
Sementara itu, Rian yang seolah berhasil membuat Ziva tersipu karena ucapan manisnya barusan, merasa sangat bangga. Pasalnya ia merasa bahwa sepertinya sudah berhasil membuat Ziva luluh dengan mudahnya.
Menjelang sore hari, Rian pun berpamitan dengan Sinta untuk pulang dekaligus membawa Ziva. Lantaran malam ini adalah malam pernikahannya maka Rian tidak bisa berlama-lama ada dipanti.
"Ibu, aku pulang dulu. Nanti malam sopir akan menjemput Ibu." Kata Ziva dan Sinta pun mengangguk senyum.
Wanita parubaya itu mengusap pipi Ziva lalu menciumi wajahnya. Betapa ia sangat bahagia dan sekaligus sedih karena harus melepas putri angkatnya itu untuk menikah. "Nanti malam Ibu pasti akan datang, hum?" Ziva mengangguk dan sekali lagi ia memeluk Ibu angkatnya itu dengan erat.
Cukup lama keduanya berpelukan, kemudia Sinta pun melepas pelukan itu. "Rian, aku percayakan Ziva padamu. Aku minta jagalah dia dan jika kelak kau sudah tidak mencintainya lagi, kembalikan dia padaku."
Degh.
Ucapan Sinta itu pun seolah menghentakkan jantung Rian dengan kuat. Betapa jahatnya ia jika sampai berpikir untuk mempermainkan Ziva. Sedangkan, ada sosok seorang seorang ibu yang dengan susah payah membesarkannya dan merawatnya sampai menjadi sosok gadis yang begitu cantik. Begitulah pikir Rian.
"Ibu jangan khawatir, aku pasti akan menjaganya dan tidak akan sedikit pun berpikir meninggalkannya." Ujar Rian meyakinkan Sinta.
Sinta mengangguk senyum seraya mengusap pipi Rian. "Aku percaya padamu." Setelah begitu banyak bicara, akhirnya Ziva dan Rian pun pergi meninggalkan panti.
Ziva melambaikan tangannya bersama dengan mobil yang melaju pergi meninggalkan halaman panti. Sampai wajah Sinta menghilang dari pandangannya, Ziva pun terlihat kembali tertunduk lesu. Bahkan sepanjang perjalanan pulang Ziva tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
__ADS_1
Dan sesampainya dirumah, Ziva keluar dari mobil bersama Rian dan juga masuk kedalam Mansion secara bersamaan. "Tuan, ada perias yang menunggu Nyonya didalam." Ujar Luna, pelayan Mansion Rian.
"Antar Nyonya kedalam." Luna mengangguk dan membawa Ziva kekamar untuk dirias karena pernikahan akan dimulai jam 8 malam nanti.
"Masuklah, Nyonya." Luna membuka pintu kamar dan mempersilahkan Ziva masuk.
Dengan melangkah perlahan, Ziva pun masuk. Didalam Ziva sudah disambut oleh beberapa perias yang siap mempercantik dirinya di malam pernikahannya nanti. "Mari, Nyonya. Silahkan duduk." Ucap si perias sembari menarik kursi untuk Ziva duduk.
Dengan perasaan tidak karuan, dan dengan keringat dingin yang seolah menyelimuti tubuhnya, kini Ziva benar-benar merasakan hal yang seolah menakutkan baginya. Bagaimana tidak menakutkan, seumur hidupnya ia tidak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenisnya namun tiba-tiba ia dihadapkan dengan sebuah pernikahan yang harus ia lakoni dengan sedikit keterpaksaan.
Ya, sedikit keterpaksaan itu lantaran ia yang sebenarnya tidak menginginkan pernikahan ini terjadi, dan disisi lain juga ia tetap harus menikah karena Ibunya yang sudah begitu percaya jika pernikahan yang akan terjadi pasti akan membawa kebahagiaan baginya.
"Agaknya Nyonya sangat gugup ya malam ini?" Ucap Amrita, si perias yang akan merias wajah Ziva.
"Nyonya benar-benar mirip dengan mendiang Nyonya Namira dulu, istri tuan Rian." Ujar Amrita memotong ucapan Ziva.
"Saat pertama kali aku meriasnya, aku juga melihat wajah kecemasan dan gugupnya seperti ini. Sama persis dengan anda." Ziva terdiam mendengarkan apa yang diucapkan Amrita. Sampai saatnya rasa penasaran Ziva pun muncul.
Ia mulai menanyakan tentang bagaimana sosok Namira, lalu apa yang menyebabkannya meninggal dan bagaimana hubungan Namira bersama Rian dulunya. Satu persatu ia tanyakan dan Amrita pun menjawab semua pertanyaan itu sembari merias wajah Ziva.
__ADS_1
"Jadi, dulunya mereka menikah karena keterpaksaan begitu?" Tanya Ziva dengan rasa masih penasarannya.
"Lebih tepatnya hanya tuan Rian yang terpaksa melakoni pernikahannya, tidak dengan mendiang Nyonya Namira." Mendengar ucapan Amrita membuat Ziva mulai berpikir, mungkinkah pernikahsn yang tiba-tiba ini juga dilakukan Rian karena terpaksa atau, entah lah. Ziva berusaha membuang semua pertanyaan konyol yang ada dalam pikirannya itu.
Karena baginya saat ini, tidak lah penting pernikahan ini terjadi atas dasar cinta atau tidak. Yang terpenting sekarang Ziva hanya melakoni saja perannya sebagai calon istri dari duda tampan dan kaya raya, Rian Abraham.
"Sudah selesai." Amrita tersenyum kagum saat melihat kecantikkan Ziva setelah wajahnya sudah terbalut oleh riasan make up hasil dari tangannya.
"Nyonya, kau sangat cantik sekali. Aku yakin tuan Rian tidak akan sedikit pun bisa berpaling untuk menatapmu." Ujar Amrita seraya membenahi rambut Ziva.
"Kau terlalu memujiku." Kata Ziva tersipu malu.
Amrita tersenyum dan kemudian ia mengambil gaun pernikahan yang harus dikenakan Ziva. "Sekarang pakai lah ini." Amrita memberikan gaun itu dan Ziva pun mengambilnya.
"Sudah hampir jam 8, Nyonya. Ayolah, anda tidak punya banyak waktu lagi." Amrita membantu Ziva untuk memakai gaun pengantin mewah berwarna putih tersebut.
Setelah gaun pengantin sudah melekat pada tubuh Ziva, benar saja. Amrita dibuat lebih kagum lagi saat menatap calon pengantin yang sudah ia rias tersebut. Ya, Ziva benar-benar terlihat cantik dan bahkan sangat cantik.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Ziva menunduk sedikit malu saat Amrita terus tersenyum menatap Ziva.
__ADS_1
"Sungguh anda sangat cantik Nyonya, Ziva. Aku tidak tau harus mengatakan apa, tapi ini luar biasa." Ujar Amrita yang tidak henti-hentinya memuji calon istri Rian tersebut.
Rasanya Ziva semakin dibuat malu oleh pujian Amrita. Gadis itu juga semakin gugup tidak karuan saat melihat kearah jarum jam yang dimana tinggal beberapa menit saja ia akan segera menikah dengan sosok pria yang baru 2 hari dikenalnya.