
sean tak henti henti mengumpat dalam hati.waktu yang semakin mendesak dan klien sudah sejak tadi menunggu,membuat sean melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.kali ini ia tidak mau kehilangan proyek yang sangat besar dan menguntungkan banyak bagi perusahaan BN group.beberapa kali mereka kehilangan kerja sama dengan perusahaan besar dari luar negeri karena kelalaian Bian sendiri.
"sepertinya mobilnya sudah pergi" gumam sean lalu turun dari mobil menuju kedalam rumah untuk memastikan keberadaan bian.
beberapa kali sean memanggil nama Bian namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam.ia semakin masuk dan naik menuju kamar dengan berlari pelan.sean berhenti seketika,ada banyak tetesan darah berceceran dilantai menuju kamar di samping tangga.
merasa penasaran iapun mengikuti petunjuk mencari sesuatu dari tetesan darah tersebut.terdengar suara seseorang yang merintih dibalik pintu kamar itu.tangan nya memegang gagang pintu lalu membukannya perlahan mencari sosok yang ia dengar tidak asing itu.
"mia" panggil sean.ia berlari cepat melihat ramia yang duduk dibawah jendela dengan memegang tangannya yang mengeluarkan darah terus menerus.pecahan gelas masih menancap dibagian lengannya.
"kak sean,tolong aku" lirih ramia.
"apa yang terjadi? dimana bian?" ucap sean marah.
Sean langsung menggendong ramia membawanya kemobil.wajah ramia pucat dan panasnya belum pulih sepenuhnya sembuh.
sepanjang perjalanan ramia terus merintih,sakitnya sudah tak bisa ia tahan.bayang bayang perlakuan bian dan clarissa masih saja ada dipikiran nya.air matanya yerus saja jatuh membuat matanya membengkak.
"tahan mia,kita akan segera sampai kerumah sakit" ujar sean menambah menacap gas mobilnya.
sean bahkan tidak menghiraukan teleponnya yang terus saja berbunyi.ia tahu pasti bian sedang mencarinya saat ini.
sesampainya dirumah sakit,Sean lalu menggendong ramia masuk kedalam dan meminta bantuan perawat agar ramia segera ditangani.ia kwatir dengan ramia,darah yang mekuar begitu sangat banyak.wajah ramia pucat dan ia sudah tidak sadarkan diri.
Dokterpun segera mengambil tindakan mengeluarkan pecahan bening yang tertancap dilengan ramia itu.
"bagaimana keadaan nya dok" tanya sean khawatir.ramia belum sadarkan diri juga.
"dia baik baik saja,panasnya juga sudah mulai turun.tapi?" ucap dokter terhenti.ia terus menatap wajah pucat ramia.
"ada apa dok" tanya sean lagi.
"hmm ini baru diagnosa sementara,tapi jangan khawatir.kalau nanti ada keluhan apapun yang sering dia rasakan segera bawa kerumah sakit,biar diperiksa lebih lanjut" ujar dokter itu lagi.
"baik dok,terima kasih"
Dokter keluar dari ruangan ramia dirawat dan meninggalkan keduanya.sean melihat wajah ramia dengan intens lalu menarik bangku dan duduk disamping tempat tidurnya.tangannya terulur menyingkirkan rambut yang sedikit menghalangi mata ramia.ditatapnya wajah itu dengan tersenyum,ia merasa kasihan dengan kehidupan yang dijalani wanita yang terbaring tak sadarkan diri dihadapannya itu.
sejak mencari tahu kehidupan keluarga ramia,sean semakin peduli pada ramia,ia juga tahu tentang ayah tirinya yang selalu menyiksannya dan juga ibunya.bahkan ia juga tahu tentang keberadaan adik ramia yang bekerja menjadi wanita malam disebuah cafe.
sean menarik napas pelan,hanya satu yang membuatnya penasaran tentang masa lalu ramia saat bersama ayah kandung nya dulu.
__ADS_1
handphone sean kembali berdering.
