kembali dimasa sepuluh tahun silam.
flasback on
"Bu,kita mau kemana?" tanya sean.saat bangun tidur ia melihat kesibukkan kedua orang tuanya.beberapa peralatan makan serta perbekalan dan juga tas berisi pakayan sudah dibawa Damar kedalam mobil.melihat itu,sean mengerutkan keningnya.
"cepat bersihkan dirimu,kita akan piknik bersama keluarga tuan rodrigo.mereka mengundang kita juga" ucap ibu asih.
asih adalah ibu dari sean.belia sangat penyayang,sesekali jika ada waktunya ia pergi kerumah nyonya Dina untuk sekedar menemani Dina bercerita.
"berarti dengan tiara juga dong bu?" ujar sean antusias sambil berlari menuju kamar mandi.melihat kelakuan anaknya, ibu asih hanya bisa geleng geleng kepala.
"anak itu,kalau soal tiara saja dia sangat kegirangan" gumam ibu asih tersenyum.
__ADS_1
setelah semua nya sudah beres,mereka bertiga segera berangkat menuju villa milik tuan rodrigo.diperjalanan Dina menelpon ibu asih untuk tidak kerumah karena mereka sudah pergi lebih dulu dan sudah berada divilla.untung saja Damar sudah beberapa kali kevilla itu sehingga ia sudah bisa tahu alamatnya.
sampailah mereka,sean segera turun berlari mencari keberadaan tiara.setelah menemukan nya ia langsung memeluk tiara lalu mengajaknya berkeliling disekitar villa itu,padahal ia baru pertama kali datang ketempat itu.
"kak sepertinya ibu memanggil kita" ujar tiara,lalu melepaskan pegangan tangan sean dan berlari menuju kevilla.
seanpun ikut menyusul.
"sean,ibu khawatir.jangan membawa tiara jauh jauh,kalau terjadi sesuatu bagaimana?" tegur ibu asih.melihat tingkah anaknya seperti itu membuatnya takut.
"ibu selalu saja melarangku,aku tau bu.kalau saja aku punya adik seperti tiara pastiii," sean memotong pembicaraan nya.ia lalu pergi keluar dan berjalan menjauh dari villa tersebut.
saat sadar,sean sudah berada di sebuah rumah sederhana yang halaman nya begitu sangat indah.ia memerjapkan matanya melihat seseorang duduk dibawah pohon sambil bernyanyi.suaranya sangat merdu lalu sean menghampirinya.
"hay" ucap sean menepuk pelan pundak gadis dihadapan nya.seketika nyanyian itu terhenti.
ramia berbalik,menatap siapa sosok yang menyapanya itu.ia berdiri dan segera pergi meninggalkan sean yang melihatnya dengan tersenyum paksa.
"tunggu" sean menarik tangan ramia.
"aku tersesat,bisa tolong antarkan aku kevilla dekat sini? sepertinya aku lupa jalan kembali kesana"ujar sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
melihat kesungguhan dimata sean,ramia menganggukkan kepalanya.lalu mengantar sean kembali.
"boleh kita berteman?" tanya sean penuh harap.
"hmm" balas ramia mengangguk.
sejak itu keduanya menjadi dekat,bahkan sean sudah menganggap ramia sebagai adiknya.
flashback off
.
.
.
.
__ADS_1
lanjut yah ✌
"