
Tak lama setelah itu, pintu kamar pun terbuka dan Ziva pun segera bangun dari duduknya. Berdiri sedikit menjauh dari pintu dan melihat dengan jelas siapa yang telah membuka pintu tersebut.
Ceklek.
"Kau?" Ujar Ziva saat melihat Rian yang membuka pintu. Sementara Rian, hanya tersenyum menyeringai saat melihat reaksi Ziva ketika melihatnya masuk.
Tanpa banyak basa basi Ziva kemudian pergi dari hadapan Rian bermaksud untuk keluar dari kamar. "Mau pergi kemana kau!" Sentak Rian seraya menarik tangan Ziva untuk mencegahnya pergi dari kamar.
"Lepas! Biarkan aku pergi! Kau tidak berhak menahanku terus menerus disini!" Ziva menghempas tangannya dari genggaman Rian, namun lagi-lagi Rian menggenggam tangan Ziva lebih erat kemudian melemparnya dengan kasar sampai membuat gadis itu terpental ditempat tidur.
"Akhhh..."
"Kau benar-benar menguji kesabaranku Ziva." Ujar Rian seraya melepas satu persatu kancing kemejanya dan melangkah mendekat ketempat tidur.
"Kenapa bajumu dilepas?" Tanya Ziva dengan perasaannya yang mulai tidak enak.
"Aku merasa sangat panas saat melihat sikap keras kepalamu yang sangat sulit dikendalikan itu." Rian melempar kemejanya tepat mengemai wajah Ziva.
Begitu terlihat dada telanjang Rian, dengan cepat Ziva menutup wajahnya dengan kemeja Rian. "Apa yang kau lakukan! Pakai lagi bajumu itu!" Pekik Ziva dengan wajah yang ditutup rapat menggunakan kemeja Rian.
Perlahan Rian pun merangkak naik ketempat tidur lalu menarik kaki Ziva dengan cepat. "Aaaa... apa-apaan kau ini! Lepaskan!" Teriak Ziva sembari kakinya yang ia tendang-tendangkan agar terlepas dari Rian.
__ADS_1
"Kemari kau." Berhasil menarik Ziva sampai pada posisi yang diinginkan oleh Rian, dengan cepat Rian menarik kemeja miliknya dari tangan Ziva lalu dilemparnya pada sembarang arah.
"Jangaaaaannn...!" Teriak Ziva dengan sangat keras.
Dengan sangat takut Ziva sampai hampir menangis saat tangan Rian yang hendak menarik paksa dress yang dikenakan oleh Ziva. "Aku mohon jangan, kita bicarakan ini baik-baik. Iya aku salah dan aku minta maaf, aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan itu lagi." Ziva terus berbicara dan memohon agar Rian melepasnya namun hal itu justru direspon dengan senyuman yang membuat Ziva semakin takut.
"Kenapa tidak sejak awal kau pikirkan ini? Hum?" Rian mengusap lembut pipi Ziva dan menatap wajah cantik wanitanya itu dengan sangat dekat.
"Singkirkan tanganmu!" Pekik Ziva yang kemudian akan menampik tangan Rian namun gagal lantaran Rian lebih dulu menekan kuat tangan Ziva.
"Gadis yatim piatu yang dibuang sejak kecil oleh kedua orangtuanya karena dianggap membawa sial bagi keluarga." Ucapan Rian seketika membuat Ziva tidak bisa lagi mengatakan apapun. Bibirnya seolah terbungkam dengan air mata yang sudah hampir jatuh namun ia tahan.
Entah dari mana Rian tau akan hal itu, namun yang jelas perkataan Rian kali ini benar-benar membuat Ziva, si gadis keras kepala itu seketika terdiam menatap Rian dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"Ck, menjijikan! Menyingkir dariku, Rian!" Teriak Ziva yang berusaha melepaskan diri dari dekapan Rian namun selalu gagal.
"Kau berani menyebut namaku?" Tanya Rian dengan mengangkat satu alisnya.
"Apa yang aku takutkan? Bukan kah benar itu namamu? Hemph... kau pikir, dengan kau memiliki segalanya aku akan tunduk pada pria gila sepertimu?" Kata Ziva dengan santainya seolah tidak takut dengan siapa ia sedang bicara.
"Jadi kau tidak takut padaku?" Ziva menatap Rian dengan kesal kemudian memalingkan wajahnya dengan kasar begitu saja. "Sekarang apa yang kau inginkan? Apa tujuanmu membawaku kesini?" Tanya Ziva tanpa menatap pria yang tengah mendekap dan menindih tubuhnya itu.
__ADS_1
"Menikah lah denganku." Seketika Ziva langsung menatap kaget pada Rian. Kedua mata gadis itu kini terbelalak hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria yang dianggapnya gila itu.
"Menikah lah denganku dan jadi lah istriku. Tinggalkan panti asuhanmu dan aku akan memberikan semuanya untukmu." Ujar Rian sembari tangannya yang menyentuh bibir tipis Ziva.
"Maaf, tapi aku tidak tertarik." Kata Ziva dengan kembali memalingkan wajahnya. "Aku mohon menyingkir lah kau berat sekali." Bukannya menyingkir Rian justru menggerakkan pinggulnya dengan sengaja yang membuat Ziva seketika terdiam saat ia merasakan sesuatu yang amat keras mengganjal dibawah sana.
"Kalau kau mau aku bisa memasukkannya sekarang." Rian beranjak dari tubuh Ziva namun masih duduk diatasnya dan kemudian ia bersiap akan melepas resleting celananya yang langsung ditahan oleh Ziva.
"Aku mau menikah denganmu!" Teriak Ziva dengan kedua tangan yang menahan tangan Rian.
Senyum kemenangan pun terlontar dari bibir sang duda tampan tersebut. Perlahan ia menyingkirkan kedua tangan Ziva lalu kembali menindih tubuh indahnya.
"Emphhh... apa lagi yang mau kau lakukan!" Pekik Ziva dengan kedua tangan yang berusaha menahan dada Rian.
"Siapkan dirimu besok malam kita akan menikah, hum?" Bisik Rian ditelinga Ziva.
Setelah mengatakan hal tersebut, dengan senyum menyeringai kemudian Rian beranjak dari atas tubuh Ziva lalu kembali mengenakan pakaiannya. "Malam ini aku akan pergi, ingat besok malam adalah hari pernikahan kita Dan--" Rian menghentikan ucapnnya lalu kembali mendekat pada Ziva.
"Jangan coba-coba kabur dariku lagi, kalau tidak maka aku akan--"
"Iya! Aku tidak akan kabur! Cepat lah kau pergi kalau mau pergi, aku muak melihatmu!" Ujar Ziva dengan kesal memotong ucapan Rian.
__ADS_1
Rian pun hanya merespon ucapan Ziva dengan senyumannya dan kemudian pergi meninggalkan wanitanya itu dikamarnya sendirian.