
"Tuan, apa tidak sebaiknya kita kedokter saja? Aku takut luka dikepalamu ini akan--" Rian melepas pelukannya dan menatap Ziva yang seketika membuat Ziva menghentikan ucapannya.
"Kenapa?" Tanyanya saat ditatap oleh Rian dengan sedemikian rupa.
Rian memegang pipi Ziva kemudian mengusap lembut bibirnya. "Aku tidak butuh dokter, yang aku butuhkan hanya kau saja disisiku itu sudah cukup." Mendengar ucapan Rian seketika membuat Ziva langsung tersipu. Nampaknya ada yang tidak beres dengan jantung Ziva akhir-akhir ini. Rasanya setiap kali mendengar ucapan manis berikut tatapan intens dari Rian selalu saja membuat detak jantungnya berdetak tidak karuan.
Dan untuk menutupi raut wajah Ziva yang merona, ia pun segera beranjak dari duduknya dan mencari pakaian ganti untuk Rian dilemari.
"Pakai ini, aku akan mengambil sarapan pagi untukmu." Ucap Ziva yang kemudian hendak pergi setelah memberikan pakaian untuk Rian.
"Tunggu, Ziva." Rian menarik tangan Ziva dan menghentikan langkahnya. "Aku tidak lapar, bisakah kau temani aku saja?" Ucap Rian dengan menunjukan wajah pilunya dihadapan Ziva.
Tidak tega melihat suaminya yang nampak tidak ingin ditinggalkan olehnya, Ziva pun kemudian mengangguk lalu kembali duduk bersama Rian disisi tempat tidur.
Keduanya kini duduk saling berdekatan namun tidak diantara salah satunya untuk bicara. Ziva sendiri juga rasanya tidak nyaman untuk mengeluarkan sepatah kata dari bibirnya lantaran Rian yang terus menatap wajahnya sejak tadi. Terlebih lagi dengan balutan handuk yang masih menempel dipinggang Rian, yang begitu menampakkan bagaimana sangat indahnya tubuh yang dimiliki pria berusia 29 tahun itu dihadapan Ziva.
__ADS_1
Rasanya ingin sekali Ziva mengusap dada kekar milik suaminya itu, atau mungkin sedikit mengusap lehernya sebentar saja, namun rasa gengsi yang melebihi rasa keinginannya itu lah yang membuat Ziva hanya berani meliriknya sesekali.
"Kalau ingin menyentuhnya juga boleh, ini milikmu sekarang."
"Hah?" Seketika Ziva terkejut dan langsung salah tingkah dihadapan Rian. "Sebaiknya cepat pakai bajumu atau nanti kau akan sakit." Ujar Ziva yang kemudian hendak beranjak pergi lagi dari kamar.
Baru beberapa langkah melewati Rian yang tengah duduk itu, dengan cepat Rian kembali menarik tangan Ziva. "Ada apa lagi, Tuan?" Kata Ziva yang mulai terlihat kesal lantaran sejak tadi selalu ditahan oleh Rian setiap kali ingin pergi.
Rian menunjuk kearah pakaiannya yang ada diatas tempat tidurnya. "Aku belum memakai bajuku, Ziva." Ucapan yang cukup membingungkan bagi Ziva. Baju sudah disiapkan dan tinggal dipakai, lalu kenapa harus mengatakan jika belum memakainya. Pikir Ziva sedikit bingung.
Ya, Ziva yang hampir melupakan hal itu rupanya. Padahal memang ia sendiri lah yang mengatakan akan merawat suaminya selama lukanya belum sembuh. Terlebih lagi apa yang terjadi pada suaminya saat ini juga akibat ulahnya yang disengaja.
"Baiklah, jika kau tidak memakaikannya untukku maka aku akan pakai sendiri." Rian mengambil kemejanya terlebih dulu lalu memakainya. Namun anehnya, entah karena ia tidak tau atau memang disengaja. Pasalnya Rian mengenakan kemejanya itu tanpa melepas terlebih dulu kancingnya satu persatu.
"Sssshhh... aww." Rintih Rian saat pakaiannya tersebut mengenai luka dikepalanya.
__ADS_1
"Astaga, apa yang kau lakukan! Bukan begini cara memakainya!" Seru Ziva yang langsung menarik kembali pakaian itu dari kepala Rian.
"Lihatlah, bagaimana bisa kau memakai kemeja tanpa melepas kancingnya terlebih dulu?" Celoteh Ziva dengan sedikit kesal bercampur khawatir lantaran apa yang dilakukan Rian itu benar-benar membahayakan untuk lukanya. Ya, meskipun sebenarnya luka itu tidak seburuk yang Ziva pikirkan.
Kemudian Ziva menarik tangan Rian dan memintanya untuk duduk kembali. Gadis itu lalu melepas satu persatu kancing kemeja milik Rian kemudian memakaikannya. "Pelan-pelan." Kata Ziva saat memasukkan pada bagian lengan kanan dan kiri kemeja Rian.
Pria itu pun tersenyum seraya kedua matanya yang tanpa berkedip menatap wajah Ziva. Cantik sekali, begitu lah yang terus ada dalam benak Rian saat menatap begitu dekat wajah sang istri. Wajahnya, bibirnya, senyumannya, semua sangat tidak jauh berbeda dengan mendiang Namira. Wanita yang dulu ia sia-siakan dan pada akhirnya meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Sekarang tinggal pakai celananya. Kau bisa kan, Tuan?" Ucap Ziva sembari memberikan celana untuk Rian. "Bagaimana jika aku katakan aku tidak bisa memakainya?" Kata Rian.
"Tapi ini hanya memakai cela--"
"Sayang, apa kau lupa janjimu?" Lagi-lagi Rian menggunakan apa yang pernah Ziva katakan sebagai senjata ampuhnya agar bisa mendapat apa yang ia inginkan dari wanitanya tersebut.
Dengan menghela nafas panjangnya akhirnya Ziva melakukan apa yang Rian minta. Gadis itu kemudian berjongkok dan memakaikan celana milik suaminya tersebut. Dan saat celana itu mulai naik keatas, tiba-tiba kedua tangan Ziva berhenti. Kedua matanya pun nampak membulat sempurna saat ada hal yang tidak ia duga tengah ia lihat dihadapannya.
__ADS_1