Gadis Pilihan Mommy

Gadis Pilihan Mommy
___ ___


__ADS_3

malam semakin larut,dua wanita tertidur dengan pulas didalam mobil milik sean.sebelumnya mereka bertiga makan bersama dan berbincang bincang hingga tidak menyadari waktu yang hampir larut.


setelah mengantar ifa,mobil sean lalu menuju kearah rumah ramia.begitu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan kewanita yang ada disampingnya tersebut,wanita yang sudah menjadi istri dari sahabatnya sekaligus tuan nya dan kenapa bisa ramia berada di rumah tua itu.


ia lalu membangunkan ramia dengan menepuk bahunya pelan.


"mia bangun kita sudah sampai" panggil sean pelan .


"hmm,ah iyak kak.maafkan aku"ia lalu bangun merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


tanpa mereka sadari,dari balkon kamar Bian melihat kedatangan sean dengan melipat kedua tangan nya. tatapannya tertuju ke wanita yang ke yang keluar dari mobil.


"hah rupa nya mereka sangat dekat,bahkan aku baru menyadarinya" gumam bian.matanya terus melihat kedua orang yang sangat dibencinya itu.


lapun masuk kekamar dan melanjutkan tidur nya yang sempat tergganggu karena mimpi buruk.


" huh...mata ini kenapa belum mengantuk juga" keluh ramia.rasa kantuknya hilang ,mungkin tadi ia sempat tidur sebentar saat diperjalanan bersama ifa dan sean.


perutnya pun juga terasa lapar.


"mengapa ahkhir akhir ini aku selalu merasa lapar" gumam ramia,iapun keluar menuju dapur,mencari sesuatu yang bisa mengisi perutnya yang keroncongan.


" rupanya sudah jam setengah tiga"gumam nya. tangannya meraih pintu kulkas, membukannya mencari sesuatu.


"syukurlah ada mi instan"


suasana malam itu sedikit mencekam,angin di luar rumah mulai riuh.horden horden berterbangan mengikuti arah angin.seketika bulu kuduk ramia merinding.


" menakutkan sekali,sepertinya akan turun hujan"ia segera memakan makanan nya dengan cepat.


bibirnya komat kamit memohon agar tidak turun hujan malam ini,ia sangat takut.


namun beberapa menit kemudian,


"dorr" spontan ramia menutup telinga nya. karena begitu kaget tangan nya tidak sengaja menyenggol piring nya lalu jatuh berantakan.


"ibu" lirih ramia.


ia mendongakkan kepalanya,matanya menangkap sosok hitam yang turun dari tangga ,berjalan menuju ke arahnya.ramia semakin takut,sosok hitam itu semakin mendekat.


" apa yang kau lakukan" tegur Bian,ia melihat ramia yang duduk dengan pecahan piring yang berserakan.


mendengar itu jantung ramia seakan berhenti berdetak,bentakkan Bian mengalahkan bunyi guntur yang bersahutan diluar sana.


"maaf tuan" ia mendongakkan kepalanya lalu berdiri,tangannya meraih sapu untuk membersihkan pecahan piring yang ia ciptakan karena ketakutannya.


"bodoh" umpat bian lagi.lalu ia menuju kulkas mengambil air minum.


"akh" rintih ramia.tanganya tertusuk pecahan beling dan mengeluarkan darah.ia berlari cepat mencuci tangannya untuk menghentikan darah yang terus mengalir.


Bian yang terus memerhatikan tingkah ramia mendenguskan napasnya kasar.

__ADS_1


"gadis ini,dia sangat bodoh.dia pikir mencuci tangannya akan menghentikan darahnya itu" gumam bian pelan dan terus melihat ramia yang panik terus mengguyur tangannya.


"ahh kenapa tidak mau berhenti juga,perihnya" ia terus memijat tangannya.


melihat itu bian sangat kesal dan menghampiri ramia. ia memegang tangan ramia dan membawanya keruang tamu.merasa heran, ramia terus menatap tangan lelaki yang menggandengnya itu,lebih tepat tangan suaminya meski ia tidak pernah dianggap sebagai istri.


tanpa sepatah katapun ,bian lalu mengobati tangan ramia.sesekali ia melirik ramia yang terus meringis kesakitan,ada sedikit perasaan aneh yang ia rasakan saat pertama kali menyentuh tangan ramia.perasaan yang baru ia rasakan lagi setelah bertahun tahun ia coba hilangkan.


