
Setelah acara pernikahan selesai, Rian dan Ziva pun bersiap untuk meninggalkan gedung pernikahan. Namun saat Rian sudah melangkah keluar dari gedung, ia baru menyadari Ziva yang tidak mengikutinya.
"Kemana gadis itu?" Rian memutar tubuhnya melihat kedalam gedung kembali. Dilihatnya sosok wanita yang sudah menjadi istrinya itu tengah diam berdiri didalamnya.
Dengan menghela nafas panjangnya kemudia Rian kembali masuk dan menghampiri Ziva disana. "Apa kau akan menginap disini?" Ziva yang sedikt terkejut itu pun langsung membalikkan badannya menatap sendu kearah Rian.
"Tuan, bukankah tadi siang Ibuku bilang dia akan datang?" Ujar Ziva, dan Rian pun mengangguk. "Tapi kenapa sejak tadi aku tidak melihatnya?"
"Benarkah?" Rian yang tidak sempat memperhatikan tamu yang datang juga sampai tidak menyadari jika ternyata mertuanya itu tidak hadir dalam pernikahannya.
Melihat kesedihan Ziva juga membuat Rian merasa bersalah karena tidak hadirnya Sinta dipernikahan mereka. Alex yang seharusnya menjemputnya juga sampai saat ini belum memberi kabar apapun pada Rian. Sampai tiba-tiba Alex datang dan berteriak memanggil Rian dari luar gedung.
"Tuan..." Teriak Alex sembari berlari masuk kedalam gedung menghampiri Rian.
"Ada apa, Alex?" Tanya Rian.
Dengan nafas terengah-engahnya Alex berusaha untuk bicara. "Ada apa, Alex! Bicaralah!" Sentak Rian yang sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang ingin Alex katakan padanya.
Perlahan Alex pun mulai bicara pada Rian. Ia menjelaskan tentang tidak datangnya Sinta kepernikahan lantaran Sinta tengah berlibur keparis bersama beberapa asisten rumah tangga Keynan.
__ADS_1
Mendengar hal itu sontak membuat Rian dan Ziva menjsdi bingung. Bagaimana bisa Sinta pergi bersama para Asisten Keynan? Kapan mereka saling mengenal?" Pertanyaan demi pertanyaan pun mulai memenuhi isi otak Ziva dan Rian.
Namun kebingunan itu seketika menghilang saat Sinta menghubungi Ziva melalui telfon genggamnya. Tentu kata awal yang dikatakan Sinta pada putrinya adalah kata maaf karena ia tidak bisa hadir dipernikahan Ziva. Melalui telfon itu juga Sinta mengatakan tentang kepergiannya yang mendadak.
Meski Ziva awalnya dibuat bingung, namun setidaknya saat ini ia sudah merasa lega setelah berbicara dengan Ibu angkatnya tersebut. Dan setelah mengetahui alasan kenapa Ibunya tidak hadir dipernikahannya, lantas kini Ziva tidak ada alasan menunda waktu untuk pulang bersama Rian. Sosok pria yang saat ini sudah resmi menjadi suamiya.
"Alex, siapkan mobil kita pergi." Ujar Rian yang kemudian berjalan keluar gedung dengan menarik tangan Ziva.
Di perjalanan pulang, Ziva nampak tidak bisa duduk dengan tenang. Gadis itu tidak sedikit pun menatap wajah Rian atau mengeluarkan sedikit saja suara untuk bicara. Yang ia lakukan hanya diam menatap kearah jendela kaca mobil sembari meremasi ujung gaun pengantinnya.
Tidak hanya Ziva yang merasa gugup. Nyatanya ekspresi Rian pun menyatakan hal yang sama. Dimana pria itu nampak berkeringat didalam mobil yang jelas-jelas ber-AC dan dengan jari yang terus ia gigit sembari menatap kearah luar kaca mobil.
"Apa kau sedang mengatakan sesuatu, Lex?" Tanya Rian yang sontak mengejutkan asisten pribadinya itu. "E-egh... tidak tuan." Kata Alex dengan gugupnya.
...****************...
Sesampainya di Mansion, dengan cepat Ziva turun lebih dulu dari mobil dan masuk kedalam Mansion tanpa menunggu Rian.
Saat Ziva akan naik kelantai atas, tiba-tiba ponselnya berdering dan ia pun menjawab panggilan tersebut. "Halo, Grenda. Ada apa?" Kata Ziva saat menjawab telfonnya.
__ADS_1
"Ku dengar kau menikah malam ini, kenapa tidak mengabariku?" Tanya Grenda, sahabat baik Ziva.
Ziva terdiam, ia tidak tau harus menjawab apa. Dan yang lebih membuatnya terheran adalah, darimana sahabatnya itu tau jika ia telah melakukan pernikaha. Sedangkan baik dirinya dan Rian tidak mengundang orang luar kecuali kolega bisnis Rian saja.
"Ziva, kenapa diam saja? Kau melupakanku ya?" Ujar Grenda dengan nada kecewanya.
"Bukan begitu, tapi... begini saja, sebaiknya kita bertemu besok dan aku akan jelaskan semua padamu." Kata Ziva. Meski merasa sedikit kecewa lantaran Ziva tidak mengundangnya, akhirnya mau tidak mau Grenda pun hanya bisa memendam kekecewaannya dan bersedia bertemu Ziva besok.
"Baiklah, kita bertemu besok." Ujar Grenda yang tentu membuat Ziva merasa lega karena sahabat baiknya itu tidak marah padanya.
Jadwal bertemu sudah ditentukan dan jam berapa akan bertemu juga sudah ditetapkan. Setelah saling menyetujui untuk bertemu besok, Ziva pun mengangkiri obrolannya melalui ponsel genggam itu.
Namun saat Ziva akan menutup telfonnya, tiba-tiba Grenda berbicara dengan nada sedikit keras yang membuat Ziva batal untuk menutup telfonnya.
"Apa kau sudah berani melakukan malam pertamamu!" Seru Grenda yang seketika membuat Ziva terdiam mematung. "Ziva kau masih mendengarku?"
Ziva tersadar. "Iya, Grenda. Aku masih mendengarmu." Sahut Ziva dengan cepat.
"Kau tidak takut?" Ujar Grenda menanyakan hal yang sebenarnya ia sendiri sangat penasaran
__ADS_1
"Te-tentu saja tidak. Lagi pula apa yang ditakutkan? Hanya dimasukan lalu selesai kan? La-lagi pula, mana mampu suamiku melakukan itu." Ujar Ziva yang tanpa sadar ternyata Rian sudah berdiri dibelakangnya entah sejak kapan.