Gadis Pilihan Mommy

Gadis Pilihan Mommy
-


__ADS_3

Didepan pintu clarissa sedang memerhatikan dan menyimak pembicaraan ketiganya sambil melipat kedua tangannya.bola matanya memutar malas mendengar keluh kesah tania yang dianggapnya terlalu berlebihan,ia bosan dirumah ini yang selalu membahas ramia ramia dan ramia padahal si pemilik nama itu sudah tidak terlihat batang hidungnya lagi.


clarissa bertepuk tangan mendengar ocehan tania yang terlalu jujur itu,ketiganya berbalik.


"clarissa" tania berdiri dari duduknya lalu mundur beberapa langkah,ia takut dengan tatapan tajam clarissa.


ifa pun berdiri berusaha menghalangi langkah clarissa,ia yakin wanita gila dihadapannya ini akan menyakiti tania yang membongkar kejahatan yang dilakukannya pada ramia ke nyonya di Dina.


"dasar murahan.karena aku kau bisa keluar dari tempat itu,kau lupa haa" clarissa menjambak rambut tania dengan keras,menamparnya berkali kali lalu menendang perutnya.


ifa maju berusaha menghentikan kebrutalan clarissa namun lagi lagi ia terkena tamparan keras clarissa,pipinya memerah dan mengeluarkan darah segar,clarissa yang sedikit mabuk tidak bisa mengontrol dirinya lagi.


"aku muak dengan ramia ramia dan ramia,sekarang bian menjahuiku.ini semua karena kau juga." tunjuk clarissa kearah dina yang tak berdaya duduk dikursi roda.


"mau apa kau cla" ucap Dina bergetar.tatapan menyeringai clarissa membuatnya takut.


"hahaha...uhukk uhuukk" tawa clarissa sambil terbatuk batuk.pengaruh alkohol masih menguasai kesadarannya.


"selama ini aku diam mom,aku aku muak.aku tidak bisa menguasai bian seperti dulu lagi"clarissa seakan curhat tentang rumah tangganya yang hancur itu. sambil mendorong kursi roda milik mertuanya.


tangan dina semakin gemetar bahkan seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dingin karena saking takut nya itu,ia tak mampu melawan.tangan dan kakinya sudah tak mampu digerakkan akibat kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya itu.


"clarissa hentikan"teriak kencang ifa.ia berdiri berusaha mengejar clarissa yang sudah keluar kamar membawa dina entah kemana.


"kak ifa,tolong aku"pinta tania.ia berusah ingin berdiri namun sama sekali tidak bisa.perutnya begitu sangat sakit,tendangan clarissa mampu membuatnya mati rasa.


"ayo,kita harus segera menghentikan clarissa aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada nyonya dina" ifa buru buru mengangat tubuh tania tanpa menghiraukan rintihan tania.


ia segera berlari keluar mengejar clarissa,namun baru saja ifa sampai...


"dorrr" ifa membulatkan matanya.dia tidak habis pikir sejauh itu.


"tidaakk" teriak ifa dengan sangat keras.ia berlari ingin menghentikan aksi clarissa yang mendorong nyonya dina ketangga namun ia terlambat.


clarissa dengan santai melipat tangannya melihat mertuanya yang lumpuh itu jatuh,ia tersenyum puas.


"mmommmyyyy" teriak biak yang menyaksikan mommynya yang sudah bersimbah darah tak berdaya.


ia berlari menghampiri sang mommy lalu dipangkunya.tangannya mengelus lembuh rambut mommynya yang sudah dipenuhi darah.bian menangis memeluk harta yang paling berharga satu satunya yang ia miliki didunia ini.


Sebelumnya, tania menelpon bian bahwa clarissa akan mencelakai dina.mendengar itu bian segera pulang kerumah meninggalkan meeting sebuah proyek yang akan ia kelola diluar kota nanti.

__ADS_1


pak rio segera bergegas membantu bian mengangkat dina untuk segera dibawa kerumah sakit.nanti ia akan memberi pelajaran pada clarissa tapi nyawa mommynya lebih penting dari pada apapun.


"maaf kami sudah berusaha semampu kami dan..." ucap dokter tertunduk tidak berani menatap wajah bian yang memerah menahan amarah bercampur sedih.


