Gadis Pilihan Mommy

Gadis Pilihan Mommy
............


__ADS_3

tangannya mengepal kesal dan marah bahkan sean dengan berani mengabaikan teleponnya.rapat yang seharusnya dilakukan dua jam lalu,malah tertunda dengan ketidak hadiran asistennya itu.kerja sama yang akan mereka lakukan akhirnya batal sia sia.amarah bian semakin memuncak ketika melihat foto sean bersama ramia dirumah sakit.


"dia sudah semakin bergerak jauh,aku harus menghentikannya.selama ini aku membiarkan dia melakukan semaunya,tapi dia semakin menjadi" gumam bian pelan.wajahnya semakin memerah menahan amarahnya.


beberapa menit menunggu,terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar,pandangan bian fokus melihat kearah depan.


"maaf saya terlambat,ada sesuatu yang penting yang..."


"bughhh" bian melayangkan pukulannya diperut sean hingga ia terjatuh memegang perutnya yang kesakitan.sean hanya diam,ia tahu kesalahannya.lalu ia mencoba bangkit kembali sambil menunduk.


"kamu tau berapa kerugian yang saya alami,hahh" hardik bian.


"maafkan saya,saya pikir hari ini tidak ada jadwal penting.manda tidak memberitahuku" kata sean lagi.


"apa kamu bilang,hahh maaf.apa kata maaf mu bisa membuat semuanya kembali? tidak kan? kita membutuhkan investasi itu dan kau asik berpegangan tangan dengan wanita pembawa sial itu? sialan."bian melempar pulpen yang ia pegang kesembarang arah.


"apa maksudmu?" sean berani menatap bian.ia tidak suka ketika bian menyebut ramia dengan pembawa sial.


"hahahaa...kau menyukainya kan?,hahaha aku tau itu.sejak awal aku sudah tau sean" bian tertawa menyeringai.


namun sean hanya diam saja,ia tidak mau berdebat lebih panjang dengan bian.ia lebih memilih mengalah.


"pergi kau dari sini,aku tidak ingin melihatmu lagi" usir bian.


mendengar itu,sean lalu mengangkat kepalanya melihat kearah bian.


"bian kau akan menyesal,dia telah kembali.jangan salahkan aku jika suatu saat nanti aku tidak akan melepaskannya kecuali kemauan dia sendiri" batin sean menatap bian teduh.


ia merasa kasihan dengan perubahan bian yang sangat jauh berbeda saat masih kecil dulu.


merasa sean menatapnya dengan teduh,bian segera keluar dari ruangan itu.sebenarnya didalam hati kecilnya ia ingin sekali memeluk sean tapi jika teringat dengan kematian daddynya hatinya kembali merasakan sakit yang amat dalam.


.


.


.


.


"jangan Ga aku lagi gak mood sekarang.menyingkirlah" clarissa menolak ajakan angga untuk bersenang senang.namun angga menarik paksa lengannya hingga terjatuh diatas tempat tidur.


"aku akan memaksa dan kau tidak ada alasan untuk menolakku" angga maju lalu naik keatas tempat tidur.


clarissa pasrah menerima serangan brutal dari angga,lama kelamaan ia juga menikmatinya.


.

__ADS_1


.


tangannya mencengkram kuat setir mobil yang ia kendarai,bian melajukan mobilnya dengan begitu kencang.amarahnya pada sean kali ini semakin memuncak,ia dikhianati,dibohongi dan merasa tidak dihargai.


"akhh" bian mencengkram rambut nya dengan keras rasa kesal pusing telah menguasai kepalanya.


hingga tiba didepan pintu apartemen lalu ia masuk begitu saja.


"ada apa sayang?" clarissa bangun hanya dengan selimut menutupi badannya.keringat bercucuran didahinya,ia takut ketahuan oleh bian.


tanpa melihat sekeliling bian terus berjalan menuju tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya dengan kasar,ia tidak peduli dengan apa yang terjadi di tempat tidur itu yang sangat berantakan.


" ini kesempatan angga untuk pergi dari sini.hampir saja aku ketahuan,dasar si angga sialan" umpatnya dalam hati.


lalu clarissa menuju kamar mandi tempat dimana angga bersembunyi.setelah memastikan semuanya aman angga keluar dengan secepat mungkin,tapi sebelum itu angga masih sempat sempatnya menyumbui clarissa didepan pintu apartemen hingga membuat clarissa semakin kesal.


ia tidak ingin perbuatannya diketahui oleh bian,bisa bisa tamatlah riwatnya,tujuannya bisa gagal ingin menguasai bian sepenuhnya.


"sini biar aku pijat"clarissa naik keatas ranjang lalu memegang kepala bian.tangannya turun dan semakin turun kebawah,ia berniat merayu bian namun bian sama sekali tidak ada pergerakan.


