Gadis Pilihan Mommy

Gadis Pilihan Mommy
kehilangan


__ADS_3

Bian Alxander Horisson pria hebat yang berhasil sukses diusia yang masih terbilang sangat muda.ia akan lembut dan penyayang ketika bersama orang yang dicintainya seperti mommy dan clarissa.


Clarissa gadis yang ia temui empat tahun yang lalu yang berhasil membuatnya bangkit dari keterpurukan karena kejadian yang menimpa keluarganya.


Sejak saat itu ia berubah dingin,kejam dan arogan jika berada diluar atau bersama siapapun bahkan saat bersama sean assistaenya.


Bian takkan memberi ampun pada siapapun penghianat yang berusaha menjatuhkannya.


Bahkan ia tak akan segan segan menghancurkan semua yang berkaitan dengan sipenghianat tersebut.


_______


Mau tidak mau hari ini Bian harus pulang kerumah.


"Sean kita pulang" Bian berdiri keluar dari ruangan.


"Iyah tuan" lalu mengikuti bian dari belakang.


Bian tidak dapat menolak permintaan mommynya, satu satunya wanita yang ia punya.apapun akan ia lakukan untuk kebahagiaan orang tersayangnya.


Bian bersandar disandaran kursi lalu memejamkan mata ,pekerjaan yang sangat padat membuatnya sangat lelah.


Tak henti hentinya clarisa menghubunginya namun ia enggan mengangkat teleponnya.


Kau saja dia merespon clarissa akan memaksanya untuk keapartemenya.


Ketika masih berkutat dengan pikirannya tiba tiba benturan keras menghantam samping mobil miliknya ,sontak ia membuka mata dan menatap siapa yang berani berani mengusik ketenangannya.


Sean turun lalu menghampiri sipengendara motor tersebut.


"apa yang kau lakukan nona" bentak sean.bukannya menolong ia malah memarahinya.


Dengan tergesa gesa nya ingin sampai kerumah ,ramia tidak mengetahui bahwa didepan sedang lampu merah,akhirnya ia tidak sengaja menabrak mobil milik Bian.


"Maafkan saya tuan,saya tidak sengaja" ucapnya menahan sakit dibagian lengan dan lututnya.


Kepalanya juga terasa sakit akibat terbentur dibadan mobil hingga sedikit memar.


Bian keluar melihat kekacauan diluar.


Ia melihat mobil nya yang sedikit tergores membuatnya marah dan memaki ramia.


"Lima ratus juta" lalu bian masuk kedalam mobilnya dan membanting pintu dengan keras.


Sean lalu menghampiri ramia lalu memberikan kartu nama dan menjelaskan tentang ganti rugi lima ratus juta.


"Apa" kaget ramia.


"nona pikir perbaikan mobil ini murah seperti motor butut nona itu" sean melihat motor ramia yang sudah tergeletak diaspal.


ramia berusaha berdiri dengan susah payah untuk mensejajarkan tubuhnya dengan sean.


"tuan tidak bisa seperti itu.ganti rugi lima ratus juta?,hah itu tidak mungkin" ramia memberanikan diri untuk bicara walaupun dalam hatinya ia sangat takut berhadapan dengan orang seperti mereka.

__ADS_1


Sean tersenyum smirk.


"Kalau nona tidak mau,polisi akan datang kerumah nona hari ini juga" ancam sean tidak main main.


Mendengar kata polisi ,ramia jadi takut .ia tidak mau ditangkap lalu dipenjara.bagaimana nasib ibu dan adiknya nanti kalau kalau dia tidak ada.


Kepala ramia menggeleng takut memikirkannya.


"Baiklah,saya akan menggantinya" ucapnya yakin.


Bebannya kali ini semakin bertambah,belum lagi ia harus mencari uang tebusan buat adiknya.


"apalagi ini ,lima ratus juta.ya tuhan"


batin nya


Dari mana ia akan mendapat uang sebanyak itu.


Dengan sisa kekuatan yang ia miliki akhirnya ramia berhasil mengangkat motornya.


Beberapa kali ia mencoba menyalakan motor itu tapi tidak membuahkan hasil.motornya mogok dan terpaksa ia harus mendorong dengan kaki yang kesakitan dan sedikit pincang.


Sesampainya dirumah ramia dibuat syok dengan keadaan ibunya yang sudah terkulai lemas tak berdaya,ia segera berlari menghampirinya.


"Ibu apa yang terjadi?" Ramia segera memangku ibunya.darah terus bercucuran membuat ramia panik dan menangis meminta pertolongan.


