
ditatapnya layar ponsel dengan seksama,netranya mencari nama yang bertuliskan my son.Dina sudah tidak sabar menunggu hari esok,dimana bian dan ramia akan berkunjung kerumah menjenguknya.sudah seminggu ini,Dina hanya menghabiskan waktunya di butik untuk menghilangka rasa jenuh dan rindu pada dua orang anaknya.
"hallo Bian,besok jadi kan?" tanyanya.
"hmm" namun bian hanya berdehem saja.
dina pun mendengarnya merasa tak suka.
"Bian mommy serius" ujarnya dengan nada agak meninggi.ia kesal bukan main,kalau saja bian tidak melarangnya kerumah pasti ia tidak akan terus terusan menghubunginya.
"iyah mom,bian tau.besok bian dan ramia akan kerumah" ucapnya mendesah.
"mana ramia,mommy ingin bicara" ucapnya antusias. ia ingin sekali mendengar suara menantu kesayangannya itu.
mendengar itu bian panik,ia dengan segera keluar kamar menuju kebawah berharap saja ramia belum tertidur.
"bian" teriak Dina dibalik telepon nya. sejak tadi ia tidak mendengar suara apapun,hanya langkah kaki yang didengarnya.
"iyah mom tunggu,dia lagi dikamar mandi" Bian lalu mengetuk pintu kamar dan memanggil nama ramia.
"deg" jantung ramia seakan berhenti berdetak.kali ini ia tidak salah mendengar,bian memanggil namanya.senyumnya mengembang, hal yang sederhana itu mampu membuatnya sangat bahagia.
masih dengan lamunan nya,ramia lupa dengan suara panggilan dan ketukkan dipintu kamarnya.ia masih diam berdiri didepan pintu kamar mandi dengan handuk yang masih melilit ditubuhnya.
"brakk" bian membukannya dengan kasar.
Bian maupun ramia saling bertatapan,tak ada pergerakan sama sekali.apalagi bian,ia terpesona dengan kecantikan dan tubuh alami yang dimiliki ramia.
"hallo Bian ada apa? dimana ramia?" dina kembali berteriak.
"mommy bisa tidak jangan teriak teriak" Bian mencoba mengalihkan suasana di ruangan itu.
ia lalu memberikan teleponnya dan keluar dari kamar ramia.
keesokan harinya
setelah bersiap, kedua nya menuju mobil lalu segera berangkat.dering ponsel bian terus menerus berbunyi,membuat bian membuang napasnya kasar.hari ini adalah hari libur kantor tapi bian terjebak dengan permainan mommynya.
bagaimana dengan janjinya bersama clarissa?
ia harus membuat alasan apa nanti kalau clarissa menelponnya?
pasti clarissa akan marah lagi?
itu yang ada dipikiran bian sepanjang perjalanan,ia hampir tidak fokus menyetir.
"ingat. jangan pernah katakan apapun ke mommy ,walaupun itu tentang clarissa.aku tidak mau kau mencampuri urusan pribadiku" nada ucapan bian sedikit menekan.ia memperingati ramia agar bisa tau posisinya saat ini.
"aku tau" ucap nya menganggukkan kepala.
suasana hening,tak ada lagi percakapan apapun.mereka larut dalam pemikiran masing masing.
setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit mobil Bian masuk kehalaman rumah,sudah terlihat jelas senyum Dina yang sudah menunggu berdiri diteras rumah nya sambil melambaikan tangan.
mereka berdua turun menghampiri dina laku menyalaminya.
Dina menghujani ramia dengan ciuman dan pelukan,menurutnya seminggu tidak bertemu adalah waktu yang sangat lama.
__ADS_1
"ayo masuk" dina menggandeng tangan ramia dan bian menuju meja makan.
banyak hidangan yang sudah ia siapakan,terlihat berbagai jenis makanan yang ada diatas meja.
Bian hanya geleng geleng kepala melihat tingakah mommynya yang kelebihan batas,menyadari itu Dina mengangkat kepalanya dan mengkerutkan keningnya menatap bian.
"ayo duduk" ajak dina.
setelah selesai makan,mereka bertiga berkumpul diruang keluarga untuk mengobrol.bian merasa bosan dengan melihat kedua tingkah wanita yang ada dihadapannya itu.
"kalau saja itu clarissa" batin bian,ia sangat menginginkan clarissa bisa seperti ramia yang dekat dengan mommynya.
sudah beberapa kali ia meminta clarissa mendekati mommynya namun selalu saja ditolaknya ,entah apa alasannya.
tak sengaja tatapan ramia melihat kearah bian.tatapan kedua nya bertemu.
"aku tidak tau,aku nyaman saat didekatmu.padahal kau begitu kasar tapi aku selalu saja memikirkanmu akhir akhir ini" batin ramia yersenyuk kecil.
Dina yang menyadari itu,segera berdiri meninggalkan keduanya. dengan senyum yang penuh arti,ia pergi menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu untuk diberikan pada pasangan suami istri itu.
