
Sementara Ziva yang sudah berhasil memanjat sampai puncak dan sudah dekat pada tembok pagar, tangannya berusaha meraih pada tembok namun belum bisa dicapai.
"Kenapa sulit sekali? Padahal jaraknya terlihat tidak begitu jauh." Tidak berhasil meraih tembok menggunakan tangannya kini Ziva menggunakan kakinya.
"Iya, ayo sedikit lagi Ziva kau pasti bisa." Kata Ziva dengan terus menjulurkan kakinya pada tembok pagar Mansion.
"Hah, akhirnya sudah bisa menempel." Saat kaki yang baru saja berhasil menempel pada tembok pagar, Ziva justru dibuat bingung dengan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
"Bagaimana ini? Kakiku, apa lagi yang harus aku lakukan selanjutnya?" Yang tadinya dengan sangat berani memanjat sampai diatas kini justru Ziva dibuat ketakutan akibat tingkahnya sendiri.
"Kenapa tinggi sekali?" Ucap Ziva yang mulai ketakutan saat ia menundukkan kepala melihat kebawah.
Dengan ketakutannya akhirnya Ziva mengurungkan niatnya untuk melanjutkan aksinya melompati pagar. Namun apa yang terjadi saat Ziva akan kembali menarik kembali kakinya dari tembok?
Ya, gadis itu benar-benar mendapatkan kesialannya lantaran pada akhirnya ia harus terjatuh dari atas pohon mangga yang cukup tinggi saat kakinya akan ia tarik kembali.
"Aaaaaaa....." Teriak Ziva dengan sekuat teganya saat detik-detik ia mulai terjatuh.
Brugh.
"Aku sudah mati, selamat tinggal dunia." Ucap Ziva dengan mata yang masih ia pejamkan dengan erat.
"Tunggu dulu." Tangan Ziva meraba sesuatu yang terasa begitu keras dan tercium seperti aroma parfum yang tidak asing baginya.
"Apa ini bau surga? Hum?" Ucap Ziva seraya hidungnya mengendus-endus pada aroma wangi tersebut.
__ADS_1
Cukup lama Ziva terus mengendus aroma wangi tersebut sampai pada akhirnya kedua matanya terbuka secara perlahan. "Hah... siapa kau? Apa kau seorang malaikat?" Tanya Ziva saat melihat seorang pria tepat didepan matanya.
"Tunggu, aku seperti pernah melihatmu." Ziva menyipitkan kedua matanya mencoba menatap dengan seksama wajah siapa yang terlihat tidak asing baginya itu.
"Kau!" Teriak Ziva saat melihat jika pria yang ada didepan matanya itu adalah Rian. Dengan tubuhnya yang dipobong oleh Rian, spontan Ziva pun langsung berusaha untuk turun.
Namun belum sempat Ziva turun, Rian justru melepaskan tubuh Ziva begitu saja hingga membuat gadis itu terjatuh direrumputan halaman milik Rian.
Bugh.
"Aww, pinggangku." Ziva yang terjatuh pun langsung bangun dengan sendirinya sembari mengusap pinggangnya yang kesakitan akibat dijatuhkan oleh Rian.
"Kenapa kau menurunkanku begitu saja, hah! Ini kan sakit!" Pekik Ziva dihadapan Rian dengan sangat kesal.
"Siapa yang mengajarimu naik keatas pohin setinggi itu?" Tanya Rian seraya kedua tangannya yang dilipat didada.
Dengan senyum menyeringainya lantas Rian mendekat pada wajah Ziva lalu menarik dagu gadis itu dengan sangat dekat pada wajahnya. "Kira-kira hukuman apa yang pantas aku berikan pada gadis keras kepala sepertimu ini, hum?"
"Jauhkan tanganmu!" Pekik Ziva seraya menghempas tangan Rian yang menempel pada dagunya.
"Alex."
"Iya tuan." Sahut Alex saat dipanggil oleh Rian.
"Sudah kau siapkan?" Tanya Rian yang membuat Ziva menatap bingung kearah Rian dan Alex secara bergantian.
__ADS_1
"Sudah tuan." Jawab Alex seraya mengangguk.
Dengan mengedipkan satu mata kearah Alex dan para bodyguard lainnya, tiba-tiba tangan Ziva langsung ditarik oleh beberapa bodyguard Rian dan dibawa masuk kedalam Mansion.
"Apa-apaan ini! Lepaskan!" Pekik Ziva dengan mencoba memberontak saat dirinya dibawa paksa masuk oleh beberapa bodyguard Rian.
"Aku bilang lepas!"
"Hey Rian! Apa yang mau kau lakukan! Katakan pada orang-orang bodohmu ini untuk melepaskan aku!" Teriak Ziva yang semakin jauh dibawa pergi oleh bodyguard Rian.
"Astaga, kenapa gadis itu sangat berani memanggil nama tuan secara langsung?" Gumam Alex yang tidak menyangka jika Ziva akan seberani itu memanggil Rian langsung dengan namanya.
"Bukankah dia sangat berbeda dengan gadis lain, Alex?" Tanya Rian pada sang asisten pribadinya.
Alex mengangguk cepat. "Iya tuan, dia sangat berbeda karena dia sangat berani melawanmu." Kata Alex.
Rian langsung menatap Alex dan seketika Alex pun menundukkan pandangannya dari tatapan Rian. "Apa aku cocok untuknya?"
"Hah, e-em... te-tentu saja tuan. Apa pun yang kau sukai sudah tentu pasti cocok denganmu." Kata Alex dengan gugup lantaran takut salah bicara.
Dan sementara itu, Ziva yang tadinya ditarik masuk kedalam Mansion Rian oleh beberapa bodyguardnya, kini dibawa kekamar dan dikuncinya dari luar oleh mereka.
"Apa yang kalian lakukan! Keluarkan aku!" Teriak Ziva dengan sangat kencang seraya menggedor pintu berulang kali berharap agar pintu bisa dibuka.
"Rian brengsek! Keluarkan aku!" Teriak Ziva lagi namun tidak diindahkan oleh para bodyguard Rian.
__ADS_1
"Argghh... sial!" Ziva kini duduk dilantai kamar dengan kekesalannya karena dikunci didalam. Gadis itu terus saja menggerutu didalam kamar seraya sesekali menggedor pintu berharap ada orang yang bisa mengeluarkannya dari sana.