
Suara keras Rian itu pun seketika membuat Luna menjadi salah tingkah, gadis itu kemudian melirik kearah Alex dan baru lah ia sadari bagaimana senyuman menyeringai itu muncul dari bibir pria itu.
"Ada apa?" Ucap Ziva dengan suara beratnya. Ia terbangun kemudian duduk menatap Rian disampingnya. "Tuan, kita sudah dimobil? Tapi kenapa kau tidak membangunkanku?" Tanya Ziva dengan sedikit kebingungannya. Lantaran sejak tadi ia tertidur sampai membuatnya tidak menyadari jika ia sudah berada dimobil menuju perjalanab pulang kerumah lama Rian.
"Tidak usah banyak bicara, jika kau mengantuk maka tidurlah terlebih dulu." Kata Rian.
Ziva mengangguk lalu ia pun kemudian hendak merebahkan dirinya dipangkuan Rian. Namun saat baru saja ia akan terbaring, tiba-tiba kedua matanya mengarah pada satu arah tepat dihadapannya.
Ya, mata Ziva melihat dengan jelas dimana tangan Alex yang berada diatas paha Luna sembari menggenggam tangan gadis itu. Ziva mengucek kedua matanya menatap lagi dengan jelas benar atau tidaknya yang sedang ia lihat. Namun saat benar-benar terfokus, ia pun sontak kembali duduk. "Ziva, kenapa?" Tanya Rian.
Ziva menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu menggeser duduknya untuk lebih dekat pada suaminya tersebut. "Ada apa, Ziva?" Lagi-lagi Ziva hanya menggelengkan kepalanya kemudian memeluk Rian dengan tidak biasa.
Rian yang tidak mengerti akan sikap dari istrinya tersebut, mencoba bertanya lagi untuk yang ketiga kalinya. "Ada ap--" Belum sempat Rian bertanya, tiba-tiba bibirnya dibungkam oleh ciuman yang cukup frontal dari Ziva.
__ADS_1
Pria itu seketika terdiam dengan kedua matanya yang terbelalak. Sementara Alex pun seketika melepas genggaman tangannya dari Luna dan kembali fokus menyetir dengan sedikit gugup. Dan Luna, tentu gadis itu tidak berani menatap kearah Alex atau bahkan menoleh kebelakang. Ia terdiam dengan tatapan mengarah keluar jendela kaca mobil.
Seolah tidak perduli dengan adanya pelayan serta asisten pribadinya, baik Ziva maupun Rian pun tetap belum melepas tautan bibir keduanya. Ciuman itu terasa semakin dalam dan semakin menggairahkan.
Hingga sesampainya dirumah milik Rian, mobil pun berhenti. Dengan cepat Luna dan Alex pun langsung keluar dari mobil meninggalkan kedua majikannya yang tengah bercumbu mesra didalamnya. "Ayo iku aku." Alex menarik tangan Luna membawanya masuk terlebih dulu kedalam rumah.
"Tapi, itu Nyonya dan Tuan mereka--"
"Apa kau ingin menonton mereka?" Luna pun menggeleng, dan pada akhirnya ia berjalan mengikuti Alex masuk kedalam rumah besar milik Rian Abraham.
Ziva menoleh singkat kearah Rian lalu kembali mengalihkan tatapannya. "Aku pikir kau tidak bisa melakukannya, tapi ternyata ciumanmu luar biasa." Kata Rian.
Tidak ingin mendengar ucapan Rian yang sebenarnya hanya membuat dirinya malu, Ziva pun kemudian bergegas keluar dari mobilnya. "Mau kemana?" Rian menarik tangan Ziva untuk menahannya keluar dari mobil.
__ADS_1
"Ck, aku mau keluar. Apa kau tidak melihatnya kalau sudah sampai!" Ujar Ziva dengan sedikit kesal lantaran tangannya yang dipegang erat oleh Rian.
Pria itu menunduk senyum kemudian kembali menatap Ziva. Menggigit bibir bawahnya sembari mengangkat satu alis tebalnya yang semakin menunjukan karisma ketampanan yang dimiliki oleh seorang sosok pria yang bernama Rian Abraham tersebut.
"Sudah mencium bibirku seenaknya lalu tiba-tiba ingin pergi dariku, begitu?" Ucap Rian seraya menarik dagu Ziva mendekat kewajahnya.
"Si-siapa yang mem--"
"Sssttt..." Ucapan Ziva terhenti, Rian menutup bibir Ziva dengan satu jarinya lalu mendekatkan wajah tampannya tepat diwajah Ziva.
"Kau sudah mencurinya dariku, yang artinya kau harus mengembalikannya." Lirih Rian dihadapan Ziva.
"Apa?" Me-mengembalikan apanya?" Tanya Ziva dengan gugupnya. Tatapan Rian kini mulai menurun, melihat pada belahan yang menonjol milik wanitanya itu.
__ADS_1
Sadar akan tatapan nakal itu, lantas dengan cepat Ziva pun menutupinya menggunakan kedua telapak tanganya. Namun, bukan Rian namanya jika tidak bisa melakukan apa yang diinginkannya.
Pria itu kemudian dengan perlahan menyingkirkan tangan tidak berguna yang menutupi pemandangan indahnya itu. "Untuk apa ditutupi jika sebelumnya bukan hanya itu yang sudah kulihat, tapi..." Rian menggigit bibir bawahnya seraya menatap lekat bibir ranum milik wanitanya tersebut.