
Dengan menghembuskan nafas panjangnya kemudian Rian mencoba tersenyum dan menatap Naura dengan sangat serius. "Begini, Naura aku ingin meminta tolong padamu." Naura dan Keynan saling menatap saat mendengar ucapan Rian yang agaknya sangat serius itu.
"Minta tolong apa?" Tanya Naura seraya menatap Keynan dan Rian secara bergantian.
"Bi-bisakah kau membelikan pakaian malam yang seksi untukku?" Kata Rian dengan gugup seraya menelan salivanya dengan susah payah.
"Apa!" Seru Keynan yang langsung membuatnya berdiri dihadapan Rian. "Key, duduklah." Naura menarik tangan Keynan untuk duduk.
"Tapi, Rian bilang tadi--"
"Duduklah dulu dia belum selesai bicara, Key." Ujar Naura yang langsung memotong ucapan Keynan. Dan dengan menghembuskan nafas kasarnya kemudian Keynan pun duduk dengan tatapan tajamnya yang mengarah pada Rian.
"Rian, bisa kau bicara dengan benar? Maksudku untuk apa kau ingin aku membeli pakaian malam?"
Rian menunduk senyum seraya melirik kearah Keynan. "Besok malam kan hari pernikahanku, jadi aku ingin di malam pertamaku nanti istriku bisa me--"
Plak.
Keynan lagi-lagi memotong ucapan Rian dengan menggeplak lengannya dengan sedikit keras. "Key, apa yang kau lakukan?" Naura menarik lengan Keynan untuk sedikit nenjauh dari Rian.
"Lihat lah dia," Keynan menunjuk kearah Rian. "Kenapa hanya membeli pakaian malam saja harus memintamu untuk membelikannya? Kenapa tidak dibelikannya sendiri." Ujar Keynan yang tidak terima lantaran Rian harus meminta Naura untuk membeli pakaian malam tersebut.
__ADS_1
"Aku malu, Key. Mana mungkin aku seorang pria harus membeli pakaian semacam itu?" Kata Rian.
"Tidak apa-apa, Key. Aku bisa mengerti dan kita akan belikan besok."
"Kita?" Ujar Keynan yang tidak menyangka jika istrinya akan mengajaknya untuk membeli pakaian yang mungkin sedikit memalukan baginya.
"Memangnya dengan siapa aku pergi jika tidak denganmu? Memang boleh kalau aku pergi de--"
"Kalau Keynan tidak mau mengantarmu, aku bisa meminta Alex untuk mengantarmu besok." Ujar Rian memotong ucapan Naura. Mendengar hal itu tentu saja Keynan spontan langsung tidak menyetujuinya.
"Tidak!"Seru Keynan dengan tidak terima. "Aku akan mengantarmu besok." Kata Keynan menatap wajah cantik istrinya.
"Apa kau percaya dengan ucapan Rian?" Tanya Keynan pada Naura. Antara percaya dan tidak, Naura hanya mengedipkan kedua pundaknya yang berarti ia tidak tau antara harus percaya atau tidak pada sahabat suaminya itu.
...****************...
Sementara itu di Mansion Rian, kini Ziva hanya diam dikamar tanpa melakukan apapun. Gadis itu tetap tidak habis fikir bagaimana ia bisa akan dibawa pergi oleh pria asing yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya.
Ziva yang tidak tau harus melakukan apa, dan sedangkan besok malam adalah malam pernikahannya bersama Rian, membuat ia tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Dan yang bisa ia lakukan saat ini hanya diam dan pasrah dengan situasi yang ada.
"Apa mungkin karena wajahku dan wajah wanita itu sangat mirip maka pria gila itu ingin menikahiku? Tapi untuk apa? Meski pun kami memiliki wajah yang sama tapi bagaimana perasaan kami satu sama lain?" Guman Ziva seraya menatap foto pernikahan Rian dan Namira yang terpajang ditembok kamar.
__ADS_1
"Apa Ziva masih ada dikamarnya?" Tanya Rian pada satu penjaga Mansionnya. "Masih tuan, sejak tuan pergi nyonya juga sama sekali tidak keluar dari kamarnya." Kata penjaga itu.
Terdengar suara Rian yang tengah berbicara dari luar, dengan cepat Ziva melompat ketempat tidur dan menutup diri dengan selimut tebalnya.
Ceklek.
Terdengar suara pintu terbuka Ziva pun berusaha menutup kedua mata matanya dan berpura-pura tidur. "Jangan kesini, jangan kesini aku mohon..." Ucap Ziva dengan lirihnya.
Melihat kaki Ziva yang nampak dari balik selimut, Rian pun hanya menggeleng senyum. Lagi pula siapa yang akan percaya jika Ziva benar-benar tidur? Ya, Rian sangat tidak semudah itu untuk percaya. Pasalnya tidak akan mungkin ada seseorang yang tidur dengan masih mengenakan higlsnya.
"Ini sudah sore, tidak baik jika seorang gadis tidur dihari yang akan mulai gelap." Ziva membuka selimutnya dengan cepat dan duduk melihat kearah Rian.
"Omong kosong. Siapa yang mengatakan hal bodoh seperti itu?" Ujar Ziva yang masih melihat kearah Rian yang sedang akan membuka kemejanya itu.
Rian kemudian melangkah kearah Ziva lalu perlahan naik dan merangkak mendekat pada Ziva. "Kau ingin tau siapa yang mengatakan omong kosong itu?" Kata Rian yang bicara sangat dekat pada wajah Ziva.
"Tidak! Aku tidak ingin tau karena itu sangat tidak penting untukku." Ziva menjauh dari Rian lalu beranjak turun dari tempat tidur.
Rian menarik tangan Ziva sampai membuatnya terbaring ditempat tidur. "Mau kemana kau? Hum?" Rian mengusap pipi mulus Ziva yang dengan cepat dihempas tangan nakal itu dari pipinya.
"Jaga sikapmu, kita belum menikah." Kata Ziva dengan ketusnya. "Jadi artinya jika kita sudah menikah maka aku boleh bersikap sesukaku?" Ziva terdiam. Gadis itu justru seolah bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Rian tersebut.
__ADS_1