"terim......."


ramia menatap kepergian bian tersenyum,ia yakin bian memiliki hati yang lembut dan itu perlu waktu.ramia juga sama sekali tidak sakit hati dengan perlakuan atau kata kata kasar bian.


.


.


.


.


pagi pagi sekali ramia bangun ,ia berniat menyiapkan sarapan buat bian sebagai tanda terima kasih nya karena sudah membantu mengobati lukanya.


dengan tersenyum ia menatap makanan yang sudah ia sajikan dimeja makan.kemudian ia menuju ke kamar bian dan mengetuk pintunya.


"tunggu sebentar" ucap bian pada seseorang di telepon nya.


"maaf,aku sudah menyiapkan sarapan nya" ramia masih saja tidak berani berucap menatap mata bian,ia selalu saja menunduk.


"iyah hallo cla" tanpa menjawab ramia,bian melewatinya begitu saja.


"Bi,tidak usah menjemputku .aku yang akan kerumahmu,kebetulan aku belum sarapan" clarissa lalu menutup teleponya secara tiba tiba.


beberapa menit kemudian clarissa sampai dan disambut oleh bian.ia juga mencium pipi clarissa lalu mengajak nya untuk sarapan bersama tanpa memikirkan perasaan ramia.


"hehh pelayan" panggil clarissa.


tangannya melambai memanggil ramia.


mata ramia terus menatap bian,berharap bian menghentikan tingkah clarissa yang memperlakukan nya seperti pembantu.


"kau berdiri disini,jangan kemana mana" tunjuk clarissa agar ramia berdiri disampingnya.


namun lagi lagi bian hanya diam saja seakan ia menutup mata dan telingannya,tak ada pembelaan bahkan ia mendukung apa yang dilakukan clarissa pacar kesayangannya itu.


.


.


.


.

__ADS_1


diperusahaan


Bian memejamkan mata,kepalanya ia sandarkan dikursi kebesarannya.pekerjaan hari sangat padat ,belum juga jadwal meetingnya dengan klien yang sempat beberapa kali ia tunda.


"tok tok"


"masuk"


"apa kau sudah menemukannya" tanya bian sambil memejamkan matanya.


"belum" jawab sean singkat.


"sepertinya akhir akhir ini kamu sudah mulai berani" bian mengatur posisi duduknya ,menatap sean tajam.


"apa maksudmu"


jujur sean tidak ingin seperti ini,kesalah pahaman bertahun tahun dan kebencian yang ada didalam diri bian membuatnya sangat tersiksa.


"aku peringatkan,jangan pernah mencampuri urusanku.dia istriku,aku berhak mengaturnya dan melakukan apapun padanya" tegas bian.


"aku harap kamu tidak akan menyesal.jangan menyakitinya,semua itu bukan semata mata keinginannya.ramia juga terpaksa" ujar sean.


"ohh jadi maksudmu mommy yang salah" senyum bian sinis.


sean membuang napas kasar.percuma saja ia berdebat dengan bian,ujung ujungnya tidak ada penyelesaian sama sekali.


tanpa permisi,sean keluar dari ruangan bian. ia merasa sudah tidak mengenali bian sama sekali,selain karena kehilangan ayah dan adiknya, clarissa sangat berpengaruh besar atas perubahan sikap Bian .


sore ini Bian pulang lebih awal,moodnya sangat berantakan.ia melajukan mobilnya dengan kencang hingga membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk sampai kerumah.


mendengar ada yang datang ramia buru buru keluar rumah,keningnya mengkerut,ia melihat bian keluar dari mobilnya ,tidak biasanya bian pulang secepat ini.


"ahkk" bian melonggarkan dasinya lalu menjatuhkan bokongnya dengan kasar.


ramia mendekat,berjongkok lalu melepaskan sepatu nya.


bian hanya cuek membiarkan ramia melakukan semaunya.setelah itu ramia naik keatas menyiapkan air hangat dan perlengkapan mandi suaminya.


"maaf,air hangatnya sudah saya siapkan" ujar ramia pelan.


"hmm" bian kemudian naik membersihkan diri.


melihat kepergian suaminya ,ramia segera menuju kedapur untuk membuat makan malam.


.


.


.


.

__ADS_1


ok lanjut yah ✌


__ADS_2