
"Oke anak anak!, sebelum kita mulai jam pelajaran, SILAHKAN!, BAGI ANAK ANAK YANG BERATRIBUT TIDAK LENGKAP!!. HARAP MAJU KE DEPAN!". Ucap Guru piket menegaskan.
'Kenapa sekarang harus razia sih!. Trus Revan gimana?'. Batin Kyara kebingungan.
Skip. Jam istirahat.
"Kasian banget kan anak anak yang atributnya pada ga lengkap". Suara anak anak perempuan yang sedang bergosip.
"Hahahahah, tapi jadi pada gosong deh mukanya".
"Cowo gue ada di situ tau,,".
"Ehh tapi yang aneh tuh, kok bisa ya bang Revan ada disitu. Kayak gamungkin aja liat dia ga pake atribut lengkap, herman deh". Ucap salah seorang, mendengar nama laki nya disebut Kyara pun langsung mendengarkan gosipan mereka.
"Hah??, emang dia ga pake apaan?". Tanya yang lainnya.
"Dasi, lupa deh kayaknya ayang guwee".
__ADS_1
"Dihh ayang guwe ya itu, hahahaaha". Yang lain malah ngaku ngaku.
Kyara pun berjalan ke arah mereka. "Ehh, yang dihukum tadi sekarang dimana?". Tanya Kyara.
"Kenapa emang?, Lo mau nyusul?". Tanya salah satunya.
"Ada cowo lo ya disitu?". Yang lain menyahut. Kyara hanya membalas dengan tersenyum dan mengangguk angguk kan kepala nya.
"Masih di ruang kepsek, kayaknya ngedata nama nama yang tadi di hukum". Jawab mereka.
Saat ia sampai disana, pintu ruangan kepsek masih tertutup. Ia hanya bisa menunggu diluar dengan panasnya terik matahari, menunggu dengan keringat dingin yang terus terusan mengucur, ntah apa yang akan didapatkannya saat pintu itu terbuka, apakah hal baik atau buruk. Semoga saja itu hal baik. Pikirannya berkecamuk.
'Ehh-ehh wait wait wait. Kok gue malah mendramatisir banget sih anjayy'. Batin Kyara berucap. Disaat ia masih membuat kronologi di pikirannya, pintu pun terbuka, ia langsung cepat cepat membuang isi pikirannya dan berlari ke arah pintu.
Ia melihat Revan yang masih berbicara dengan Kepsek sedangkan anak anak lain sudah bergerombolan ingin cepat cepat keluar.
"Dia ngapain sih?". Gumam Kyara pelan. Ia tetap sabar menunggu Revan keluar, tapi ternyata Revan malah keluar barengan dengan kepala sekolah.
__ADS_1
"Ehh nak". Sapa Pak kepsek.
"Iya Pak". Jawab Kyara sambil menunduk dan tersenyum manis.
"Yaudah ya Revan lain kali jangan diulangi lagi. Kamu harus bisa jadi contoh buat anak anak yang lain". Ucap Pak kepsek kemudian pergi kembali masuk, sepertinya ia hanya ingin mengantar Revan keluar saja sambil sedikit berbincang. Tapi sebelum pak kepsek benar benar tak terlihat Kyara sedikit mendengar gumaman beliau. 'Beginilah kalau anak anak dinikahkan cepat cepat. Semua yang berhubungan dengan sekolah jadi terhambat'. Gumam pak kepsek.
Kyara langsung mengernyit bingung, tapi tak begitu memperdulikan. "Apa kata nya?". Tanya Kyara sambil memegang tangan Revan.
"Katanya jangan suka nyimpen dasi sembarangan, disusun rapi. jangan sampe suaminya kena jemur lagi". Ucap Revan sambil mencubit hidung Kyara gemas. Kok istri kecilmya sekarang jadi perhatian yaa. Pikirnya.
"Serius Pann, Lo harus nya bilang aja tadi dasi lo di palak adek kelas". Ucap Kyara.
"Trus ntar lo dong yang dihukum". Ucap Revan.
"Ya kan emang gue yang salah, mau gimana lagi". Jawab Kyara.
"Udahlah, kali ini biar gue jadi suami yang bisa lo andelin. Lain kali jangan diulang". Ucap Revan sambil mengacak acak rambut Kyara
__ADS_1