
Dita tersenyum bahagia melihat gadis kesayangannya terlihat sangat cantik.gaun merah dengan belahan bagian depan yang memperlihatkan paha yang putih mulus itu ditambah dengan mahkota kecil membuat bak terlihat seperti bidadari.
Setelah melalukan ijab kabul tiga jam yang lalu kini keduanya bersiap untuk melakukan resepsi yang akan dihadiri para rekan rekan bisnis dan petinggi perusahaan. Terlihat Bian yang duduk tenang menatap ponsel nya ,entah apa yang ada dipikirannya saat ini.
Dita berjalan menghampiri Bian lalu memegang pundaknya pelan. Bian menoleh melihat mommy nya yang tersenyum bahagia.
"Bi,mommy sangat bahagia hari ini. Mommy tau perasaanmu tapi mommy harap kamu bisa menerimanya.dia sendirian dan juga dia anak baik" ucap dita lalu pergi meninggalkan Bian.
Bian hanya duduk terdiam tanpa mau merespon perkataan mommynya.jujur hatinya hancur saat ini demi kebahagiaan mommy ia merelakan kebahagiaan nya sendiri.
Jangan tanya dengan perasaan clarissa saat ini,pastinya ia tidak akan rela begitu saja melepaskan Bian.
Telepon Bian berdering,ditatapnya dengan intens siapa yang menghubunginya itu.
Bian membuang napasnya kasar,terasa sesak begitu menyelimuti dadanya saat ini.
"Bi,kamu tega.aku benci kamu Bi hiks hiksss" tangis pilu Clarissaa.
Mendengar tangisan clarissa,bibirnya terasa kaku,hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan untuk clarissa dan kali ini harus dengan kata kata apalagi ia menenangkannya.
"Bi jawab akuu" teriak clarissa sampai suaranya terdengar serak.
Bian memejamkan mata,pikiran kacau saat ini.kemauan mommy tidak bisa terbantahkan.
"Maaf cla.aku janji setelah ini aku akan menemuimu " ucap Bian
"Oke aku pegang janjimu Bi,kalau tidak kamu tau kan apa yang akan aku lakukan" clarissa mulai mengeluarkan senjatanya untuk mengancam Bian.
"Cla jangan nekat, oke sudah yah.hmmm" Bian berusaha menenang clarissa lagi
Disebuah ruangan seorang gadis duduk dengan tenangnya.wajahnya tertunduk lesu,air mata yang terus mengalir membuat MUA kesulitan memoles wajahnya.sudah beberapa kali mereka melakukan perbaikan namun gadis itu terus saja mengeluarkan air mata.
Salah seorang asisten mua pergi melaporkan hal tersebut ke dita untuk menghentikan tangis ramia.
Dita kemudian segera menghampiri ramia.
"ada apa? tadi dia terlihat baik baik saja" batin dita.
"Sayang ada apa?" Dita mengambil kursi lalu duduk berhadapan dengan ramia,tangan dita terulur menyeka air mata ramia akan jatuh.
" tante" ucap ramia pelan.
Dita tersenyum menatap ramia ia kemudian memeluk nya erat.
"Mulai sekarang jangan panggil tante lagi yah,,,panggil mommy " dita menyeka air mata gadis itu lagi.
"Mo mom mommy...aku rindu ibu "
"Ibumu juga pasti merasa sangat bahagia melihatmu menikah dan akan ada yang menjagamu sekarang" dita berusaha menenangkan ramia.
__ADS_1
"Aku bahagia dipertemukan dengan wanita sebaik mommy,mia sangat bahagia" ramia kembali memeluk wanita yang sejak pertama ia sudah menganggap nya seperti ibunya sendiri itu.
Disela sela percakapan mereka seseorang muncul dan menyapa ramia.
"wahh mia,kamu cantik.sumpah" memvuat ramia menoleh ,ia sudah bisa menebak dati suaranya.
"ifa" ramia tersenyum.
ifa kemudian memeluknya.
"Maaf yah mia,aku terlambat. Tapi mia kamu cantik aku saja hampir tidak bisa mengenalmu tadi" ifa tak henti hentinya memuji kecantikan sahabatnya itu.
Ramia pun menangis bahagia.rupanya masih ada yang menyayanginya dengan setulus hati.ia sangat beruntung mempunyai sahabat seperti ramia dan sosok wanita penyayang seperti ibunya itu.
"Sudahlah,,,lihat itu riasanmu jadi hancur kan.gadis mommy jelek lagi kan?" dita mencubit pelan pipi ramia.lalu ia memberi kode ke MUA nya untuk memperbaiki riasannya lagi.
Setelah selesai kedua mempelai tersebut berjalan menuju tempat resepsi.Bian yang enggan menggandeng tangan istrinya itu membuat ramia kesusahan berjalan mengikuti Bian yang langkahnya begitu cepat.
