
2 Jam kemudian permainan panas itu nampaknya belum juga usai. Setiap tetesan keringat terus membanjiri tubuh keduanya akibat gairah panas yang dilakukan sang duda tampan yang kini sudah menyandang status kembali sebagai suami dari sosok gadis cantik bernama, Ziva Azalea.
"Tuan, hentikan aku sudah tidak sanggup lagi." Keluh Ziva saat ia merasakan tubuh yang mulai melemah lantaran Rian yang terus memberikan tempo cepat pada permainannya. "Sebentar lagi, sayang. Bertahan lah seben--"
Ceklek.
"Paman Rian?" Pintu yang terbuka tiba-tiba dan suara anak kecil yang terdengar memanggil namanya itu seketika membuat Rian langsung menghentikkan gerakannya. Tak lupa dengan cepat Rian juga langsung menarik selimut tebalnya untuk menutup tubuh kosongnya dan Ziva. "Itu Yumna, bagaimana dia bisa masuk kesini? Apa aku lupa mengunci pintunya?"
Ya, suara itu adalah suara Yumna, putri Keynan dan Naura. Melihat kedatangan Yumna yang tiba-tiba masuk kedalam kamar serasa membuat Rian dan Ziva hampir mati dibuatnya. Bagaimana tidak, dengan tubuh yang ditutupi selimut tanpa sehelai pakaian ditubuh mereka, lantas apa yang bisa mereka lakukan saat ini? Membuka selimut dan memperlihatkan tubuhnya pada gadis kecil itu atau... "Apa paman bersembunyi didalam selimut ini?" Yumna menarik selimut itu pelan dan dengan cepat Rian membukanya yang menampakkan setengah dari tubuhnya.
"Yumna, kau disini?" Gadis kecil itu pun mengangguk senyum saat melihat wajah tampan paman yang selalu ia kagumi tersebut. Namun senyuman itu tiba-tiba berubah saat melihat ada sosok wanita lain yang terbaring disamping Rian.
"Siapa wanita cantik itu?" Yumna menunjuk kearah Ziva.
Kali ini Ziva benar-benar merasakan terjebak disituasi yang sulit. Bahkan sedikit pun ia tidak berani menatap kearah Yumna. Gadis itu kemudian menyembunyikan wajahnya didada kekar Rian.
__ADS_1
"Dia siapa, paman?" Tanya Yumna dengan rasa ingin taunya.
"Em... dia is--"
"Yumna, kau disini?" Rian menatap keambang pintu melihat kedatangan Keynan. Sementara itu Keynan benar-benar tertegun dengan apa yang ia lihat kali ini.
Dengan menatap tajam kearah Keynan sembari mengangkat satu alis tebalnya, seketika membuat Keynan mengerti akan apa yang harus ia lakukan. Sahabat Rian itu pun dengan cepat masuk dan menggendong putri kecilnya tersebut dan hendak membawanya pergi dari kamar tersebut.
"Sayang, kenapa pergi tidak bilang? Ayo kita keluar dari sini." Ujar Keynan yang hendak membawa Yumna pergi dari kamar. "Aku tidak mau, Pa. Turunkan aku." Yumna mencoba merosot dari gendongan Keynan menolak diajak pergi.
"Aku masih ingin disini." Berhasil turun dari gendongan Keynan, dengan cepat Yumna mendekat ketempat tidur Rian dan hendak naik keatas. "Yumna, jangan!" Seru Keynan yang dengan cepat menarik tangan putrinya agar tidak naik ketempat tidur.
"Yumna, tunggu diluar nanti Paman akan menyusul. Sekarang Paman harus mandi." Kata Rian membujuk Yumna.
Yumna menggeleng cepat. "Aku tidak mau! Paman belum mengatakan siapa gadis itu!" Seru Ziva seraya menunjuk kearah Ziva.
__ADS_1
"Nanti Paman Rian akan memberitaumu, jadi biarkan membersihkan tubuhnya yang kotor itu dan kita tunggu dibawah." Ujar Keynan sengaja mengejek Rian.
"Benarkah?" Yumna menatap Rian berharap Pamannya itu akan cepat turun menemuinya selepas selesai mandi. Rian pun mengangguk senyum mengiyakan apa yang Yumna katakan.
Begitu berhasil membujuk Yumna, lantas Keynan pun membawa putri kecilnya itu turun kelantai bawah. Seketika itu juga Ziva langsung menghela nafas leganya setelah melihat Yumna sudah benar-benar pergi dari kamarnya.
"Haiss... kepalaku jadi pusing." Umpat Rian karena ia gagal untuk menyelesaikan permainannya. Ziva kemudian mendorong dada Rian dan menjauh sedikit darinya. "Tuan, pergilah ada temanmu dibawah." Rian hanya diam dengan tatapan kesalnya.
"Kenapa?" Tanya Ziva saat melihat tatapan kesal dari wajah Rian.
"Apa kau pikir aku bisa pergi begitu saja saat puncak keinginanku belum selesai terpenuhi?" Ujarnya dengan masih menatap Ziva.
Ziva hanya terdiam, pasalnya meski untuk kali ini permainan tidak selesai karena kedatangan Yumna yang tiba-tiba, namun 2 jam yang mereka lalui sudah menjadi ke tiga kalinya puncak kenikmatan itu terjadi. Dan dimenit terakhir ini lah yang sebenarnya menjadi puncak ke empat kalinya namun gagal.
"Kalau kau tidak mau pergi maka aku yang akan pergi mandi terlebih dulu." Ziva menarik selimut yang tadinya menutupi tubuh keduanya dan beranjak dari tempat tidur.
__ADS_1
"Apa kau akan membiarkannya seperti ini?"
"Apanya?" Ziva memutar tubuhnya melihat kearah Rian yang masih terbaring. Lagi-lagi Ziva hampir dibuat gila oleh Rian karena apa yang saat ini ia lihat. Ya, sesuatu yang besar, panjang, berurat lebih tepatnya, yang membuat gadis itu akhinya dengan cepat kembali naik ketempat tidur dan menutup kembali tubuh Rian menggunakan selimut yang tadinya ia pakai.