
Dengan asiknya Ziva nampak terus berbicara dengan sahabatnya itu melalui sambungan telfonnya. Dengan berani Ziva terus mengatakan bagaimana kelemahan suaminya yang padahal ia saja belum tau kebenarannya.
Ziva terus tertawa dengan terbahak-bahak saat bercerita bagaimana payahnya suaminya. Gadis itu bahkan seolah lupa dimana saat ini ia sedang berada.
"Baiklah, karena ini sudah malam jadi aku tutup telfonnya dan kita lanjutkan besok, Aku pasti akan memberitahumu bagaimana payahnya om duda yang menikahiku ini." Kata Ziva dengan penuh percaya dirinya.
Ziva menggeleng senyum kemudian mematikan ponselnya. "Grenda, dia lucu seka--" Ucapan Ziva terhenti saat ia hendak menaiki satu anak tangga. Ya, seperti ada sesuatu yang menahan gaunnya.
"Ck, kenapa aku tidak bisa ber--" Lagi-lagi Ziva dibuat terdiam dan terperangah saat membalikkan badan. Gadis itu benar-benar tidak menyangka jika dibelakangnya ada sosok pria yang baru saja ia jadikan bahan perbincangan bersama sahabatnya.
"Tu-tuan Rian?" Ucap Ziva dengan gugup sembari menahan rasa takutnya.
Tatapanya. Ya, tatapan Rian tentunya. Tatapan yang amat sangat menakutkan bagi Ziva. Semacam ada sesuatu yang disimpan dibalik senyuman sang duda tanpan tersebut.
Tidak ingin membuang waktu, Ziva menarik ujung gaunnya yang diinjak oleh Rian lalu berlari naik kelantai atas dengan kaki yang masih mengenakan higls.
Brak.
Sesampainya dikamar Ziva pun menutup pintu kamarnya dan lsngsung menguncinya. "Astaga, apa tadi dia mendengar pembicaraanku? Bagaimana kalau dia marah dan..." Ziva benar-benar tidak bisa berpikir jernih lagi. Ia berdiri menetap pada pintu sembari terus berdoa agar Rian tidak akan mengikutinya.
__ADS_1
"Buka pintunya sekarang atau aku dobrak." Rian terus mengetuk pintu kamar namun Ziva tidak memperdulikannya.
"Rupanya kau ingin aku hukum ya. Jangan lupakan satu hal jika sekarang aku adalah suamimu, Ziva." Ziva tetap tidak bergeming, ia masih tetap berdiri dengan menyandarkan diri dipintu.
"Ku hitung sampai tiga. Satu... dua..."
"Bagaimana ini?" Ziva yang ketakutan hanya bisa diam dalam kebingungannya dengan terus menahan pintu agar Rian tidak akan bisa masuk kedalam.
Brugh.
Belum sampai hitungan ketiga, tubuh Rian menghantam dengan keras pintu tersebut sampai membuat Ziva terdorong dan tersungkur dilantai. "Akh..." Ringis Ziva.
"Urusan kita belum selesai sayang." Ujar Rian seraya melepas satu persatu kancing kemejanya. Tubuh Ziva semakin meringkuk saat Rian berada semakin dekat dengannya. "Kenapa kau ketakutan, hum?"
"Tuan, begini. Sebaiknya mandilah dulu lalu--"
"Lalu apa? Hum?" Ziva terdiam saat Rian memotong ucapannya. "Ku dengar tadi ada yang mengatakan kalau aku adalah laki-laki yang lemah dan tidak berstamina." Kata Rian.
"Be-benarkah? Si-siapa yang berani mengatakan hal bodoh semacam itu, Tuan?" Ziva yang masih meringkuk dilantai itu pun bertanya seolah-olah ia tidak tau. Padahal ia sendiri lah yang mengatakan semua hal tersebut.
__ADS_1
"Berdiri." Sentak Rian mengagetkan Ziva. "Apa kau tuli? Aku bilang berdiri atau aku akan memaksamu." Ujar Rian sembari menatap tajam Ziva.
Dengan ragu lantas Ziva berdiri menuruti Rian untuk berdiri. Dan dengan cepat Rian mendorong tubuh Ziva ketempat tidur lalu ia ikut merangkak naik. "Aku mau hadiahku." Bisik Rian ditelinga Ziva.
Ziva menelan salivanya susah payah dan berusaha menahan dada Rian yang hampir menempel padanya. "Ha-hadiah apa?" Tanya Ziva pura-pura tidak tau. Ya, karena tidak lah mungkin Ziva tidak tau apa yang diinginkan suaminya dimalam pertama mereka. Gadis itu hanya sedang mengulur waktu agar Rian lupa jika saat ini adalah malam pertama bagi mereka.
"Kau tidak tau atau sebenarnya kau tahu hanya saja kau pura-pura tidak tau begitu?"
Ziva menggeleng dengan cepat seraya menahan dada Rian yang semakin menempel pada tubuhnya. "Tuan, pintunya belum kau tutup." Ucap Ziva berusaha mengelabuhi Rian.
Rian menatap kearah pintu dan dengan begitu digunakanlah kesempatan itu oleh Ziva untuk mendorong kuat dada Rian. "Egh..." Setelah berhasil menyingkirkan tubuh suaminya lantas dengan cepat Ziva pun beranjak pergi dari tempat tidurnya.
Namun sayangnya hal itu tidak lah semudah yang Ziva bayangkan. Rian menarik tali gaun Ziva sampai berhasi membuat gaun itu terbuka hingga menampakkan bagian punggung putih mulus milik Ziva.
Rian menatap Ziva tanpa berkedip, dan dengan cepat Ziva pun terburu-buru pergi kekamar mandi namun ditahan oleh Rian kembali. "Mau kemana?" Tanya Rian dengan tatapannya yang semakin nakal.
"Ke-kekamar mandi." Singkatnya sembari berusaha melepaskan tangan dari genggaman Rian. "Kalau begitu kita kekamar mandi bersama." Kata Rian dan Ziva menggeleng dengan memohon.
"Tuan, aku mau mandi." Rian mengalah dan kemudian ia melepaskan genggamannya. "Baiklah, tapi setelah kau keluar jangan harap kau akan bisa lepas dariku." Kata Rian seraya tersenyum menyeringai dihadapan Ziva.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Ziva beranjak masuk kedalam kamar mandi. Sementara itu sembari menunggu Ziva, duda tampan itu melakukan push up sebanyak 100x untuk peregangan otot-ototnya.