
"Kenapa diam saja? Tidak tau mau menjawab apa? Heh, dasar gadis payah. Melihatmu sedikit pun rasanya aku tidak tertarik sama sekali." Rian beranjak dari tempat tidur dan Ziva seketika merasa sangat kesal akan ucapan pria yang tidak lama lagi akan menjadi suaminya itu.
"Apa kau bilang!" Pekik Ziva dengan melompat turun secara tiba-tiba dari tempat tidur.
"Apa seperti itu tingkah seorang gadis didepan seorang pria setampan diriku ini?" Rian memutar tubuhnya dan menatap tingkah Ziva yang tidak bisa sefeminim gadis yang semestinya.
"What!" Ziva menggeleng sinis mendengar ucapan Rian. Bagaimana bisa ada seorang pria yang dengan percaya diri menyebut dirinya tampan. Begitu lah pikir Ziva.
"Kenapa? Bukankah ucapanku ini benar?" Rian melepas kemejanya dan menunjukkan dada bidangnya yang semakin menunjukkan betapa tampannya sang duda tersebut.
"Maaf, tapi bagiku kau biasa saja dan sangat biasa saja." Ucap Ziva yang kemudian hendak beranjak pergi dari hadapan Rian. "Oh, tapi ya." Ziva kembali menghentikan langkahnya.
"Sebagus apapun bentuk tubuhmu, dan setampan apapun wajahmu, aku tidak tertarik dengan seorang pria yang memiliki--" Ziva menatap bagian depan celana Rian. "Memiliki ulat bulu yang kecil." Ujar Ziva seraya melontarkan senyum lebarnya.
"Jadi ingat tuan, Rian Abraham. Jangan pernah merasa dirimu hebat hanya dengan mengandalkan ketampananmu. Karena apa?" Rian masih terdiam menunggu ucapan Ziva selesai.
"Karena wanita hanya akan tunduk pada pria yang jantan. Dan kejantanannya itu bisa membuat wanitanya lemah tak berdaya diatas ranjangnya. Hahaha..." Dengan sangat puasnya Ziva tertawa sembari berjalan pergi sampai tidak menyadari tatapan yang membuas dari seorang pria yang baru saja ia ejek barusan.
__ADS_1
"Sampai bertemu dimalam pernikahan kita tuan, Rian Abrahan yang--" Ziva memutar tubuhnya menatap Rian kembali. "Yang hanya mengandalkan ketampanannya tapi itunya--" Ziva menunjuk bagian celana depan Rian dengan jari telunjuknya. "Kecil, lemah dan payah. Hahaha...." Ucapnya kemudian berjalan pergi dari hadapan Rian.
Baru Ziva akan membuka pintu keluar kamar tiba-tiba tangannya tertarik dengan keras dan tubuhnya seketika itu juga langsung terlempar keatas tempat tidur.
Brugh.
"Aww!" Pekik Ziva saat tubuhnya yang terhantam sampai atas kasur empuk milik Rian.
Dengan menatap tajam kearah Ziva, dengan perlahan Rian melangkah ketempat tidurnya seraya membuka satu persatu kancing bajunya.
"Ka-kau, apa yang kau--"
Ziva menggelengkan kepalanya dengan cepat seraya merangkak mundur tatkala ia melihat Rian yang tengah melepas ikat pinggangnya. "Kau mau apa, hah!" Sentak Ziva dengan menahan rasa takutnya.
"Kau bilang seorang wanita tidak cukup hanya diberikan wajah yang tampan, iya kan? Yang wanita butuhkan adalah bagaimana pria itu memiliki kejantanan yang luar biasa sampai bisa membuat wanitanya lemah tidak berdaya. Begitu kan?" Ziva menggelengkan kepalanya dan keringatnya seketika mengalir dari dahinya. Rasa takut yang ia tahan kini justru ditampakkan dihadapan pria yang dengan mudahnya ia ejek sebelumnya.
"Jadi, mari kita buktikan. Apa benar aku hanya bisa mengandalkan ketampananku untuk dapat melumpuhkan wanitaku nantinya?" Rian yang sudah berhasil membuka semua pakaiannya itu seketika membuat Ziva terperangah.
__ADS_1
Bagaimana tidak? Karena apa yang diragukan Ziva sebelumnya kini jutru terbantahkan saat gadis itu melihat sesuatu yang begitu tegang, berurat, panjang dan besar tentunya.
Seoalah kehilangan separuh nafasnya, tiba-tiba Ziva hanya mematung dengan bibirnya yang terperangah saat ia melihat sesuatu yang kini menjadi hal yang menakutkan baginya.
"Be-begini, aku rasa kau salah paham. Iya kau salah paham dengan ucapanku tadi tuan. Tadi itu aku hanya--" Ucapan Ziva seketika terhenti saat tiba-tiba Rian menarik satu tangan Ziva dan menempelkan pada bagian miliknya.
Ziva terdiam. Gadis itu mendunduk melihat kearah tangannya yang tengah memegang sesuatu yang keras itu. "Apa ulat bulunya kurang besar?" Ujar Rian dengan senyum menyeringainya.
"Aaaaaaa..." Teriak Ziva yang langsung menjauhkan tangannya dan bergegas turun dari tempat tidur.
"Mau lari kemana kau!" Rian menarik kaki Ziva dan menahannya untuk tidak pergi darinya. "Lepas! Aku mengantuk!" Pekik Ziva berusaha memberontak.
"Bukankah jika mengantuk kau bisa tidur disini? Hum?" Rian menarik paksa dress Ziva hingga robek dibagian dadanya.
"Tidak, jangan!" Teriak Ziva dengan sekuat tenaga namun Rian sama sekali tidak mengindahkannya. Pria itu justru semakin membrutal ketika melihat wanitanya memohon untuk dilepaskan.
"Tuan, aku mohon lepaskan aku. Ingat kita belum menikah jadi jangan seper--"
__ADS_1
"Ssstttt..." Rian mendekap kedua pundak Ziva dan membungkam bibirnya menggunakan satu telapak tangannya. "Apa bedanya sekarang dan besok? Sekarang kita melakukannya dan besok kita juga melakukannya. Bukan begitu kan, sayang?" Kata Rian seraya mengusap lembut tengkuk leher Ziva.