
"Bi aku boleh yah menginap disini"bujuk clarissa.ia terus saja menempel dilengan Bian dan tidak mau melepaskan nya.
"iyah,ini juga sudah malam.aku tidak mungkin membiarkanmu pergi sendirian" ucap bian membelai rambut clarissa.
clarissa masuk kekamar bian lebih dulu dan menjatuhkan badanya ditempat tidur.
"aku capek bi" gumamnya sambil menutup kedua matanya.
"maafkan aku,sudah merepotkanmu.aku hanya tidak ingin mommy tau keadaan wanita itu"
"aku kira kamu mulai khawatir dan peduli padanya"
"aku hanya mencintaimu" bian lalu membawa clarissa dalam pelukan nya.
ini sangat tidak masuk akal,seorang suami meninggalkan istrinya sendirian yang sedang sakit tanpa mau menjaga dan merawatnya.dan ia malah bersenang senang bersama wanita lain dirumah yang sama.walaupun ia tidak memiliki rasa tapi setidaknya ia harus menghargai perasaan pasangan nya.
.
.
.
__________
"hmm"
ramia menggeliat,ia mencoba membuka matanya pelan begitu silau sinar matahari yang masuk melalui jendelanya.kepalanya juga masih sedikit pusing.
"ada apa denganku" ia melihat sekeliling.ingatannya kembali mencoba mengingat sesuatu,ada sebuah handuk kecil yang menutup matanya saat ia bangun tadi.
ramia turun dari tempat tidur dan menuju dapur,perutnya terasa begitu lapar.saat hendak menyantap sarapannya seseorang muncul dari tangga,tatapan ramia fokus berusaha menebak siapa yang dilihatnya itu.
semakin dekat,ia membulatkan matanya.bagaimana wanita itu bisa ada dirumahnya,sedangkan ia tidak mengetahuinya.
"sudah sadar rupanya.?" clarissa menyindir ramia sambil berjalan melewatinya dan menuju kulkas.
ramia mengerutukan dahinya,mencoba mencerna ucapan dari clarissa.
terlihat clarissa begitu sibuk mondar mandir menyipakan sarapan,diletakkannya roti di piring itu lalu diolesi selai.
setelah selesai ia kembali menuju keatas.ramia hanya cuek,tak mau banyak bicara.badannya masih terasa lemas,saat ini yang ia butuhkan hanya mengisi perutnya sampai penuh agar kekuatannya kembali seperti semula.
dihadapannya kini ada bian dan clarissa.senyum terus terpancar diwajah clarissa namun bian hanya diam menyantap sarapannya dengan tenang.
"Bi,leherku masih sedikit sakit.semalam kau memelukku terlalu kencang" ujar clarissa bersandar manja dilengan bian.tatapannya terus melihat ramia untuk melihat reaksi wajahnya.
__ADS_1
"hmm" bian mengelus pipi clarissa lembut lalu menyuruhnya segera menyelesaikan sarapannya.
entah mengapa melihat itu,hati ramia terasa sakit.ini kali ketiga ia melihat suaminya bermesraan dihadapannya.matanya berkaca kaca ,ia segera pergi meninggalkan mereka berdua.
clarissa semakin puas melihat tingkah ramia.batin nya tertawa,merasa menang telah membuat wanita itu sadar akan posisinya.
"aku tidak akan membiarkan mu mengambil Bian ku.lima tahun bukan waktu yang singkat untuk bersabar,aku harus secepatnya membuat bian jadi milikku" gumam clarissa menatap kepergian bian menuju kamarnya untuk bersiap kekantor.
ramia menuju dapur sambil memegang nampan berisi makanan yang sudah dilahapnya habis.tanpa berkata apapun ia terus berjalan ,seakan cuek dengan keadaan sekitar.
ia sadar diri ,keberadaan nya sekarang hanya sebagai orang ketiga yang hadir diantara hubungan bian dan clarissa.ia juga bisa memahami perlakuan kasar clarissa kepada nya,jika saja posisinya berada di clarissa pasti ia akan merasa sangat sedih.
"awhh" rintih ramia,ia memegang perutnya,begitu sakit luar biasa.sampai sampai ia berjongkok demi menahan rasa sakit itu.
"hehh ada apa? mau pura pura sakit lagi? mau cari perhatian bian?" sindir clarissa.tangan nya sengaja mendorong bahu ramia dengan keras.
ramia menghindar berusaha memegang tembok namun tangan nya tergelincir dan akhirnya ramia jatuh dengan gelas yang menimpa tangan kirinya lalu pecah hingga membuat lengan nya terluka dan mengeluarkan banyak darah.