"bagaimana keaadan mommy,tidak tidak mommy baik baik saja kan.jawab aku" bentaknya keras,bian menarik baju dokter dengan kasar,ia tahu apa sebenarnya yang dimaksud dokter itu.


Melihat itu pak rio segera mendekat menenangkan bian,pak rio juga menasehati bian agar ia harus tegar dan kuat menerima kenyataan ini.


"tidak pak rio,aku tidak bisa kehilangan lagi.mommy satu satunya yang aku punya hikss hikss" tangis bian pecah.


"sabar den bian. den bian masih punya saya,den bian tidak sendirian" pak rio masih berusaha menenangkan bian yang sudah ia anggap seperti anaknya itu.bagaimana tidak ia bekerja dikeluarga itu sudah sangat lama,bisa dibilang dari bian yang masih sangat kecil.


"mommy jangan tinggalkan bian"


ia sendirian sekarang.ia teringat perkataan mommynya yang selalu menyuruhnya untuk segera mencari keberadaan sean namun selalu ia acuhkan.ia masih kesal dengan sean yang selaku mencampuri urusannya itu,tapi mungkin inilah yang mommynya inginkan agar ia tidak merasa sendiri.


.


.


.


"cari dia walau dilubang semut sekalipun,aku akan membuangnya sampai dia mati mengenaskan" perintah bian pada orang suruhannya.


tangan bian mengepal,kalau saja bukan karena pak rio mungkin waktu itu ia sudah menyiksa bahkan melenyapkan clarissa saat itu juga.namun tiba tiba ingatanya kembali terbayang pada wanita yang hampir lima bulan ini menghilang.


.


.


.


.


Lima tahun kemudian


bian kesal,seharusnya pagi ini ia sudah sampai diperusahaan yang baru akan ia resmikan dikota B itu karena terkena macet hingga dua jam lamanya,terdengar beberapa bunyi klakson saling bersahutan.sesekali ia turun dari mobilnya melihat antrian panjang kedepan yang tak kunjung ada habisnya.bian menghela napas panjang lalu memijit pelan kepalanya yang sakit.


pak rio hanya bisa diam melihat sikap bian seperti itu.


saat ingin menyalip kendaraan yang beradaan didepannya itu tiba tiba ada seorang anak melintas begitu saja dan pak rio dengan cepat menginjak rem nya.

__ADS_1


"anna" teriak seorang wanita dan memeluk anak itu dengan erat lalu beberapa detik kemudian ia pingsan tak sadarkan diri.


Bian menatap pak rio lekat,akibat rem mendadak itu membuatnya kaget dan sadar dari lamunannya.


"ada apa?"tanya bian.


"sepertinya ada yang tertabrak"jawab pak rio gugup.


Bian turun lalu diikuti oleh pak rio.


Anak kecil itu menangis sambil menggoyang goyangnya tubuh maminya yang sudah tak sadarkan diri.banyak orang yang berkerumun melihat keadaan ibu dan anak itu.


bian mendekat lalu meminta bantuan pak rio untuk membantunya mengangkat wanita itu kedalam mobilnya.


seketika itu juga mobil bian akhirnya lolos dari kemacetan dan segera menuju kerumah sakit terdekat.


"mami tidak mati kan.huhuhu" anak itu terus saja menangis.


"mami masih hidup kan om"


Walau kurang jelas bian masih mengerti ucapan anak itu.


dikursi rumah sakit.


bian dan anna duduk berjauhan sedangkan pak rio masih mengurus administrasi mami dari anak yang hampir ditabraknya itu.


Tatapan bian dan anna anak kecil itu bertemu,baik bian maupun anna tak mau ada yang berbicara.bian yang tak mengerti soal anak kecil itu hanya bisa diam namun tiba tiba ana menangis mengingat maminya lagi.


Bian mendekat berusaha membujuk anna.


"mau" bian menyodorkan beberapa biji permen manis.


namun anna hanya melirik sebentar lalu diam tak menjawab.


"siapa namamu anak manis"rayu bian yang masih kaku.


Lagi lagi anna tak menjawab.


.


.

__ADS_1


.


Like komen dan vaforit yah 😍


__ADS_2