Gadis Pilihan Mommy

Gadis Pilihan Mommy
malam pertama


__ADS_3

Ketika seseorang terikat dengan sebuah pernikahan yang sakral itu berarti bukan hanya berjanji dihadapan para saksi tetapi bersumpah di hadapan tuhan untuk saling menjaga melengkapi menghargai satu sama lain nya.


Tetapi berbeda dengan Bian saat ini.pernikahan yang bukan keinginannya dan tapa didasari rasa cinta membuat ia ingin menghakhiri semuanya saat ini juga.


Bian melajukan mobil nya dengan sangat kencang,ancaman yang dikatakan clarissa membuatnya semakin frustasi. Ia tidak  mau kehilangan orang yang paling ia cintai.


Wanita yang sudah menemaninya dan membuatnya bangkit dari keterpurukan itu ,tetapi kini dia sudah sangat menghancurkan hatinya.


Sudah puluhan kali ia menelpon clarissa namun selalu diluar jangkauan dan tidak tersambung.


Sesampainya di apartemen ,Bian segera masuk mencari clarissa.


Ia tersenyum saat melihat clarissa berbaring ditempat tidurnya dengan nyaman.


Perlahan Bian mendekat dan naik ketempat tidur lalu memeluk clarissa tanpa mengeluarkan satu katapaun.


Merasa ada pergerakan clarissa berbalik berhadapan dengan Bian dan dipeluknya dengan erat.


"Bi aku rindu" sambil mengeratkan pelukannya.


"Hmm" Bian mengecup kening clarissa


"Bi aku tidak sudi kamu disentuh gadis itu.semua tubuhmu ini milikkku" manja clarissa


Bian lalu melepaskan pelukannya lalu bangkit berjalan kearah sofa. Ia duduk sambil memijat mijat kepalanya yang begitu terasa sakit.


"Cla. Bagaimana denganmu? apa kamu masih ingin melanjutkan hubungan ini?


"apa maksudmu" clarissa berjalan kearah Bian lalu duduk dipangkuan nya.


"Hmm aku becanda sayang" Bian mencubit gemas pipi clarissa.


Clarissa melingkarkan kedua tangan nya dileher Bian lalu ia beranjak dan duduk dipangkuan kekasihnya itu. Tatapan keduannya bertemu, Bian mencium lembut bibir clarissa lalu semakin lama semakin kasar. Keduanya sudah semakin memanas.


"Ehhm Bi" desah clarissa


Bian menggendong tubuh clarissa yang tanpa sehelai benang pun keatas tempat tidur dan di letakkan dengan perlahan.tatapan Bian seakan terhipnotis dengan tubuh indah milik clarissa,ia sangat pandai merawat kulit nya dengan baik. tidak heran, kecantikannya mampu membawanya menjadi top model terkenal nomor satu saat ini.


Clarissa menarik pelan tubuh Bian yang terpaku dihadapannya. Tangannya terulur membuka kancing kemeja Bian dengan tatapan yang menggairahkan.


"ayolah Bi,aku sudah sangat lama menunggu hari ini" bisik clarissa menggoda.


Tangan Bian mulai memegang kedua benda kenyal dihadapannya itu.


Mereka berdua sama sama dibuat melayang oleh permainan masing masing.


"Cla, I love you"


"Love you to Bi"


" setelah ini ayo bicara,ada yang ingin aku katakan " ucap clarissa lagi.


Kini ia yang semakin agresif.


"dengan begini kau tidak akan bisa melepaskanku Bi" batin clarissa puas


.


.

__ADS_1


.


.


Jauh di seberang sana,disebuah kamar yang sudah di hiasi berbagai macam bunga yang bernuansa merah,harumnya sangat menyengat ditenggorokkan dan masih terlihat sangat segar tetapi tidak sesegar penghuni nya.


Ramia terpaku.


keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.ia gemetar,takut dan tidak ada siapa siapa diruangannya itu.


Ia terbangun dari mimpi buruk yang sangat mengerikan dan mampu membuatnya kesulitan bernapas.


"Ohokk ohokk" batuk ramia.tenggorokkan nya seakan tercekat sesuatu.


dilihatnya sekeling kamar tersebut,dahinya mengkerut. Ia mencoba mengingat sesuatu.


Bayangannya kembali teringat dengan sebuah fakta bahwa ia telah menikah.


RamI bangkit dan berjalan mengabil air minum untuk menenangkan perasaanya.


