
Mendengar ucapan Revan mebuat Kyara kesal dan sakit hati, tapi ia akan tetap diam membisu. Ia memilih menuruti perkataan Revan, ia membuka bajunya dan langsung memakai jaket yang sedikit kebesaran ditubuhnya. Ia sudah tak perduli walau tubuhnya dilihat oleh Revan, toh Revan juga suaminya. Pikir Kyara.
Kyara merasa lebih baik dari pada tadi saat pakaian nya masih basah. Ia sedikit melirik pada Revan. 'Bajunya sendiri juga basah'. Batin Kyara. Tapi tetap ia diam tak memberikan komentar.
"Nih makan!, gausah lo liatin gue". Titah Revan sambil menaruh kantungan yang lain disamping Kyara. Kyara jadi kelabakan karna ketahuan melihat Revan. Ia langsung membuang mukanya.
"Lo mau makan ga,, hah?". Tanya Revan, nada nya masih jutek. Seketika Kyara langsung mengambil kantungan plastik itu. 'Roti sama air minum aja?, mana cukup ini'. Batin Kyara saat melihat isinya. Ia pun langsung memakan roti tersebut.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di apartmen Revan. Kyara malas sekali kembali ke rumah ini, lebih tepatnya malas berduaan dengan Revan. Ia takut.
"Ayo!, cepet masuk!". Ucap Revan, ia menarik tangan Kyara karna Kyara hanya diam saja didepan pintu. Saat didalam rumah Revan langsung meninggalkan Kyara begitu saja dan pergi kearah kamar mandi dapur.
__ADS_1
Kyara bingung harus berbuat apa sekarang, canggung rasanya mau berbuat sesuatu. Ia pun pergi ke kamar bersiap siap akan pergi mandi. Berhubungan badannya pun kini sudah lengket akibat latihan ditambah lagi kena hujan tadi.
"Capek banget". Gumam Kyara sembari ia keluar dari kamar mandi. Ia pergi ke ruang ganti dan bertemu dengan Revan yang sedang mengambil pakaian. Sepertinya Revan habis mandi juga di bawah. Ia berusaha bersikap biasa saja. Anggap Revan tak ada disitu, pikirnya. Ia pun juga ikut mengambil pakaiannya.
"Jangan lupa turun". Ucap Revan sebelum ia keluar dari ruang ganti. Ia akan berganti dikamar mandi bawah, membiarkan Kyara dengan tenang.
Dengan cepat Kyara berganti pakaian, ia berencana akan turun langsung ke bawah sesuai dengan apa yang Revan suruh. Tapi rasanya ia sangat capek, memilih duduk sebentar di pinggir kasur.
"Oke, makasi ya bang". Ucap Revan pada kurir makanan. Ia pun menutup pintu setelah sang kurir pergi. Revan membelikan Kyara makanan, yakin Kyara belum makan sedari pagi. Satu buah roti dan air mineral yang dibelinya tadi tidak akan cukup untuk membuat Kyara kenyang.
Ia fokus menata makanan dimeja, berharap bisa berbaikan dengan Kyara langsung tanpa berdebat. Sudah lebih lima belas menit ia menunggu Kyara turun tapi tak kunjung juga dilihatnya. Ia menyusul Kyara ke atas takutnya Kyara tertidur.
__ADS_1
'Emang kebo!'. Ucap Revan dalam hati. Ia melihat Kyara sudah pulas tertidur di pinggir kasur.
"Yang,,". Bangun Revan dengan lembut. Kyara tak berkutik.
"Kyara,, ayo bangun sayang". Panggil Revan sambil mengusap kepala Kyara. Jujur memang ia sangat merindukan Kyara. Apalagi sedari pagi mereka sudah bertengkar.
Badan Kyara memang sedikit hangat, tapi Revan tak begitu menyadarinya. Kyara merasa ada yang menyentuhnya langsung terbangun.
Kyara menatap Revan. "Laper ga?". Tanya Revan dengan lembut. Perilaku Revan sekarang membuat Kyara mengernyit kebingungan.
"Ayo turun, biar lo makan". Ucap Revan, Kyara hanya bisa mengikuti Revan. Perutnya memang terasa kosong, tapi selera makan nya sedang pergi ntah kemana
__ADS_1