Gadis Pilihan Mommy

Gadis Pilihan Mommy
___ ___


__ADS_3

Pukul satu malam ramia terbangun dari tidurnya.tenggorokannya kering,juga perutnya sangat lapar.sudah menjadi kebiasaan barunya setiap malam.


"nak mia"sapa bi sarah.


"bibi belum tidur?" tanya ramia sambil mengunyah roti coklat kesukaannya.


Bi sarah duduk menemani ramia dimeja makan.ia ingin menyampaikan sesuatu yang membuat perasaannya gelisah akhir akhir ini.


"nak mia"


"hm" jawab ramia.mulutnya penuh dengan roti,membuatnya susah bicara.


"minum dulu" kemudian ramia mengambil air putih yang diberikan bi sarah lalu diminumnya sampai habis.


"ada yang ingin bibi bicarakan" ucap bi sarah lagi.


"bi santai saja" ramia tersenyum melihat raut wajah bi sarah yang tegang dan serius.


Bi sarah menyodor kan sebuah benda yang dianggap asing oleh ramia.ia baru pertama kalinya melihat benda itu,keningnya mengkerut.diangkatnya lalu dilihatnya dengan teliti,namun ia masih belum tau benda apa sebenarnya yang diberikan bi sarah padanya.


"apa ini Bi?" tanya ramia bingung sambil membolak balikaan benda aneh ditangannya.


"kau bisa mencobanya,itu adalah tespack"


"apa itu Bi?" tanya nya lagi.


"taspack itu alat untuk mendeteksi keha..." ucapan bi sarah terhenti mendengar ketukan pintu depan rumah,ia segera pergi membukakannya meninggalkan ramia sendiri dimeja makan.


pandangan ramia teralihkan kearah tangga,dengan cahaya yang redup ia tidak dapat melihat siapa yang mengeluh kesakitan di balik tangga itu.ramia pun berjalan melihat siapa yang ada disana.


"astaga,clarissa." ramia segera mendekat membantu clarissa yang kesakitan memegang perutnya.


"minggir" usir clarissa.


namun ramia tidak memperdulikan penolakan clarissa.ia terus saja berusaha membantu clarissa yang sedang kesakitan.


"ahh perutku sakit sekali,bagaimana ini"gumamnya pelan.clarissa yang menyadari kedatangan Bian,segera menghempaskan tangan ramia lalu pura pura terjatuh.


"tolong maafkan aku,aku janji akan pergi dari rumah ini.jangan sakiti anakku,aku mohon" clarissa mengatupkan kedua tangannya seolah olah ramia lah yang menindasnya.


"clarissa"bian mempercepat langkahnya.wajah clarissa pucat dan ada darah segar yang mengalir dibagian pahanya.


"nona clarissa" panik bi sarah,ia malihat darah di lantai sangat banyak. kemudian bi sarah melihat kearah ramia yang diam terpaku.


"bian tolong selamatkan anak kita,aku mohon" pinta clarissa,ia tidak ingin kehilangan anak ini.


sebelum menggendong clarissa,bian menatap ramia dengan tajam lalu pergi membawa clarissa kerumah sakit.

__ADS_1


"bibi aku takut.bukan aku yang melakukannya,percaya padaku bi" ucap ramia ketakutan.ia takut sikap bian kepadanya akan kembali seperti dulu lagi,kasar dan suka menyiksannya.


"tenanglah,bibi percaya kok pada nak ramia" bi sarah sangat yakin,ramia tidak mungkin berbuat sekejam itu pada clarissa.meskipun ramia selalu mendapat fitnah bahkan siksaan,ramia tidak mempunyai niat sedikitpun untuk membalas nya.


"Bi aku ikut kerumah sakit yah"


"iyah,bibi akan memberitahu nyonya dina dulu" bi sarah lalu naik kekamar nyonya dina.


"ada apa Bi?" Dina masih belum sadar sepenuhnya dari tidurnya.


"anuu nyonya,ee nona clarissa..."


"ada apa,katakan yang benar.kenapa clarisaa?" bentak Dina ia sangat kesal mendengar bi sarah yang menunda waktu tidurnya.


"nona clarissa mengalami pendarahan,den bian membawanya kerumah sakit"


"apa !" Dina memegang dadanya,napasnya sesak.


"nyonya tenanglah" sarah segera masuk kedalam kamar dina lalu mencari obat yang biasa diminum majikannya saat penyakitnya kambuh.


setelah itu mereka segera menyusul bian kerumah sakit,meskipun Dina sudah melarang ramia agar tidak ikut kerumah sakit namun ramia tetap saja bersikeras ingin ikut,ia juga ingin memastikan keadaan clarissa.


tiba dirumah sakit,terlihat bian mondar mandir didepan pintu ruangan clarissa.


"bian bagaimana keadaan clarissa?" tanya mommy dina.


"mommy tenanglah" bian membalas genggaman tangan mommynya.


Ramia dan bi sarah diam tak berbicara sedikitpun.ramia merasa takut saat bian menatapnya tajam lalu berjalan mendekat kearahnya.


"apa betul kau yang mencelakai clarissa dan juga bayinya? aku tidak menyangka kau sejahat itu,aku salah sudah percaya padamu" ucap nya lalu mendorong bahu ramia,kakinya tak mampu menyeimbangkan tubuhnya yang goyah dan akhirnya ia jatuh kelantai.


tangan ramia lalu memegang perutnya yang kesakitan,tapi bian hanya cuek dan meninggalkannya begitu saja. Bi sarah segera membawa ramia pergi dari sana.


mommy dina sangat senang melihat bian memperlakukan ramia seperti itu lagi,ia pikir bian sudah mulai jatuh cinta saat melihat sikap bian yang berubah terhadap ramia selama ini.


