
"Sekarang pakai ini, Nyonya." Amrita duduk dihadapan Ziva lalu memakaikan higls dikakinya.
"Apa yang kau lakukan? Bangun lah aku bisa memakainya sen--"
"Tidak apa-apa, Nyonya. Cepat lah atau tuan akan datang kesini karena terlalu lama menunggumu di altar pernikahan nanti." Ujar Amrita memotong ucapan Ziva. Dengan pasrah lantas Ziva membiarkan Amrita untuk memasangkan higls itu dikakinya.
Begitu selesai memakaikan higls itu pada Ziva, tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka. Dilihatnya oleh Ziva dan Amrita sosok seorang pria tengah berdiri diambang pintu.
"Kau sudah Siap?" Tanya sosok pria itu pada Ziva. Sosok pria itu pun masuk dan melihat penampilan Ziva dari ujung gaun yang menutupi kakinya hingga wajah cantiknya.
Ziva yang hanya mengingat wajah pria dihadapannya itu tanpa mengenal siapa namanya, hanya bisa diam terus menatap wajah yang tidak kalah tampannya dari calon suaminya itu.
"Namaku, Keynan. Aku datang untuk mengantarmu menuju Altar pernikahanmu."
"Apa?" Kata Ziva menatap Keynan penuh tanya. Pasalnya, kenapa harus Keynan yang mengantarnya ke Altar pernikahan? Dan siapa yang memberinya wewenang untuk hal itu? Pikir Ziva.
__ADS_1
"Rian yang memintaku. Memangnya kalau bukan aku siapa lagi? Apa ada Ayahmu disini?" Ujar Keynan yang seketika membuat Ziva terdiam.
Sudah lah jangan banyak berpikir, ayo." Keynan memegang pergelangan tangan Ziva dan membawanya pergi menuju Altar pernikahan. Dan Ziva sendiri hanya pasrah lantaran ia memang tidak memiliki seoramg Ayah. Kalau pun ada ia juga tidak tau Ayah kandungnya masih hidup atau tidaknya.
"Tuan, kau mau membawaku kemana?" Tanya Ziva saat Keynan membawanya pergi menggunakan mobil.
"Kau masih bertanya aku akan membawamu kemana?" Rian menggeleng heran. "Tentu saja aku akan membawamu kegedung pernikahan." Ujar Keynan seraya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Dan sesampainya digedung pernikahan, Keynan pun membawa Ziva turun dari mobilnya. Kemudian ia memegang tangan Ziva membawanya masuk kedalam gedung pernikahan.
"Tapi--" Dengan tidak sabarnya lantas Keynan meraih tangan Ziva kemudian menuntun gadis itu menuju Altar pernikahan.
Langkah demi langkah Ziva berjalan perlahan menuju pada Rian. Gadis itu benar-benar digelayuti rasa gugup yang luar biasa. Terlebih lagi saat melihat Rian yang terus menatapnya dari sedikit kejauhan.
"Lihat lah tatapan buaya darat itu. Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk segera menikahimu dan--"
__ADS_1
"Tuan, aku mohon hentikan omong kosongmu. Kau membuatku semakin ketakutan." Kata Ziva dengan suara lirihnya memotong ucapan Keynan.
Sesampainya tepat dihadapan Rian, barulah Keynan beralih menyerahkan Ziva. Dengan sedikit menebar senyuman ketampanannya, Rian kemudian menyambut tangan Ziva lalu menghadapkan gadis itu padanya.
Tak lama kemudian prosesi pernikahan pun dimulai. Banyak sekali dari Rekan bisnis Rian yang mengabadikan foto-foto pernikahannya bersama Ziva melalui Camera ponsel mereka.
Dan sampai akhirnya prosesi pernikahan selesai, kini baik Rian dan Ziva sudah dinyatakan sebagai pasangan suami istri yang sah. Semua tamu yang hadir pun bersorak gembira saat mendengar Rian dan Namira sudah menyandang status sebagai seorang istri.
"Hey, kenapa kau tidak menciumnya? Dia istrimu sekarang." Bisik Keynan ditelinga Rian.
Merasa sedikit malu dengan pertanyaan sahabatnya itu, lantas Rian tidak segan-segan menginjak kaki Keynan sampai membuatnya menahan sakit tanpa suara digedung pernikahan.
"Rian, selamat ya." Ujar Naura, istri Keynan. "Dan ini..." Naura menatap kearah Ziva dengan senyum kikuknya seraya memberikan sebuah kotak yang cukup besar pada Rian.
"Ini pesananmu dan didalamnya ada semua yang kau iginkan" Bisik Naura ditelinga Rian. Entah lupa atau memang benar-benar tidak tau, Rian pun menerima apa yang diberikan Naura pandanya.
__ADS_1