Gadis Pilihan Mommy

Gadis Pilihan Mommy
... ...


__ADS_3

Bian menyeret ramia dengan kasar,ia sangat marah dengan sikap ramia yang berusaha berani mencapuri urusan nya sekarang. tak peduli dengan rintihan ramia,bian terus menarik tangan ramia sehingga sedikit memar dibagian pergelangannya.


"sudah aku bilang,jangan campuri urusanku" ucapnya penuh emosi.


ifa terus mengejar,berusaha meyakinkan bian bahwa ramia tidak bersalah ,justru dialah yang mengajak ramia ketempat itu.tapi bian tidak mau mendengarkan penjelasan apapun, yang ada dia merasa sangat marah sekarang.


"masuk" bian mendorong ramia dengan kasar dan menutup pintu mobil dengan sangat kencang.


"maafkan aku" ucapnya lirih,ia menagis sesegukan.


beberapa menit kemudian,sesuatu mulai terasa didalam tubuhnya.perasaan aneh yang membuatnya sangat kepanasan.ia gelisah,wajahnya memerah lalu mengibaskan sedikit bajunya.


Bian melajukan mobilnya dengan kencang,sesekali ia melirik spion melihat ramia yang gelisah dibelakang sana.ia tidak sabar lagi membuat perhitungan dan memberikan pelajaran pada ramia.


sesampainya dirumah,ia segera membuka pintu mobil dan menyuruh ramia untuk turun,namun tak ada sahutan.


"panas,tolong aku" keluh ramia.tubuh bagian atasnya sudah tak tertutup sehelai benangpun, tubuhnya menggeliat.


"apa yang kau lakukan" bentak bian.ia memalingkan wajahnya, tangan nya terulur mengambil baju lalu memakaikannya kembali.


"tolong tolong " ramia terus merintih.


Dengan terpaksa bian mengangkat ramia dalam gendongan nya.bian pun kaget tiba tiba saja ramia melingkarkan tangannya dan mencoba mencium nya.ia mencoba menghindar tetapi ramia terus berusaha mendekatkan wajahnya.


"byurrr" ramia basah kuyup,bian menjatuhkan ramia di bathtup dengan kasar.melihat tidak ada perubahan,bian lalu mengangkat tubuh ramia diletakkan kelantai dan mulai menyalakan shower lalu mengguyurnya dengan menggunakan air yang sangat dingin.


bian mendesah lalu keluar kamar ramia dan meninggalkannya sendiri disana.


ia menuju balkon kamarnya ,duduk dan menyalakan sebatang rokok.kepalanya bersandar di sandaran kursi lalu menatap langit yang cerah malam itu.


"siapa yang berani beraninya memasukkan obat perangsang itu keminumanku" batin bian penasaran.


"tapi bagaimana dia bisa tau" batinnya lagi.


ia mendesah kasar.udara segar malam itu dan angin sepoi sepoi mampu membuat matanya merasa kantuk.dipejamkan lalu ia larut dalam mimpinya.


Didalam kamar mandi ramia menggigil kedinginan,seluruh badanya terasa gemetar bahkan kakinya tak mampu ia gerakkan.efek dari obat perasang tersebut sudah mulai menghilang,hanya saja tubuhnya terasa lemah akibat suhu air yang terlalu dingin.bibirnya membiru dan sedetik kemudian ia pingsan dibawah guyuran shower.


semakin malam udaranya semakin dingin hingga membuat bian terbangun lalu masuk kedalam kamar,ia naik ranjang berusaha ingin melanjutkan tidurnya kembali namun perutnya terasa lapar.ia pun bergegas turun kebawah.


langkahnya terhenti saat berada didepan pintu kamar ramia,ia menoleh sebentar lalu kembali berjalan menuju dapur.

__ADS_1


perasaannya tidak tenang dan mulai khawatir,ia terus memikirkan keadaan wanita yang sudah membuat emosinya sangat kacau itu.Bian lalu mendekat kearah pintu kamar ramia dan mendekatkan telingannya dibalik pintu.tak ada suara ramia atau pergerakan apapun dari dalam tetapi hanya bunyi gemericik air yang tidak berhenti. keningnya mengkerut dan tangannya mulai memegang gagang pintu lalu membukanya.


dilihatnya pintu kamar mandi masih terbuka lebar sama seperti ia meninggalkannya tadi, tak ada perubahan sedikitpun.ia ragu untuk masuk lebih dalam,namun entah dorongan apa kakinya terus saja melangkah ingin tau apa yang dilakukan wanita itu didalam sana.semakin dekat, dan matanya membulat melihat ramia tak sadarkan diri dengan air yang terus mengalir mengguyurnya.


"wanita bodoh" bian dengan paniknya mengangkat tubuh kaku ramia lalu diketakkan ditempat tidur.