Sean yang melihat keduanya hanya bisa geleng geleng kepala.iapun mendekati ramia.
"Nona sini biar saya bantu" ucap sean menawarkan.
"Tidak usah tuan asisten aku bisa sendiri" lalu ia terus berjalan mengekori Bian.
Ramia tidak menyangka yang ada dihadapannya saat ini,ternyata tamu yang hadir sangat banyak dan bukan orang orang sembarangan.
"Ternyata apa yang di katakan ifa dulu sama dengan yang dikatakan MUA yang mendandaninya,ternyata suaminya orang terkaya nomor satu se asia dan aku sangat beruntung menikah dengannya" batin ramia.
Bahkan pujian yang ditujukan untuk ramia pun tidak membuat Bian meliriknya.
Sudah empat jam berlalu dan tamu masih saja berdatangan.kami ramia terasa pegal,ia beberapa kali memegang betis dan pahanya yang mulai lemas. apalagi ia tidak biasa memakai sepatu tinggi seperti itu.
Keringat bercucuran didahi ramia,ia kelelahan.Dita yang menyadari itu segera menghampiri ramia.
"kamu pucat sayang" Dita mengajak ramia duduk sebentar dan membiarkan bian sendirian menyapa tamunya.
"Mom aku haus" ramia memegang tenggorokannya yang terasa kering itu.ia sudah tidak tahan.
"Bi,mommy akan bawa istrimu kekamar,kamu bisa kan sendiri?" Mendengar itu Bian hanya menganggukkan kepala lalu berbalik mengobrol. Ia tidak sama sekali mau melihat keadaan istrinya atau sedikit peduli padanya.
Bian melihat jam ditangannya,ternyata sudah pukul sembilan malam ia teringat dengan janjinya bersama clarissa.
Segera bian melangkahkan kakinya menuju tempat dimana ia akan menginap semalam bersama istrinya.
Bukannya ia mau menemui ramia ,tetapi ia mau melihat mommynya disana.jika ada mana mungkin ia bisa meninggalkan gadis itu sendirian.
"Tuan" sapa sean yang mengejuntkan langkah Bian yang sedang terburu.
"Mana mommy" tanya bian singkat.
__ADS_1
"Ada dikamar menemani nona" ucap sean
"huhhh" bian membuang napasnya kasar
Bian masuk dan melihat mommynya yang asik mengobrol dengan istrinya itu.
"Eh Bian masuklah,mommy akan pulang. Sean dimana?" Ucap dita sambil tersenyum bahagia.
Mendengar namanya disebut Sean memunculkan kepalanya dibalik pintu sambil tersenyum.
"Disini tante" Ucapnya dengan senyum termanis menurutnya.
Sean sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.sejak papanya meninggal dalam kecelakaan bersama suaminya, Dita berjanji akan merawat dan menyayangi sean seperti Bian.tidak ada perbedaan sama sekali.
Hanya Sean yang merasa perlakuan Dita yang begitu berlebihan padanya membuat nya tidak enak hati.
Sean lebih memilih tinggal di apartemennya sendiri. Ia berjanji akan setia bersama keluarga itu seperti ayahnya dulu.
"ayo sean kita pulang" dita kemudian keluar laku menutup pintu meninggalkan anak dan menantunya itu .
Ramia masih duduk terpaku dan tertunduk,ia tidak berani menatap bahkan menyapa lelaki yang sudah berstatus sah sebagai suaminya itu.ini pertama kali ia bersama seorang lelaki berdua disatu ruangan seperti ini,jantungnya semakin terpacu kencang tangannya yang mulai dingin dan terlihat pucat.
Bahkan Bian.
Ia pun acuh dan tak mau menyapa ramia. Bian berjalan mengambil pakayan yang sebelumnya sudah disediakan sean dan berjalan menuju kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Setelah selesai membersihkan diri,Bian keluar ia melempar asal handuk yang dipakai untuk mengeringkan rambutnya,membuat ramia terlonjak kaget.
Ramia masih setia dengan duduk nya tersebut tanpa bergerak sedikitpun. ia belum pernah melihat wajah suaminya dengan jelas.
Bian keluar dari kamar lalu membanting pintu dengan begitu kerasnya membuat ramia kaget dan bertanya tanya dalam hati.
"Ibu aku rindu bu" batin ramia. setetes air mata nya lolos begitu saja.
Besok ia akan kerumah mertuanya dan memulai hidup baru disana bersama suaminya.
"Jujur aku sangat takut,dia bahkan tidak mau bicara denganku sedikitpun.aku harus apa Bu,aku tidak tau,aku bingung " batin ramia.
Iapun langsung merebahkan dirinya,badanya terasa berat. Pergelangangan kakinya masih terasa sakit walaupun sudah sedikit berkurang karena mommy Dita memijatnya setelah acara tadi.
.
.
.
.
tinggalkan jejak yah kak 😊
__ADS_1
like dan komen 👍