"apa yang kau lakukan,berani berani nya kau mengabaikan teleponku" umpat Bian dengan nada emosinya.
"maaf,aku dirumah sakit sekarang" jawab sean sambil melirik ramia.
"cepat kekantor" Bian memutuskan telepon nya secara sepihak.
sebelum pergi sean meminta suster yang merawat ramia jika nanti ramia sudah sadar untuk segera menghubungi nya.
sean keluar dari ruangan ramia lalu pergi.
tiba dikantor,sean lalu bergegas menuju ruangan bian.ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi setelah itu,sebelum masuk sean menarik napasnya panjang lalu dibuangnya kasar.lalu membuka pintu ruangan bian.
terlihat raut wajah bian yang sudah memerah,sean hanya diam kemudian mendekat.
"bughh" Bian melayangkan pukulan tepat dipipi sean.hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
sean hanya diam saja,ia tahu letak kesalahannya.
"kamu tahu,kita kelihangan proyek itu lagi. akhh" Bian memukul meja dengan keras lalu menghamburkan barang yang ada dimeja tersebut.
"ramia ada dirumah sakit" ujar sean.ia mengelap cairan merah yang ada di sudut bibirnya itu.
air mukanya kembali berubah memanas.
"ohh karena wanita itu?" bian kembali melayangkan tinjunya namun sean berhasil menangkisnya.mulutnya tak henti hentinya memaki wanita yang sudah membuat perusahaan nya rugi besar.
"Bian dia istrimu,sadarlah.dia sedang sakit" sean berusaha menjelaskan.
"apa peduliku,kau sama saja dengan wanita itu.kalian sama saja" bian kembali berteriak.
"Bian dia sakit,aku harus beritahu mommy tentang ini" kata sean.
"jangan main main denganku,aku akan membuatmu menyesal.dan wanita itu,dia akan aku buat menderita" ancam bian serius.
"apa yang kau katakan bian,sadarlah.jangan seperti ini,kau akan menyesalinya suatu saat nanti" jelas sean.
"keluar" teriak bian.ia memukul meja dengan kerasnya.
Bian sangat marah,beberapa kali ia gagal dan ini akan gagal lagi.meski ia tahu ini bukan sepenuhnya kesalahan sean tetapi ia tidak mau mengakuinya.
__ADS_1
sean masuk keruangannya,ujung bibirnya masih perih dan ia merintih pelan sambil memegang dagunya.saat akan mendudukkan bokongnya dikursi nya telepon sean berdering.
terlihat nomor baru yang terpampang jelas dilayar teleponya tersebut.iapun langsung mengangkatnya.
"hallo pak,dia sudah sadar." ucap seorang wanita dari seberang sana.dan sean sudah bisa menebak siapa wanita yang memberikan informasi tersebut.
"baik,saya segera kesana" jawab sean lalu bergegas pergi.
didepan lift sean berpas pasan dengan bian,mereka tak saling menyapa satu sama lain.dan akhirnya meraka sampai dilantai satu lalu menuju kemobil masing masing.
dirumah sakit
"suster bagaimana keadaannya" tanya sean.
"dia baik baik saja,dan hari juga sudah boleh pulang" ucap suster lalu euar dari ruangan.
sean tersenyum lalu duduk di disamping ramia.melihat itu ramia membuka matanya pelan lalu melihat sean yang juga sedang menatapnya.
"mia sangat berterimah kasih,kalau saja kak sean tidak ada pasti mia sudahhh" ucapan ramia terputus.air matanya kembali luruh.
sean hanya tersenyum,ia mengusap lembut kepala ramia.dan berusaha menenangkan nya.
"ayo,aku akan mengantarmu pulang" ajak sean,ia lalu membantu ramia bangun dari tempat tidur.
"kak,mia ingin kesuatu tempat.bisa antarkan mia kesana?" pinta ramia.
"tapi" sean masih ragu dengan kesehatan ramia saat ini.
"mia sudah sehat kak" ucap ramia tersenyum meyakinkan sean yang berdiri menatapnya intens.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
lanjut yah 😊