"bagaimana ini" gumam bian.ia tidak mungkin mengganti baju ramia yang basah kuyup itu.masih bingung ,bian terus mondar mandir sambil melihat handphon nya,


mana berani dia menghubungi mommynya,yang ada Dina akan marah kalau tau bian adalah penyebab ramia pingsan.


ia harus meminta tolong ke siapa bahkan dirumah itu hanya mereka berdua tak ada satupun pelayan yang ia pekerjakan.


"clarissa...oh iyahh clarissa" ia mencari nama clarissa dihandphone nya lalu menghubungi nya secepat mungkin.


"iyah Bi ada apa?" jawab clarissa sedikit ketus,ia masih kesal dengan rencananya yang gagal dan sikap bian yang meninggalkan nya tanpa pamit dengannya saat dicafe itu.


"cla ,aku butuh bantuanmu.kerumah sekarang" ujarnya.


"ada apa" mendengar nada bian yang serius,clarissa bangkit dari duduknya lalu pergi keluar dari cafe.yah sejak kejadian tadi clarissa lebih memilih menenangkan pikirannya ditemani tania.


"baiklah aku kesana sekarang" clarissa lalu melajukkan mobilnya dengan kencang.


Bian terus mondar mandir dan sesekali mengecek dahi ramia,panasnya semakin tinggi.handphone ramia terus terusan berdering,membuat bian semakin panik.seakan mempunyai firasat buruk Dina tak henti hentinya menelpon menantunya itu.


"drett dreet" tanpa melihat siapa nama penelpon bian langsung menjawabnya.


"cepatlah cla"


"apa maksudmu Bian" jawab Dina.ia mengeryitkan dahinya.


bian lalu melihat siapa yang menelponnya itu,spontan tangannya menepuk jidatnya pelan.


"mommy" batinnya.


"dimana ramia" tanya Dina.


"hmm diaaa diaa,sudah tidur mom" jawab bian kaku dan gugup.


"perasaan mommy tidak enak bian,mommy khawatir" ujar dina lagi.


"mom,ramia baik baik saja.mommy istirahatlah,jaga kesehatan mommy dan jangan banyak pikiran" ucap bian berusaha menenangkan Dina.

__ADS_1


clarissa muncul dari pintu,mendengar percakapan bian dan mommynya.ia merasa iri pada wanita yang ia lihat terbaring lemah diranjang itu.


"cla,akhirnya kamu datang juga" bian menarik tangan clarissa mendekat kearah tempat tidur.


ditatapnya wanita itu dengan seksama,batinnya bergemuruh ingin sekali ia menampar wanita itu sekarang.


"mungkinkah???"clarissa gelisah.pikirannya mulai kacau. saat setelah meminum obat perasang itu ramia bersama bian.tatapan nya kebian lalu keramia lagi.


"apakah mereka sudahhh?" clarissa mundur beberapa langkah.tangannya langsung ditarik bian dan dibawanya lebih dekat kesisi tempat tidur ramia.


Bian lalu menjelaskan apa yang terjadi pada ramia dan memintanya untuk segera mengganti pakayan yang basah itu.


mendengar itu clarissa legah,apa yang ada dipikirannya semua salah.


demi Bian tidak mencurigainya,clarissa menyetujui permintaan bian dengan sangat terpaksa.menyentuh kulitnya saja ia sangat jijik apalagi bian memintanya untuk membersihkan tubuhnya itu.


"apa aku harus menghubungi dokter?" ucap bian masuk kekamar.


ramia terus saja menginggau memanggil nama ibu dan ayahnya.tapi ada satu nama yang disebut ramia,membuat bian dan clarissa saling menatap.


"tidak usah Bi,hanya dengan mengompresnya dia akan sembuh" ujar clarissa ia menaruh handuk basah didahi ramia lalu berdiri mengajak bian keluar dari kamar itu.namun saat hendak keluar,ramia memanggil nama itu lagi dan terus menyebutnya.


Bian menghentikan langkahnya,kali ini nama yang ia dengar itu semakin jelas.


"kak ian,jangan tinggalkan aku" tangannya terus terangat,melambai memanggil seseorang agar kembali.


Bian menoleh.


sesuatu terasa begitu sakit dihatinya,tapi ia tidak tau apa penyebabnya.


"suara itu,panggilan itu" batin bian terus menatap ramia yang sedang menginggau.


clarissa menarik tangan bian keluar dari kamar itu lalu ditutupnya dengan keras.ia kesal,bian hampir saja menaruh kasihan pada gadis itu.dan ia tidak mau itu terjadi.maka dari itu,clarissa memutuskan untuk bermalam dan ingin terus dekat dengannya,agar bian tidak mendekati ramia.


.


.


.


.

__ADS_1


.


lanjut yah ✌


__ADS_2