Masih dirumah sakit yang sama,bi sarah segera memanggil dokter untuk secepatnya menolong ramia,ia takut dugaannya selama ini benar dan ramia dalam bahaya.


"bagaimana dok?" tanya bi sarah khawatir.


"tolong jaga anak ibu dengan baik.kondisinya sangat lemah,beruntung ibu cepat membawanya kerumah sakit kalau tidak kedua nyawa mereka tak bisa tertolong" jawaban dokter itu membuat bi sarah bingung.


"maaf dok,saya tidak mengerti? apa maksud dokter dengan dua nyawa?"


"usia kehamilan anak ibu sudah delapan minggu." ucapan dokter sangat mengagetkan bi sarah.ternyata apa yang menjadi curiganya selama ini adalah kenyataan bahwa ramia betul bahwa ramia sedang hamil.


"saya permisi" dokter itu lalu meninggalkan bi sarah yang masih melamun memikirkan tentang nasib ramia setelahnya.ia takut terjadi akan terjadi seuatu pada ramia jika nyonya dina dan Bian tau tentang kehamilan nya.

__ADS_1


diruangan lain,clarissa menangis sekencang kencangnya.anak yang ada didalam kandungannya tidak bisa dipertahankan lagi.harapannya hancur,semua rencana yang ia susun jauh jauh hari sia sia belaka.


"aku tidak akan memafkanmu ramia,aku juga akan membuatmu menderita selamanya" gumam clarissa,tangannya mengepal.


pintu terbuka,clarissa dengan cepat memejamkan matanya untuk berpura pura tidur.ia belum mempunyai ide saat ini untuk berbicara dengan keduanya.


"cla,maafkan mommy yang tidak bisa menjagamu"tangan mommy dina mengusap lembut rambut clarissa.


mendengar reaksi mommy dina yang masih baik padanya,clarissa pun membuka matanya perlahan berusaha membuat Bian dan mommy dina kasihan padanya.


"Mom,anakku anakku dimana" clarissa histeris sambil memukul perutnya dengan keras.demi melancarkan aksinya dan meyakinkan dua manusia dihadapannya itu, clarissa rela menahan sakit yang begitu sangat menyiksanya.


mommy dina kemudian berdiri menjauh dari tempat clarissa,ia menangis dipojokkan ruangan itu,tak tega melihat clarissa yang begitu histeris.Bian segera mendekat dan memeluknya agar ia merasa sedikit tenang.


"kembalikan anakku,dia harus mengembalikkan anakku Bi" clarissa terus saja menyalahkan ramia.


"tenanglah cla.maafkan aku,yang perlu disalahkan adalah aku,aku tidak bisa menjagamu dan anakku dengan baik.aku yang salah,maaf" mohon Bian memeluk erat clarissa.


tiba dirumah,Bi sarah sangat khawatir.dari mana ia akan memulai percakapannya dengan ramia.gadis dihadapannya itu begitu sangat polos bahkan hamilpun ia tidak menyadarinya.


"mia.bibi mohon jangan beritahukan kehamilanmu ini pada siapapun.termaksud bian dan mommy dina" ucap bi sarah menatap wajah ramia serius.


"iyah Bi,mia tau.aku akan menjaga dan merawat anak ini dengan baik" ucap ramia mengusap perutnya yang masih rata.


Teriakan Dina mampu membuat siapapun yang mendengarnya mati ketakutan,dua orang yang berada didapur merasa kaget dan segera menghampiri arah suara tersebut. ramia yang merasa namanya dipanggil segera mempercepat langkahnya.


"plak" sebuah tamparan mendarat dipipi ramia hingga meninggalkan bekas merah.


ramia terhempas beberapa langkah,dengan sigap bi sarah langsung menangkap tubuh ramia agar tidak terjatuh,mengingat kandungan ramia saat ini sangat lemah.


"wanita sialan,gara gara kau cucuku meninggal" mommy dina menyeret ramia kehalaman belakang lalu diceburkan kekolam renang.


"nyonya saya mohon hentikan" mohon bi sarah dengan linangan air mata.


"Bi ,jangan ikut campur." ucap mommy dina mengangkat telunjuknya memberi peringatan.


lima menit kemudian,tenaga ramia merasa mulai lemah.ia tidak mampu lagi mempertahankan dirinya.ramia yang tidak tau berenang sama sekali hanya bisa pasrah menerima hidupnya yang akan berakhir dikolam renang itu,ramia memegang perutnya sambil tersenyum,ia pasrah.


"nyonya tolong hentikan semua ini,ramia bisa mati"mohon bi sarah bersimpuh dikaki nyonya dina.


"mommy?"


"Bi sarah bangunlah, ada apa ini?" tanya sean memgang pundak bi sarah lalu menyuruhnya untuk berdiri.


Bi sarah segera memohon pada sean agar menyelamatkan ramia yang benar benar akan tenggelam.


sean baru menyadari ada seseorang yang akan tenggelam dikolam renang itu.

__ADS_1


"ramia aa" teriak sean panik lalu melompat kedalam kolam,tanpa memperdulikan larangan mommy dina.


lanjut yah 😊


__ADS_2