"ya tuhan,beri aku sedikit kebahagiaan.aku ingin seperti dulu lagi,bersama ayah ibu dan... kak ian,kakak berjanji padaku tidak akan membiarkan siapaun menyakiti aku lagi." batin nya.ramia tertunduk,air matanya lolos begitu saja,ia sesegukan.
"apa yang terjadi?" ucap nya mendekati clarissa.
"Bi,dia berusaha mendorongku malah dia sendiri deh yang jatuh " ujarnya berjalan menuju bian.
Bian berjongkok dihadapan ramia,tangannya ia ulurkan lalu mencengkram dagu ramia dengan keras,membuat nya meringis kesakitan.
kali ini bian tidak main main.terlihat jelas kebencian dimata nya,sangat sangat menakutkan.setelah itu mereka keluar dan pergi.
bian mengantar clarissa terlebih dahulu ,lalu ia melajukan mobilnya menuju kantor.
dikantor.
sean sedari tadi menunggu kedatangan Bian ,namun waktu sudah menunjukkan pukul sembilan dan bian belum datang juga.beberapa kali sean menghubunginya tapi lagi dan lagi bian tidak mengangkatnya.ia muak,bian selalu saja mengabaikannya.
jika bukan karena jasa dan kebaikan keluarga horisson,ia akan pergi dan membangun bisnisnya sendiri yang sudah ia impikan dari dulu.sebab ia sudah berjanji pada Dina untuk terus bersama membantu Bian meneruskan perusahaan almarhum ayah Bian yaitu tuan Horisson.
"kapan kau akan sadar dan tidak terus menyalahkan aku" guman sean.ia kembali mengingat kejadian saat kehilangan ibu dan ayahnya secara bersamaan.
flashback on
lima tahun lalu
"ayah,kita mau kemana.aku akan dirumah saja,aku merindukan ibu" gumam sean.hari itu ia sangat sedih atas kehilangan ibunya.
"kita akan kerumah Bian.ayah khawatir meninggalkan mu sendirian dirumah" ucap Damar menggenggam tangan anak satu satunya itu.
__ADS_1
"tapi yah,sean bukan anak remaja lagi." ujar sean dengan kesalnya.ia selalu saja dianggap masih kekanakkan padahal usianya sudah sudah dua pulih dua tahun.
"iyah iyah nak" damar tersenyummelihat anaknya yang cemberut.
"ayah harap kamu bisa lebih dewasa,mengurus diri sendiri.bagaimana kalau ayah akan menyusul ibumu? siapa yang akan menjagamu." ujar damar menatap lurus kedepan.
selama ini,sean sangat dimanjakan oleh ibunya.bahkan ia tak mau membiarkan sean bekerja,gaji damar sebagai sopir di keluarga horisson sudah cukup menghidupi kebutuhan mereka bertiga.
mendengar itu sean hanya diam mencerna ucapan ayahnya.
merekapun sampai,bian segera menghampiri sean lalu memeluknya.ia tahu hari ini sean sedang berduka.
demi menghibur sean ,bian merencanakan makan malam keluarga disebuah restoran mewah.saat dulu ia sudah menganggap sean sebagai bagian dari keluargannya.
"mom,tiara dan daddy kemana?" tanya bian.sejak tadi daddynya maupun tiara tidak ada dirumah.
"tiara merajuk, ingin daddy menemaninya jalan jalan.tapi kok lama sampainya yah? padahal sejam yang lalu daddy telepon mommy,katanya mereka sudah diperjalan pulang" ucap Dina.
handphone mommy dina bergetar,ia buru buru melihat nya.ternyata yang baru saja dibicarakan sudah menelponnya.
"hallo.daddy dimana ? kok lama banget sih?"
"ban mobil daddy kempes,suruh bian cepat kesini?" ucap rodrigo.terdengar suara tiara yang mendengus kesal dibalik telepon.
"biar saya saja den Bian yang pergi menjemput tuan" tawar Damar.
"paman tidak apa apa kan?." tanya bian merasa khawatir.raut wajah damar masih nampak terlihat kesedihan.
"iyah" jawab damar penuh keyakinan.
dan malam itu adalah malam terakhir bagi ketiganya,sebuah kecelakaan yang menewaskan Damar tiara dan rodrigo.kelalaian damar membuat Bian membenci sean hingga sekarang.hanya mommy dina yang tidak menyalahkan siapapun.menurutnya itu semua sudah kehendak tuhan dan bukan keinginan siapapun.
dari situlah bian mencap sean sebagai pembawa sial.menurutnya waktu itu kalau saja sean tidak datang kerumahnya dengan berduka maka keluargannya akan baik baik saja.
kebencian itu masih saja belum hilang dihati bian.
flashback off
.
.
.
.
__ADS_1
.
lanjut yah ✌