
Dan kini Ziva pun berjalan melihat sekeliling Mansion besar milik Rian dengan ditemani oleh Luna. Sampai cukup lama Ziva berkeliling disekitar Mansion, Luna kemudian menghentikan langkah Ziva.
"Nyonya bisakah kau berhenti berjalan?" Kata Luna seraya menarik tangan Ziva. "Kenapa?" Tanya Ziva.
"Kita sudah berkeliling cukup lama dan aku juga sudah menunjukkan beberapa ruangan di Mansion ini, sekarang sebaiknya kita kembali kedalam atau tuan akan mencari nyonya nanti." Ujar Luna yang mulai merasa cemas karena sudah hampir 2 jam mereka mengelilingi Mansion.
"Kalau kau banyak pekerjaan maka pergilah, aku tidak apa-apa berjalan sendiri." Ucap Ziva yang ingin agar Luna cepat pergi dan ia bisa dengan mudah untuk kabur.
"Tapi nyonya, bagaimana kalau nanti tuan--"
"Jangan pikirkan hal itu, sudah pergilah atau kau akan membuat tuan Rian marah saat dia tau ternyata kau malah tidak melakukan pekerjaanmu." Kata Ziva memotong ucapan Luna.
Sejenak Luna pun mulai terdiam dan berpikir. "Ada benarnya juga apa yang dikatakan calon istri tuan Reiner, kalau aku tidak kembali kedapur maka--" Ucap lirih Luna saat punggungnya ditepuk oleh Ziva.
"Apa lagi yang kau pikirkan? Cepat pergilah nanti aku pasti kembali." Kata Ziva seraya mendorong sedikit tubuh Luna.
"Tapi nyonya benar-benar akan kembali pada tuan Reiner kan setelah puas berkeliling?" Tanya Luna yang masih sedikit tidak percaya.
"Ck, iya Luna. Cepat lah pergi sana sebelum tuan Rian melihatmu sedang tidak bekerja seperti ini." Ziva berdecak sedikit kesal lantaran Luna yang tidak cepat pergi juga.
__ADS_1
"Baiklah aku akan pergi." Kata Luna yang kemudian langsung berlalu pergi dari hadapan Ziva. Dengan senangnya kemudian Ziva pun bergegas melangkahkan kaki untuk kabur secara perlahan.
"Egh... nyonya tunggu." Teriak Luna yang seketika menghentikan langkah Ziva dengan sedikit gugupnya.
Luna yang tadinya sudah berjalan cukup jauh dari Ziva tiba-tiba berlari menghampirinya kembali. "Anak itu, kenapa lagi sih!" Gerutu Ziva pelan.
"Ada apa lagi Lunaaaaa....?" Tanya Ziva dengan nada panjangnya seraya menahan rasa kesalnya pada Luna.
"Ini ponselmu lupa kau bawa nyonya." Ziva melihat ponsel miliknya yang dipegang oleh Luna dan baru disadari olehnya jika memang ponsel itu dibawa Luna karena digunakan untuk berfoto disetiap halaman Mansion tadinya.
"Bawa sini." Ziva mengambil alih ponselnya lalu pergi begitu saja dari hadapan Luna.
Dengan mengeratkan genggaman kedua tangannya kemudian Ziva memutar lagi tubuhnya dan menatap pada Luna. "Ada apa lagi Luna!" Pekik Ziva dengan sangat kesal.
"He... he... he... Nyonya janji ya jangan lama-lama?"
"Apa ada pesan-pesan terakhir yang ingin kau katakan lagi padaku, Luna?" Mendengar ucapan Ziva yang pelan namun mengandung arti yang amat dalam bagi Luna, seketika membuatnya langsung ketakutan.
"Ti-tidak nyonya hanya itu saja, ba-baiklah aku pergi." Ucap Luna dengan gugup dan ia pun langsung berlari pergi dari hadapan Ziva.
__ADS_1
"Tidak pelayannya, tidak juga tuannya sama-sama menyebalkan. Humph...!" Ziva pun kembali berjalan sembari menyusun rencana diotaknya untuk bisa kabur dari Mansion megah milik Rian.
Setelah cukup lama Ziva berjalan kini ia sampai dihalaman belakang Mansion. Terlihat pagar Mansion yang cukup tinggi, membuat gadis yang memiliki wajah yang sama persis dengan Namira itu seketika menjadi kebingungan untuk bagaimana ia bisa melewati pagar tersebut.
"Bagaimana caraku untuk melompat dari sana?" Ucap Ziva seraya fokus berpikir.
"Hah, pohon itu." Ziva menemukan sebuah pohon mangga yang kebetulan ada didekat pagar tersebut. "Aku akan memanjatnya." Kata Ziva yang kemudian menghampiri pohon mangga itu.
Setelah berdiri didekat pohon mangga tersebut, Ziva melipat rok dressnya hingga keatas paha dan mulai memanjat pohon itu dengan begitu mudahnya.
"Untung saja sejak kecil aku pintar dalam hal ini, kalau tidak mana mungkin aku bisa memanjat setinggi ini." Ucap Ziva dengan terus memanjat sampai didekat tembok pagar Mansion.
Sementara itu diruangan baca milik Rian, terlihat bagaimana si duda tampan itu yang sedang tersenyum seraya menatap kearah laptop dihadapannya. Pria itu terus saja tersenyum gemas saat tengah melihat kelayar laptopnya.
"Gadis yang sangat luar biasa, bisa-bisanya dia berpikir untuk kabur dengan memanjat pohon setinggi itu." Kata Rian dengan terus tersenyum seraya mengingit jari jempolnya.
"Lalu apa yang harus saya lakukan tuan? Apa perlu menghubungi penjaga untuk menghentikan nyonya?" Tanya Alex, sang asisten pribadi Rian.
"Tidak usah, kita biarkan saja dulu. Kita lihat apa mungkin dia bisa keluar dari Mansion ini hanya dengan memanjat pohon itu." Ujar Rian dengan terus memantau aksi yang dilakukan Ziva melalui layar laptopnya.
__ADS_1