
Sementara Ziva yang ditinggalkan dikamarnya, disisi lain Rian pergi kerumah Keynan untuk menemuinya dan membicarakan sesuatu hal padanya.
Dan sesampainya dirumah Keynan, seperti biasa Rian selalu masuk begitu saja kedalam rumah sahabatnya itu tanpa ijin. "Yumna, dimana papamu?" Tanya Rian pada Yumna, anak perempuan Keynan yang tengah duduk dengan setumpuk mainannya.
"Papa ada dikamar, apa Paman Rian ingin bertemu dengan papa?"Angguk Rian seraya tersenyum.
"Em... tapi papa bilang aku tidak boleh kesana sebelum mereka selesai membuat adik untukku."
"A-apa?" Ucap Rian dengan gugupnya.
"Iya paman, tadi papa bilang aku harus tetap dibawah sampai papa dan mama selesai membuat adonan bayi untukku." Mendengar ucapan Yumna seketika Rian merasakan keringat dingin pada tubuhnya.
"Paman tunggu disini saja bersamaku, nanti setelah selesai pasti papa turun." Dengan susah payah Rian berusaha tersenyum dihadapan Yumna yang polos itu seraya mengusap wajah frustasinya.
Sampai 2 jam kemudian, terdengar langkah kaki yang tengah menuruni tangga. Sontak Yumna pun langsung berlari menghampiri kearah suara langkah kaki tersebut.
"Papa..." Seru Yumna yang berlari dan langsung memeluk Keynan yang sudah berada di anak tangga paling bawah.
"Apa adonan bayinya sudah jadi?" Tanya Yumna yang seketika membuat Keynan kebingungan untuk menjawab. Sementara itu Rian yang menatap Keynan penuh kekesalan yang semakin membuat ayah dari Yumna itu tidak bisa berkata-kata lagi.
"Pa, kenapa diam saja? Jawab, apa adiknya sudah jadi?" Yumna merengek dengan terus menarik ujung kemeja papanya.
"Yumna, nanti pa--"
__ADS_1
"Yumna..." Terdengar suara Naura, istri Keynan yang memanggil Yumna dari lantai atas dan melambaikan tangan pada putrinya untuk segera datang. "Kemarilah, mama ingin memberimu sesuatu." Kata Naura agar Yumna bisa pergi dari Keynan dan agar putri kecilnya itu tidak lagi banyak bertanya.
Lantas dengan cepat Yumna kemudian berlari dan menghampiri Naura. Dengan begitu Keynan mulai merasa lega saat putri kecilnya itu sudah pergi dari hadapannya.
"Apa begitu caramu bicara pada seorang anak kecil?" Tanya Rian dengan nada sedikit ketus.
Keynan tersenyum dengan menunjukkan semua baris gigi putihnya lalu duduk disamping sahabat baiknya itu. "Maaf, aku tidak bisa menahannya. Jadi aku terpaksa mengatakan hal seperti itu agar Yumna tidak menggangguku dan Naura." Rian tersenyum seraya menggelengkan kepala hampir tidak percaya.
"Ada apa? Kenapa tidak menelfonku kalau akan datang?" Rian terdiam dengan menatap serius pada Keynan. "Ada apa, Rian?" Tanya Keynan bingung saat melihat tatapan sahabatnya itu.
Masih saja diam, Keynan kemudian mengambil segelas air minum yang sudah tersedia dimeja lalu meneguk minuman tersebut. "Besok malam aku akan menikah." Kata Rian.
"Uhuk... uhuk." Keynan yang terkejut mendengar ucapan Rian yang akan menikah tiba-tiba itu, seketika langsung membuatnya tersedak akan segelas minuman yang baru ia teguk.
Keynan pun duduk kembali disamping Rian dengan sesekali menghembuskan nafas beratnya. "Apa kau punya penyakit asma?" Tanya Rian saat mendengar Keynan yang terus menghembuskan nafas berat disampingnya.
"Tidak. Memang kenapa?" Tanya balik Keynan.
"Kalau tidak lalu kenapa kau seperti kesulitan bernafas?" Perlahan Keynan mencoba mengatur nafasnya dengan baik lalu menggenggam tangan sahabatnya yang entah kenapa malah membuat Rian geli dan tidak nyaman.
"Lepas, Key. Caramu memegang tanganku sangat menjijikan." Rian menyingkirkan tangan Keynan, dan Keynan kemudian menatap Rian dengan sangat serius.
"Ck, jangan menatapku seperti itu!" Pekik Rian yang kemudian mendorong wajah Keynan hingga terjatuh dari sofa duduknya.
__ADS_1
"Rian, kau ini apa-apaan? Kenapa mendorongku?"
"Aku yang harusnya bertanya. Kenapa sikapmu aneh? Apa tidak cukup puas kau sudah bermain dengan istrimu?" Ujar Rian seraya menggeser duduknya lebih jauh dari Keynan.
"Tidak, ini benar-benar tidak mungkin. Jelaskan padaku kenapa tiba-tiba kau mau menikah? Dan siapa gadis yang sudah berhasil memikatmu dengan hebat itu?" Tanya Keynan dengan rasa penasarannya.
"Kau ingat pegawai Resto yang menumpahkan kopi dicelanaku?" Keynan mengangguk dengan cepat. "Gadis itu lah yang akan ku nikahi besok."
"Apa kau bilang!" Seru Keynan yang langsung berdiri kembali dihadapan Rian.
Rian mengangguk. Kemudian ia mengambil sisa minuman Keynan lalu meneguk habis minuman tersebut. "Gadis itu sangat mirip dengan Namira. Semuanya dan hampir tidak ada bedanya." Kata Rian.
"Tapi, Rian kau kan baru bertemu dengannya sekali. Bagaimana mungkin kau mau menikahinya? Memangnya dia mau?" Tanya Keynan dengan sangat antusias.
"Tentu saja. Bahkan sekarang dia sudah tinggal dirumahku." Ujar Rian seraya melontarkan senyum lebarnya dihadapan Keynan.
"Wah... wah..." Keynan menggeleng tidak percaya. "Bagaimana mungkin seorang gadis baik-baik akan bersedia tinggal dirumah seorang pria yang baru ditemuinya?" Kata Keynan.
"Kenapa tidak? Lagi pula siapa yang akan menolak ketampananku ini? Kau tau, Key?" Keynan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Setelah kejadian diresto waktu itu, dia merengek meminta nomor ponselku dan mengatakan kalau dia ingin sekali memilikiku." Ujar Rian berbohong pada Keynan.
"Benarkah?" Tanya Keynan dengan sedikit tidak yakin.
__ADS_1