Gairah Cinta CEO Bastard

Gairah Cinta CEO Bastard
Tidak Ada Kata Menyerah Dalam Kamus Ku


__ADS_3

Namaku Balqis Nabillah, biasanya dipanggil Kisss oleh orang-orang terdekat ku. Aku ingin berbagi sepenggal kisahku dalam merintis karir ku sebelum menjadi seorang penulis dan sesudah menjadi penulis.


***


Aku termenung seorang diri di dalam kamar. Aku memandang lurus keluar jendela. Masih terngiang di telingaku nasehat ibu beberapa saat yang lalu.


Tiga puluh menit yang lalu ibu menelponku, beliau sedang berada di Malaysia. Ibuku adalah TKW di sana, sulitnya ekonomi membuat ibuku harus merantau ke negeri orang.


"Mak, pulanglah ke Aceh. Biarkan aku yang bekerja saja! Mamak sudah tua dan kami semua sudah dewasa. Biarkan kami saja yang bekerja sekarang dan mamak tinggal di rumah merawat adik-adik!" ujarku pada ibu dengan suara yang bergetar menahan tangis.


Aku sedih mendengar cerita dari Tante ku yang berada di Malaysia. Dia mengatakan ibuku di sana hanya makan nasi dengan lauk mie instan.


Ibuku rela menyiksa diri banting tulang dan menahan lapar demi menghemat uang agar bisa mengirimkan untuk kami anak-anaknya.


Sungguh, aku tidak tega. Hatiku hancur, rasanya saat itu juga aku menyusul ibuku ke Malaysia dan membawanya pulang ke Aceh.


Namun, aku tak memiliki uang karena gaji ku hanya delapan ratus ribu perbulan.


"Iya, Nak. Mamak akan pulang! Tapi, bukan sekarang. Nanti saat tabungan mamak banyak. Agar saat pulang nanti mamak punya uang untuk buka usaha dan menggugat cerai ayah!"  balas Ibu ku dengan nada pelan.


Aku tahu dia juga sedang menahan tangisnya di sana. Aku mengepalkan tangan ku erat berusaha menahan rasa sesak yang mencekik leher ku.


Perceraian adalah hal yang paling sangat di takutkan dan di benci oleh anak-anak. Namun, apa boleh buat karena aku mengerti keadaan ibuku.


Dulu ayahku adalah anak orang kaya di Aceh Utara. Kakek ku merupakan seorang koalisi dan direktur utama perusahaan Bumi Gas di Aceh pada tahun 80-an.


Lahir dari keluarga kaya membuat ayahku menjadi sosok pemalas karena kebutuhannya di fasilitasi oleh kakek ku. Tidak memiliki sosok ibu kandung membuat hidup ayahku tak terurus.


Karena kakek ku memilih menikah lagi dan memiliki banyak anak. Aku tidak tahu bagaimana lingkungan membentuk ayahku menjadi sosok pemalas.

__ADS_1


Kata orang-orang ayahku dulu terbiasa hidup mewah, suka foya-foya dan mengkonsumsi ganja. Entahlah aku tidak tahu apa semua itu fakta atau fiktif belaka.


Namun, kemanapun aku pergi orang-orang pasti mengenal ayahku, kata mereka ayah ku adalah orang yang paling kaya di masa lalu.


Setelah kakekku meninggal kehidupan keluarga kami semakin hancur karena tidak ada lagi yang memberikan uang untuk ayah.


Perusahaan kakek bangkrut.


Singkat cerita dari aku kecil, sehingga aku berumur 21 tahun. Ayahku tak lagi memberikan nafkah lahir pada ibuku. Bertahun-tahun ibu ku yang banting tulang memberikan kami makan.


Ayahku hanya memberikan uang belanja sebulan sekali cukup untuk sekali makan.


Apa aku membenci ayahku? Jawabannya adalah TIDAK sama sekali.


Hanya saja aku belajar banyak akan pahitnya hidup dari sosok ayah dan ibuku. Bila aku menjadi pemalas maka aku akan menjadi seperti ayahku.


Aku terpaksa berbohong pada ibu karena tak ingin dia tersiksa karena memikirkan bagaimana kami makan sehari-hari.


"Alhamdulillah, kalau begitu mamak akan tabung banyak setiap bulan agar bisa cepat pulang dan hidup bersama kalian lagi!" balas ibu ceria di seberang sana.


Itu lah percakapan terakhir ku dengan ibu tadi. Tidak lama lagi ayahku dan ibu akan bercerai.


Aku dan para saudara ku merupakan anak broken home. Kami terbiasa mendengar dan melihat ayah dan ibu bertengkar setiap hari.


"Kenapa sangat sulit untuk bahagia, sih?" 


Aku menangis seorang diri di dalam kamar sampai aku terlelap. 


Keesokan harinya aku kembali bekerja menjadi pelayan di restoran. Hari-hari ku jalani dengan lapang dada. 

__ADS_1


Tak sedikit aku mendapatkan pelanggan angkuh yang merendahkan ku. Bahkan, nama-nama binatang mereka lontarkan untukku.


Aku gak sanggup menahan panas telinga ku setiap harinya mendengar kata-kata kasar dari bos dan pelanggan.


Akhirnya aku memilih untuk resign dari sama. Lalu pulang ke kampung melamar kerja di salah satu warung bakso di dekat rumah.


Sebelumnya aku tinggal di kos.


Alhamdulillah aku diterima dan gaji ku di sana lebih banyak dua ratus ribu. 


Lagi-lagi aku bersyukur karena mendapatkan bos yang sangat baik hati. Namun, aku memiliki senior yang cari muka.


Aku tersiksa mengerjakan pekerjaan berat sedangkan mereka mengerjakan pekerjaan ringan. Namun, aku tak mengeluh karena yakin Allah itu tidak tidur.


Hingga waktu berjalan begitu cepat. Minggu berganti bulan dan aku telah bekerja selama lima bulan di warung bakso.


Alhamdulillah senior yang cari muka telah resign dan di pecat. Junior yang menggantikan mereka sangatlah baik etika nya. Aku berteman baik dengan mereka dan hari-hariku sekarang berjalan mulus tanpa ada kekesalan dalam hati sebab junior ku bisa diajak kerja sama.


Ibuku juga telah pulang dari Malaysia setelah tiga tahun merantau di negeri Jiran. 


Ibuku tak jadi menggugat cerai ayahku karena tak memiliki uang untuk membayar pengacara. Sebab ibuku ditipu oleh agen yang membawanya pulang.


Mohon dukungannya ya kakak. Klik love dan berikan komentar nya. Bantu cerpen author menang 🥰🥰 Ini merupakan kisah nyata author ya 😎 jadi gak ada yang lucu, cuma ada bawang.


Caranya klik Profil author dan ada cerpen di situ.


Ini Covernya.


__ADS_1


__ADS_2