"Ibu,bertahanlah mia akan bawa ibu kerumah sakit" ia keluar mencari taksi dan meminta bantuan tetangga untuk membantu mengangkat ibunya.


"Cari adikmu tania,kalian harus pergi jauh dari sini jauh dari jangkauan ayahmu adnan.ibu punya sedikit simpanan dan sertifikat rumah dan rumah impianmu dulu saat bersama ayah. Rumah itu ibu tidak menjualnya,ibu takut adnan akan mengambilnya.


ambillah . Ibu menyimpannya di gudang disebuah peti milik ayahmu dulu. Maafkan ibu tidak bisa menemani kalian lebih lama lagi "


Air mata ramia jatuh dan tak henti hentinya mengalir.


"Ibu jangan tinggalkan mia. Mia takut bu,bagaimana mia akan menghadapi ini semua. Serasa baru kemarin mia kehilangan ayah dan sekarang ibu juga pergi meninggalkan mia.mia harus apa bu,hikss hikss" tangisnya kembali pecah.


Ramia tidak percaya bahwa ancaman ayah tirinya akan betul betul dilakukan.jika saja tidak terjadi musibah mungkin ramia bisa meyelamatkan ibunya dari kekejaman ayah tirinya.


"anaknya bu sarah" sapa dokter lembut. Ramia dengan cepat menghapus air matanya.


"Iyah dok ,saya anaknya" ucap ramia menahan tangis


"Mari ikut saya"


Ramia mengikuti dokter melihat jenazah ibunya untuk yang terakhir kali .


Setelah dimakam disamping ayah nya,ramia segera berpamitan dan pergi.


Belum sempat ramia keluar dari


pemakaman,awan mulai gelap,petir mulai menyambar tandanya akan turun hujan lebat beruntung saja dioemakaman itu ada sebuah tempat peristrahatan.


Ramia mempercepat langkahnya dan sedikit berlari.

__ADS_1


Suara petir dan gemuruh mulai mengelegar memenuhi tempat itu suasana nya semakin mencekam.


Ia menunduk dan menutup kedua telingannya.memang ia sangat takut ketika hujan ,hal yang paling ia tidak sukai jika sudah terdengar bunyi guntur dan petir yang saling bersahutan.


Ditengah hujan lebat tersebut ada dua pria yang sedang berlari menuju tempat peristirahatan dipemakan itu untuk berteduh.


"Akhh " umpatnya,ketika berhasil menyelamatkan diri dari guyuran hujan.


"Cepat ambil payungnya" perintahnya.


"Tapi...." ucap menggantung.


"Dasar tuan tidak punya perasaan,masa aku disuruh hujan hujanan.kalau aku sakit bagaimana ? Siapa yang akan membantunya " umpat sean dalam hati.


yah...


Hari ini bian menyempatkan diri pergi mengunjungi makan ayah dan adiknya.sudah sebulan ini ia belum pernah datang kesini lagi karena padatnya jadwal pekerjaan.


Mereka masih belum menyadari ada sosok lain ditempat itu selain mereka berdua.


"aku buru buru" bentaknya dengan kasar.sambil melirik jam yang ada di tangannya itu.


Ia hampir terlambat. Bisa bisa clarissa akan marah dan merajuk lagi,itu membuatnya terasa pusing dan sakit kepala.


Mendengar bentakkan dari tuannya,sean terpaksa menerobos lebatnya hujan menuju mobil untuk mengambil payung.


Bian melirik kearah samping,keningnya mengkerut bingung.


Seorang gadis yang terpaku dengan kedua lututnya terangkat lalu tangannya menutup kedua telingannya. Sangat jelas terlihat bahwa gadis itu ketakutan.


tidak menunggu lama ,sean datang membawa payung dan mereka segera pergi.namun sean menyadari jika disitu bukan saja hanya mereka berdua ada seseorang lagi.


Walaupun sean terlihat kaku dan dingin namun ia masih memiliki hati nurani. Ia mencoba berbicara dengan Bian untuk menolong gadis itu tapi Bian tidak menanggapi nya dan hanya diam saja.


"Ayo sean,aku bisa terlambat" bian kemudian mengambil payung yang ada ditangan sean lalu pergi menuju mobil meninggalkan sean.


Melihat bian yang pergi ,sean menyusulnya dengan segera takut nanti akan menjadi sasaran tuannya lagi.


Hari mulai semakin gelap,namun hujan belum juga reda.


Ramia benar benar sendiri sekarang di pondok


kecil itu.


"aku takut ibu ,ayah" keluh ramia


.


.


.


mohon dukungannya,like dan komennya kakak ❤

__ADS_1


__ADS_2