
"Oke, sudah cukup push upnya, tinggal push up diatas tubuh Ziva saja." Ujarnya seraya tersenyum geli sendiri saat mengatakan hal tersebut.
40 Menit Ziva berada didalam kamar mandi. 10 menit ia gunakan untuk berdiam diri didalam kamar mandi dengan bingung lantaran ia lupa membawa pakaian ganti. Untungnya ada bathrobe yang menggantung, tanpa pikir panjang Ziva pun mengenakannya.
"Kenapa ini sangat tipis sekali?" Tidak ada pilihan lain, meski harus memakai pakaian setipis itu, dengan nekat Ziva akhirnya keluar dari kamarnya.
Gadis itu mengeluarkan terlebih dulu kepalanya, melihat dan memastikan apakah Rian masih ada dikamar atau tidak. "Kosong, itu artinya dia pergi." Begitu memastikan semua aman, perlahan Ziva keluar dari kamar mandi.
"Selagi dia tidak ada, sebaiknya aku cepat-cepat mengganti pakai--" Ucapan Ziva terhenti, ia benar-benar tidak menduga jika Rian yang ia pikir keluar dari kamar ternyata sudah berdiri dengan senyuman seribu arti dibibirnya.
"Tu-tuan, kau disini?" Ucap Ziva dengan gugupnya. Rian mengangguk sembari kedua tangannya yang melingkar didada.
"Apa kau pikir aku akan pergi dari kamar lalu melepasmu begitu saja?"
Ziva menggeleng dengan cepat lalu berjalan menuju lemarinya. "Mana mungkin aku berpikir seperti itu? Itu hanya perasaanmu saja." Ujar Ziva sembari hendak membuka lemari miliknya.
"Benarkah?" Rian menarik tangan Ziva dan menghadapkan padanya. Terlihat bagaimana pakaian yang tengah Ziva kenakan begitu tipisnya hingga membuat kedua mata nakal Rian menatap instens pada sesuatu yang nampaknya bergitu menarik.
"Menyingkir lah, aku mau ganti baju--" Rian menahan kedua tangan Ziva yang hendak mendorongnya lalu berbalik mendorong gadis itu ketempat tidur.
"Akhh..." Suara yang terdengar menggoda. Membuat sang duda tersebut sampai menggigit bibir bawahnya dan menatap nakal wajah cantik istrinya.
__ADS_1
"Aku ingin tau bagaimana ekspresi wajah cantikmu ini saat untuk pertama kalinya merasakan sesuatu yang mungkin baru pertama kali kau rasakan. Atau mungkin kau sudah pernah merasakan sebelumnya?"
"Jangan bicara sembarangan ya! Sekali pun aku tidak pernah merasakannya!" Celetuk Ziva dengan suara lantang dan percaya dirinya.
"Hah... benarkah?" Ziva mengangguk cepat tanpa sadar.
Dengan senyuman nakalnya, seolah Rian menunjukkan betapa dirinya yang begitu sudah tidak sabar untuk melakukan hal yang sejak tadi ia tahan. "Kalau begitu, buktikan padaku jika ini pertama kalinya kau akan merasakannya." Kata Rian sedikit menjebak Ziva.
"Oke, aku akan buktikan padamu." Entah dengan sadar atau karena panas lantaran mendengar ucapan Rian yang seolah meragukannya, Dengan cepat Ziva mendorong tubuh Rian yang tadinya menimpa tubuhnya, kemudian ia berdiri melepas pakaian tipisnya tanpa ragu dihadapan sosok pria yang saat ini sudah menjadi suaminya tersebut.
"Ayo, jika kau tidak percaya maka lakukan lah sekarang." Kata Ziva yang sudah tidak mengenakan sehelai pakaian dan dengan tubuh yang terbaring seolah siap memberikan hidangan lezat pada sang raja singa.
Kena kau. Begitulah pikir Rian yang saat ini sudah melihat istrinya berhasil terpancing oleh ucapannya.
Ziva menghela nafas malasnya. " Sudah lah jangan banyak bicara, bukankah kau ingin tau aku ini adalah wanita baik-baik atau bukan!" Ucap Ziva dengan tidak sabarnya. Ya, karena ucapan Rian yang meragukan akan pernah atau tidaknya Ziva merasakan hal itu, membuat Ziva berpikir bahwa Rian mungkin menganalisa jika dirinya sudah pernah melakukan sebelumnya.
"Jika kau belum pernah melakukannya, ini akan sedikit terasa sakit. Tapi jika sudah, maka ini akan terasa nikmat." Bisik Rian ditelinga Rian.
"Ck, cepatlah jangan banyak bicara! Aku muak mendengarnya!" Pekik Ziva yg mulai kesal karena Rian yang seolah mengulur waktu.
Tentu saja dengan peluang yang Ziva berikan itu tidak akan Rian sia-siakan begitu saja. Perlahan Rian mulai menempelkan bagian miliknya pada inti Ziva. Sampai perlahan sesuatu yang keras itu hampir masuk menusuk bagian dalam milik Ziva, baru lah gadis itu mulai menyadari saat tiba-tiba ia merasakan sakit pada bagian bawah intinya.
__ADS_1
"Ssshhh... ini apa? Kenapa sa--" Ziva terdiam. Ya, gadis itu terbelalak saat melihat wajah tampan suaminya berada tepat dihadapannya.
"Apa yang kau lakukan! Menyingkir dariku!" Teriak Ziva dengan kedua tangan yang berusaha mendorong dada Rian.
Berusaha menyingkirkan tubuh Rian darinya, namun hasilnya hanya sia-sia. Usahanya untuk memberontak dan melawan Rian, justru membuatnya semakin dibuat tidak berdaya lantaran Rian lebih pintar menahan tubuh indah sang istri agar tetap berada dibawah kendalinya.
Gadis itu menggelengkan kepalanya seraya memohon untuk dilepaskan, dan sedangkan Rian tengah berusaha keras untuk membobol tembok kenikmatannya.
"Sakit, Tuan. Aku mohon lepaskan!" Seru Ziva dengan terus bergerak untuk melepas diri namun gagal.
"Kenapa baru sekarang kau mengatakan jika ini sakit? Hum? Apa kau lupa tentang apa yang kau ceritakan pada temanmu tadi ditelfon, Ziva sayang?" Dengan menggigit nakal bibir bawahnya, kini Rian sudah berhasil mencapai kemenangannya.
Ya, kini pria itu telah menunjukkan senyum kemenangannya saat miliknya sudah berhasil memecahkan bagian paling berharga milik Ziva.
"Aaaa.... sakit!" Ziva berteriak dengan kuat saat ia merasakan sobekan dari bawah sana. Rasa sakit yang sangat luar biasa hingga membuat gadis itu menitihkan air matanya tanpa sadar.
...****************...
10 Menit kemudian.
Rasa sakit yang awalnya Ziva rasakan kini semakin menghilang dengan sendirinya.
__ADS_1
Melihat air mata Ziva menetes dari pipinya, perlahan Rian mengecup dengan lembut kening Ziva. "Masih sakit?" Tanya Rian lalu Ziva menggeleng pelan.
Rian tersenyum menatap kecantikan yang semakin terpancar dari wajah Ziva. Pria itu kemudian mengusap lembut air mata Ziva, kemudian mencium hangat bibir wanita yang seutuhnya sudah menjadi miliknya tersebut.