Gadis Pilihan Mommy

Gadis Pilihan Mommy
......


__ADS_3

bi sarah panik,clarissa mencengkram tangan ramia lalu mendorongnya hingga perutnya terbentur ujung meja makan.clarissa muak melihat ramia lambat menata sarapan dimeja sedangan perutnya sudah keroncongan.pengaruh alkohol semalam masih masih membuatnya terasa pusing.


bukan sengaja memang pagi ini ramia merasa sangat lelah dan sangat mengantuk.


segera bi sarah berlari kearah ramia,terlihat darah segar mengalir dibalik baju daster longgar yang ramia kenakan.


"darah bi,aku takut"kata ramia bergetar


Bi sarah segera memapah ramia menuju kamarnya dibelakang,lalu ia segera mengambil teleponnya menghubungi sean.


"sakit bi,aku sudah tidak tahan lagi" ramia terus saja meringis kesakitan.darahnya semakin banyak,wajahnya juga begitu sangat pucat.


"tahan mia,sebentar lagi nak.sean akan datang"


Sedangkan sipelaku sama sekali tidak peduli dengan perbuatan kasarnya itu.clarissa asik menyantap sarapannya tanpa ada rasa iba.


"darah siapa ini cla?" tanya dina keheranan.


"wanita sial itu" jawabnya acuh


"ramia?"


"siapa lagi mom kalau bukan dia"


Sean tiba dengan tergesa gesa menuju kebelakang kamar bi sarah tanpa menyapa dan memerdulikan Dina yang melihat kedatangannya.


"ada apa sih" langkah kaki dina mengikuti kemana perginya sean.baru saja ia tiba didepan pintu kamar bi sarah, sean tiba tiba keluar menggendong ramia yang lemas tak berdaya wajahnya semakin pucat dan darahnya begitu sangat banyak.


"bi ada apa ini,dia kenapa" tanya Dina semakin penasaran namun bi sarah sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.bi sarah berlalu melewatinya begitu saja dan cepat berlari mengikuti langkah sean.


tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya Dina kembali kemeja makan menemui clarissa.


"apa yang kau lakukan pada ramia cla,kenapa dia bisa sampai berdarah seperti itu? Ada apa denganya?"Dina tau pasti itu adalah perbuatan clarissa.


namun clarissa hanya mengangat bahunya tidak tau.ia sibuk menyantap makanan dihadapan itu.


"cla,mommy tidak suka dengan sikapmu yang seperti itu.jangan sampai kau membunuhnya" kata Dina khawatir.ia juga membenci ramia tapi niat ingin melenyapkannya dia tidak terpikir sampai disitu.


"mom aku hanya mendorongnya,dia saja yang lebay sampai seperti orang pendarahan begitu"


"apa? Pendarahan katamu" nadanya sedikit meninggi.mata Dina melihat darah segar itu tepat disamping kursi yang ia duduki.


"biarkan saja dia mom...apa peduli kita padanya" jawab acuh clarissa lagi.


Dina merasa kasian melihat kondisi ramia yang pucat seperti mayat hidup itu.ia tidak dapat membohongi hati kecilnya,hanya karena membencinya bukan berarti mengabaikannya apalagi ramia saat ini tidak mempunyai siapa siapa lagi selain dirinya.

__ADS_1


Tanpa menyentuh sarapannya Dina segera bergegas pergi kekamarnya.


"hallo bian,ada hal penting yang mommy ingin bicarakan" ucapan dina terdengar khawatir


"mom aku lagi meeting,aku sibuk" jawab bian dengan datarnya.ia kesal dengan sean,tiba tiba meninggalkan meeting begitu saja.semakin hari sikapnya semakin kurang ajar padanya.


"dengarkan mommy dulu..."namun bian langsung mematikan panggilannya.


.


.


.


.


"keadaanya semakin memburuk" dokter nita keluar dari ruang operasi.


mendengar itu bi sarah syok ia terduduk lemas dilantai memikirkan keadaan ramia saat yang sekarat itu,ramia yang ia sudah anggap seperti anaknya sendiri.


"nit...tolong selamatkan ramia"pinta sean memohon menggenggam tangan dokter nita.


"saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan keduanya walau tingkat keberhasilan nya sedikit.kita berdoa saja supaya operasinya berjalan lancar"jelas dokter nita.ia kemudian masuk dan disusul oleh suster dengan membawa tiga kantung darah yang diambil dari sean.kebetulan golongan darah sean sama dengan ramia.


