
"Jadi kapan kita bisa memulainya?" Ucap Rian yang seketika itu juga membangunkan kesunyian Ziva.
"A-apa yang mau dimulai?" Tanya Ziva dengan gugup sembari memalingkan wajahnya. Tau jika istrinya berpura-pura bodoh untuk melupakan janjinya, dengan cepat tangan Rian meraih pinggang Ziva dan menjatuhkannya ditempat tidur. "Akhh..."
"Sebelum kita pergi dari kota Swiss ini, alangkah baiknya jika kita melakukannya dulu agar semuanya impas." Mendengar hal itu dengan perlahan Ziva menggerakkan tubuhya menggeliat mencoba menurunkan tubuh Rian yang menimpa tubuhnya saat ini.
"Tuan, jangan seperti ini. Kita lakukan saja nanti setelah sam--"
"Apa kau mencoba mengulur waktu?" Tanya Rian memotong ucapan Ziva.
Ziva menggelengkan kepalanya, sementara Rian semakin mendekatkan wajahnya pada Ziva. Hembusan nafas Rian begitu terasa hangat menyentuh bibir Ziva. Sampai akhirnya satu ciuman lembut pun berhasil mendarat dibibir tipis milik gadis yang memiliki wajah sama persis dengan mendiang Namira tersebut.
Tidak berkutik sedikit pun, Ziva terdiam dengan kedua mata yang terbuka lebar. Merasakan ciumannya tidak mendapat respon dari wanitanya tersebut, pria itu pun kemudian menggigit bibir gadis itu dengan sedikit keras. "Akhh..." Sedikit ******* yang cukup membangkitkan gairah. Ya, suara itu pun membuat Rian kini seolah tidak sabar untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi pada sang istri.
__ADS_1
Tangan nakalnya perlahan mulai menyentuh bagian gundukan kenyal milik wanitanya tersebut dan ciuman yang awalnya tidak direspon itu pun kini seolah berubah menjadi ciuman brutal yang sama-sama mendapat balasan satu sama lain.
Saat keduanya mulai larut dengan gairahnya masing-masing, tanpa diduga tiba-tiba Ziva melepas tautan bibirnya bersama Rian. "Tuan, hentikan." Lirihnya sembari medorong sedikit dada Rian. "Kenapa?" Tanya Rian dengan suara serak yang terdengar begitu menggoda ditelinga Ziva.
"Aku takut." Kata Ziva yang kemudian memalingkan wajahnya dari tatapan nakal Rian.
"Takut?" Ziva mengangguk dan Rian pun tersenyum menyeringai setelah mendengar pengakuan konyol darinya. Kata takut yang sangat tidak tepat diucapkan oleh Ziva lantaran ia sudah pernah melakukannya bahkan merasakan sebelumnya.
"Tapi, Tuan. Bagaimana ka--"
"Ssstttt..." Rian menutup bibir Ziva dengan satu jarinya memotong ucapan Ziva. "Aku berjanji akan melakukannya dengan lembut, hum?" Jantung gadis itu berdetak begitu kencang. Ia benar-benar tidak bisa mengatakan apapun bahkan berkutik sedikit pun.
Dan tanpa pikir panjang lagi, Rian pun beranjak dari atas tubuh Ziva kemudian melepas satu persatu kancing kemejanya. Terlihat bagaimana indahnya tubuh suaminya itu sampai tidak bisa membuat Ziva berpaling menatapnya.
__ADS_1
Rian kembali menjatuhkan tubuh kekarnya diatas tubuh Ziva sembari mengusap wajah cantik dari wanitanya tersebut. "Apa kau menyukainya, sayang?" Seketika Ziva memalingkan wajahnya, menyembunyikan betapa ia sangat tersipu malu saat tatapan akan kekagumannya itu diketahui oleh sosok pria yang saat ini menjadi suaminya tersebut.
Srek!
"Apa yang kau lakukan!" Pekik Ziva saat tiba-tiba Rian merobek pakaian bagian dada milik Ziva.
"Jangan membuatku menunggu, Ziva. Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi." Kata Rian.
Dengan brutalnya Rian pun merobek semuak pakaian Ziva hingga membuat tubuh kosong gadis itu benar-benar terlihat jelas. "Tuan, jangan!" Teriak Ziva namun tidak di indahkan oleh Rian.
Tangan pria itu kemudian dengan cepat menekan tombol kedap suara yang tidak jauh darinya agar teriakan Ziva tidak akan bisa didengar oleh orang lain yang berada diluar kamarnya. "Tuan, bukankah kau bilang kau akan melakukannya dengan lembut? Jadi aku minta lakukanlah dengan pelan atau--"
"Argghhh..." Rian mengerang nikmat. Ya, nampaknya pria itu sudah berhasil membungkam bibir wanitanya dengan menghentakkan miliknya kedalam inti milik Ziva.
__ADS_1