"dreet drett" ponsel Bian berdering.
ia menarik napas panjang dan membuanya pelan, berjalan menjauh dari ramia.
"Bi,kamu kemana aja sih" keluh clarissa.
"maaf cla,aku dirumah mommy" jawab bian jujur.
"kan kita udah janjian,gimana sih Bi" clarissa merajuk manja.
"maaf cla aku tidak bisa pergi,ada mommy disini" bian berusaha memberi clarissa pengertian.
"iyah iyah tunggu aku,jangan kemana mana"
bian segera masuk kedalam menghampiri mommy nya.
Bian berhasil mencari alasan untuk segera pergi menemui clarissa,ia lalu melajukkan mobilnya dengan kencang menuju rumahnya tepat dimana clarissa berada.wanita pujaannya itu sangat tidak suka menunggu.
.
.
.
hari sudah mulai sore,bian belum juga datang menjemput ramia.sedari tadi Dina terus saja menelpon bian namun tidak dijawabnya.begitu juga dengan sean nomornya tak dapak dihubungi.
Dina meminta ramia untuk menginap saja malam ini dirumahnya namun ramia menolak dengan halus takut mertuanya itu akan kecewa.
ia tidak mau merepotkan dina lagi,seharian ini ia dibawa jalan jalan dan berbelanja keperluan nya bahkan dina membelikan ramia handphone agar bisa mendengar suaranya kapanpun.
ia akan memarahi Bian yang tidak memerhatikan keperluan ramia,padahal itu sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menafkahi istrinya.namun ramia memberikan pergertian agar dina tidak salah paham pada bian.
akhirnya dina memutuskan untuk memanggil pak rio agar segera mengantar ramia pulang.
"mia,ingat yah.sebelum tidur kau harus meminumnya" gurau dina mengedipkan mata menggoda ramia.
"iyah mom" ucap ramia tersenyum. ia melihat kembali paper bag yang ada ditangannya itu.didalamnya terdapat ramuan untuknya dan juga bian.dina sudah tidak sabar menggendong cucu dari mereka.
__ADS_1
senyuman Dina begitu sangat tulus.cinta dan kasih sayangnya mampu membuat hati ramia ingin menangis mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangganya. iapun lalu berpamitan melambaikan tangannya.
"pak,nanti antarkan aku ketoko bunga tempat aku bekerja dulu,aku ingin menemui temanku" ujar ramia.
"baik nona" pak rio mengangguk.
"tapi pak, tidak usah menungguku,nanti aku akan dijemput bian" ucap ramia berbohong.
pak rio hanya mengangguk pelan.
.
.
di toko bunga
"mia,itu kamu?" ifa menghampiri ramia lalu memeluknya.
"banyak amat,apaan tuh" tangan ifa terulur membuka satu persatu paper bag yang dibawa ramia.
ramia hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
"makan yuk fa" ajak ramia.ia memegang perutnya yang terasa lapar.
"ayuk" sahut ifa antusias.
mereka berdua menuju restoran yang ada di depan toko,langkah ifa terhenti menatap ramia menyelidik.seakan tau apa maksud ifa,ramia tersenyum mengangguk.
"aku yang traktir" ramia lalu menggandeng tangan ifa. dulu ingin sekali mereka mencicipi hidangan direstoran mahal itu,tapi ifa maupun ramia belum mampu untuk membayar makanan tersebut.
pandangan ifa tak sengaja melihat kemeja sudut ruangan restoran itu,sepertinya ia mengenal lelaki itu.lenganya menyenggol ramia pelan dan menujuk kearah lelaki yang sedang tersenyum mencium lembut tangan wanita yang ada dihadapannya.
"mia mereka pergi" ifa menarik tangan ramia agar mengikuti kedua orang tersebut.
"biarkan saja fa ,aku lapar" ujar ramia cuek,ia seakan tidak ingin tahu yang dimaksud ifa.
"apaan sih mia,itu kan tuan Bian.dia bersama wanita lain" ujar nya menatap ramia yang biasa saja.
"kita harus ikuti mereka" tangan ramia ditarik paksa lalu mereka mengikuti mobil bian dengan memakai motor ifa.
mobil itu berhenti disebuah cafe yang sangat dikenali kedua wanita itu,mereka saling berpandangan lalu masuk kedalam.
"mia,lihat apa yang dilakukan wanita itu" tunjuk ifa.terlihat clarissa menuangkan sesuatu ke
minuman bian.
ramia lalu keluar dari persembunyian nya,berjalan mendekat kearah Bian.walaupun ia belum mencintai suaminya sepenuhnya tetapi ia tidak ingin melihat bian mati secepat itu.
"glekkk" ramia merampas minuman ditangan bian lalu di habiskannya tanpa sisa sedikitpun.
.
.
.
.
__ADS_1
lanjut yah ✌