"nak sean bibi tidak tega melihatnya kesakitan seperti itu,sudah cukup penderitaannya" katanya sambil mengelap sisa air mata dipinya yang sudah mulai keriput.


"kita harus terus berdoa untuk keselamatan ramia nak sean,aku kasian melihatnya seoerti itu"


keduanya terus meminta pada tuhan untuk menyelamatkan ramia.


Tiga jam berlalu lampu di depan pintu ruang operasi itu mati sean dan bisarah segera berdiri mendekat,tidak berselang lama pintu ruang operasi itu terbuka.terlihat raut wajah dokter nita yang sedih matanya berkaca kaca seakan mengisyaratkan sesuatu yang buruk.nita berjalan beberapa langkah lalu duduk dikursi bersandar sebentar dan memejamkan matanya.


dokter nita sudah menganggap ramia sebagai adiknya sendiri sejak awal sean mengenalkannya,ia juga merasa kasihan dengan alur cerita kehidupan gadis malang itu.jika ia berada diposisi gadis itu mungkin ia tidak akan bisa bertahan.kehilangan orang tua,saudara dan kasih sayang yang baru saja akan terjalin hancur seketika.


Bi sarah tak mampu mendekat kearah dokter nita,ia yakin sikap dokter nita yang seperti itu menandakan hal yang buruk terjadi.bi sarah duduk dan menangis sejadi jadinya sambil menyebut nama ramia.


"sean kita perlu bicara" ucap pelan nita.


mereka kemudian berjalan menuju ruangan dokter anita.


.


.


Dina melajukan mobilnya dengan sangat kencang menuju perusahaan tempat anaknya berada,kali ini perasaannya sangat gelisah tak sehawatir sebelumnya.

__ADS_1


"dasar anak keras kepala"umpat dina beberapa kali mencoba menelpon bian namun tak dijawabnya sama sekali.tangannya terus saja mengutak atik handpone itu sambil terus menyetir dan mencoba fokus kedepan hingga ia tidak menyadari ada mobil box yang melaju sangat kencang menyalip mobilnya dan...


"brukkkhh" mobilnya tersenggol dan menabrak pembatas jalan hingga hancur berkeping keping.dina terlempar beberapa meter dari tempat kejadian.


yang terlintas dipikirannya saat ini sebelum ia hilang kesadaran hanyalah tentang ramia.


"hallo...tuan harus kerumah sakit sekarang" ucap dokter robert.


"ada apa" jawab bian acuh


"nyonya Dina mengalami kecelakaan" jelas dokter robert lagi.


Mendengar itu bian langsung bergegas kerumah sakit meninggalkan meeting penting itu.coba saja ia tidak mengabaikan panggilan mommynya tadi pasti kecelakaan itu tidak akan terjadi.ia sangat menyesal.


"maafkan aku mom"sesalnya lagi


bian juga mencoba menelpon clarissa tapi tidak dapat tersambung kemudian ia melempar teleponnya kesembarang arah dan fokus menyetir.ia teringat sesuatu dan menepikan mobilnya mencari kembali handpone yang ia buang tadi,tangannya terus menggeser mencari nama sean lalu menelponnya beberapa kali namun sama saja sean tidak menjawab panggilannya.


"kali ini aku akan memberikanmu hukuman yang pantas" ancam bian tidak main main.ia kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


sampai dirumah sakit.


bian berlari menuju ruang mommynya dirawat perasaan bersalahnya terus saja menghantui pikirannya yang kacau itu.


mulutnya terus saja komat kamit mendoakan mommynya dan terus saja meminta maaf.bian trauma dengan kehilangan,kehilangan daddy dan adiknya masih membekas diingatan dan hatinya.


melihat dokter robert yang keluar dari ruangan operasi,bian segera berlari dan menghamburkan beberapa pertanyaan.namun dokter robert hanya diam dia takut menyampaikan kondisi nyonya dari pemilik rumah sakit ini.


Tak mendapat jawaban dari dokter robert,bian lalu melayangkan tinjunya keperut dokter yang dihadapannya itu.hingga dokter robert meringis kesakitan.


"maafkan saya tuan" ucapnya sambil memegang perutnya yang sakit.


"saat ini nyonya mengalami koma" dokter robert ragu ragu tapi ia harus berusaha berani untuk mengatakannya.


"astagaaa"umpatnya.tangannya mengepal lalu meninju tembok dengan keras tangannya memar dan beradarah.


.


.


.


.


Lop yuu😘

__ADS_1


__ADS_2