"maaf cla aku sangat lelah" tolak bian.


"hmm" hasratnya belum terpuaskan yang sempat tertunda bersama angga.ia ingin melanjutkannya bersama bian namun ia ditolak begitu saja.


"sial" umpatnya.


clarissa bergegas keluar lalu melajukan mobilnya ke cafe tempat angga berada,ia tidak peduli dengan bian diapartemen itu terpenting keinginannya dan hasratnya itu bisa di tuntaskan.


.


.


.


.


usia kandungan ramia telah memasuki bulan yang ke empat,perutnya sudah mulai nampak membuncit.akhir akhir ini ia selalu menutupi perutnya itu dengan memakai baju yang agak longgar, bukan ia sengaja untuk menyembunyikan kehamilannya tapi ia takut akan kebenaran tentang kehamilannya yang nanti akan diketahui mommy dina dan suaminya bian,ramia takut dan tidak mempunyai nyali untuk mengatakannya.dia saja belum tau siapa laki laki malam itu yang bersamanya dan sudah merenggut kesuciannya.


"bibi aku takut" ucap ramia lalu duduk disamping bi sarah


"bibi juga masih memikirkan jalan keluarnya nak"bi sarah menggenggam erat tangan anak malang dihadapannya itu berusaha untuk menguatkan hatinya.


"tapi bibi,ini sudah mulai membesar.aku takut terjadi apa apa pada anakku" ramia mengelus perutnya lalu ia menitikkan air mata. jika saja ibunya masih ada pasti nasibnya tidak akan seburuk ini.


kebetulan hari ini mommy dina tidak berada dirumah,clarissa pun juga begitu.jangan ditanya bian kemana sudah pasti tidak pulang kerumah jika hari libur seperti ini bian lebih suka menghabiskan waktunya bersama istri kesayangannya yaitu clarissa.


Ini kesempatan ramia bersama bi sarah untuk kerumah sakit memeriksakan kandungannya.mobil sean datang kemudian mereka segera berangkat.

__ADS_1


Senyum mengembang diwajah sean yang melihat aura kecantikan ramia semakin memancar.ramia menjadi malu,bagaimana tidak sean sedari tadi tidak berhenti menatapnya hingga sampai kerumah sakit.


"bayinya sehat"kata dokter nita yang sedang melakukan usg.tanganya menunjuk kelayar monitor dimana bayi itu sedang aktif bergerak.


seketika ramia meneteskan air matanya.ia terharu dan tidak menyangka sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu.


"nak jangan sedih nanti si bayi bisa ikut sedih juga dan lihatlah nak,bayinya tidak sabar pengen ketemu mamanya" hibur bi sarah.


ramia sedih bagaimana ia membayangkan hidup nya kedepan.kelak nanti anaknya lahir tanpa seorang ayah dan bagaimana kalau suatu saat anaknya akan menanyakan dimana ayahnya berada.sudah pasti kalau bian tau,ia pasti akan mengusirnya membencinya dan bahkan menceraikannya.dalam lubuk hati nya ia tidak mau sampai itu terjadi,sejak menikah dengan bian ia sudah mulai menerima dan belajar mencintainya.


"mobil sean?" gumam bian,ia kemudian masuk kedalam bersama clarissa.


dari kejauhan tidak sengaja tatapan bian tertuju pada ketiga orang yang begitu sangat dikenalnya keluar dari ruangan dokter nita.


bi sarah yang mengelus perut ramia lalu ketiganya tersenyum bahagia membuat bian mengerutkan alisnya.


"dokter nita,dia kan..." batin bian .matanya turun kebawah tertutuju keperut ramia yang sedikit membuncit terlihat jelas akibat elusan dari tangan bi sarah.


"ayo sayang,ada apa sih" bentak clarissa kesal,sedari tadi bian hanya diam tak membalas ucapannya.


"biaaan"clarissa meneriaki bian yang sudah berlari meninggalkannya.


"ada apa sihh" pekiknya lalu menghentakkan kakinya kesal.ia juga berlari mengejar bian yang meninggalkannya begitu saja.


Namun bian kehilangan jejak ketiga orang tersebut.


"sial" umpat bian.tanpa menghiraukan teriakan clarissa,bian masuk kedalam mobil lalu meninggalkannya.


disepanjang jalan pikiran bian kacau,pertanyaan demi pertanyaan menghantui pikirannya,ia sudah tidak begitu fokus mengemudi.batinya berkecamuk.


"mungkinkan diaa?"


"tidak mungkin "


bian terus saja bergumam.


.


.


.


.


.


Like komen dan jadikan favorit🧡

__ADS_1


__ADS_2