"Ternyata cuma mimpi" batin ramia.


Ia kemudian teringat dengan sosok lelaki yang sudah sah menjadi suaminya.dilihatnya jam sudah menunjukan pukul empat subuh namun suaminya belum juga kembali.


Begitu banyak pertanyaan pertanyaan yang muncul dipikiran ramia saat ini. ia memegang dadanya terdengar begitu jelas degub jantung yang membuatnya khawatir.


Ketika ramia masih sibuk dengan pikirannya tiba tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar.


Ia terlonjak kaget, takut dan tak ingin membukannya.


Bunyi ketukan itu semakin lama semakin keras dan disertai teriakan seseorang.


"Dughh dughh" seakan pintu itu akan roboh.


Ramia berjalan perlahan, tangannya gemetar ia lalu memberanikan diri untuk membuka pintunya.


"Buggh" pintu terdorong dengan keras. Ramia yang ada dibalik pintu ikut terdorong kebelakang menabrak dinding dan jatuh.


"Akhh" ringis ramia kesakitan.


Ia berusaha bangun menahan rasa sakit dibagian belakangnya.


"Stop" perintah Bian.


Ramia yang akan melangkahkan kakinya pun terhenti seketika.


Bian mengambil bantal dan melemparinya kesembarang arah. Lalu berjalan mendekati nya,ia mencengkram lengan ramia dan menyeretnya kesofa.


"Shht sialan" umpatnya.


Bian berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.


Baru saja ia akan terlelap,isakan ramia sangat mengganggu pendengarannya.ia mencoba mengabaikannya namun semakin lama semakin membuatnya muak.


Ia berdiri menghampiri ramia yang duduk di sofa sambil menekuk kedua lututnya .


"Diammm....." bentak Bian murka.


"apa yang membuatmu menanis? Bukan nya ini kemauanmu? Haaa jawab aku...wanita munafik..." suara Bian memenuhi ruangan itu.

__ADS_1


"ada apa hahh, sakit, sakit kann" ia mencekik leher ramia dengan kencang.


"Ini belum seberapa,dan selamat menikmati hari harimu yang indah " ancamnya.


Bian lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Mendapat perlakuan kasar dari Bian,ia hanya bisa pasrah menerima nasibnya.ini sudah takdir yang harus dia jalani. Biar bagaimanapun mommy dita sudah baik padanya.


.


.


.


.


Pagi ini sean menjemput tuan dan nyonya mudanya dihotel untuk pulang kerumah.


"Tok tok "


Bian menoleh.


Melihat ramia masih tertidur membuat nya semakin murka.ia masuk kedalam kamar mandi mengambil air lalu


"Byurrr" bian menyiram air tersebut tepat diwajah ramia.


"Ohokk ohook" air masuk kedalam hidungnya membuatnya sulit bernapas.


"awas saja kau mengadu kemommy atau siapapun,aku akan membuatmu lebih sengsara" ancam Bian.


Pintu kembali diketuk. Bian berjalan dan membuka pintu lalu keluar begitu saja.


Ramia buru buru masuk kekamar mandi dan membersihkan diri.


Diperjalanan sean tak henti hentinya melihat ekspresi yang ditunjukan oleh Bian dan ramia,tidak ada kebahagian sedikitpun diwajah mereka.


Ia juga sempat melihat tangan dan leher ramia sedikit lebam. Mata yang sembab membuat sean terus fokus pada ramia.


Menyadari itu Bian berdehem pelan. Ia menatap sean dengan tatapan tajamnya.


"Aku harap ini hanya perasaanku saja,Bian bukan orang seperti itu aku juga tau dia semalam bersama siapa" Batin sean.ia kemudian fokuskan pandangan kedepan.


Selama perjalanan tidak ada satupun yang mengeluarkan suara, masing masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Begitu juga dengan ramia.


"aku harus kuat...


ibu,tania aku merindukan kalian.maafkan aku bu,aku belum bisa memenuhi keinginanmu dan aku berjanji akan membawa tania dari tempat itu. Tunggu kakak nia ,kaka akan berusaha." batin ramia.


Tanpa sadar air matanya menetes begitu saja.


Ia tidak sedikitpun memikirkan bagaimana ia akan diperlakukan  kedepannya,namun ia yakin dengan kesabarannya akan mampu memulihkan keadaan.Setidaknya masih ada yang peduli padannya saat ini.


.


.


.


.

__ADS_1


.


like komen nya yah kk❤


__ADS_2