Gairah Cinta Hot Duda

Gairah Cinta Hot Duda
Episode 32


__ADS_3

"Kenapa lagi?" Tanya Ziva yang hendak melepas tangannya dari genggaman Rian.


"Duduk lah aku ingin bicara denganmu." Rian memegang tangan Ziva dan mengajaknya untuk duduk. Kini keduanya sama-sama duduk disisi tempat tidur dengan saling bersebelahan.


"Ada apa? Cepat lah bicara aku ingin per--" Belum sempat Ziva menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Rian membungkam bibir wanitanya itu dengan satu ciuman hangat dari bibirnya.


Ziva terdiam, gadis itu tidak merespon ciuman dari suaminya. Yang ia rasakan hanya detak jantungnya yang mulai berdetak tidak karuan. Sampai tak lama kemudian Rian pun melepas tautan bibirnya tersenyum.


Terlihat bagaimana wajah Ziva yang memerah dengan mata yang masih membelalak menatap Rian. Perlahan kemudian Rian pun mengusap bibir lembab Ziva akibat ciumannya tersebut.


"Katakan padaku, apa yang selalu membuatmu marah padaku? Apa aku kurang baik memperlakukanmu disini? Atau ada sesuatu yang kau inginkan dariku namun belum kau dapatkan?" Ziva menghela nafasnya lalu memalingkan sedikit wajahnya dari pandangan Rian.


Ia menatap foto Rian dan Namira yang masih terpampang jelas didinding kamarnya. "Apa karena wajah kami yang sama maka kau begitu ingin menikahiku?" Ucapnya dengan tatapan yang masih mengarah pada foto besar Rian dan Namira.

__ADS_1


Melihat tatapan Ziva yang terus menatap pada foto pernikahannya dulu bersama Namira, membuatnya sedikit menerka tentang apa yang wanitanya itu pikirkan saat ini. "Iya, Ziva." Jawaban Rian pun sontak langsung mengalihkan perhatian Ziva yang kemudian berbalik menatapnya. "Kau benar, Ziva. Aku menikahimu karena kau memiliki wajah yang sama dengannya." Kata Rian dengan tatapan yang berkaca-kaca melihat kearah foto Namira. "Kalau boleh aku jujur, sampai detik ini aku masih sangat mencintainya."


Degh.


Pengakuan Rian seolah begitu menghujam hati Ziva. Entah kenapa ada perasaan yang tidak terima saat mendengar hsl tersebut. Rasanya ingin sekali Ziva mengakui jika ia marah, benci dan cemburu saat mendengar suaminya yang begitu mudah mengakui jika dirinya yang masih mencintai istri pertamanya tersebut.


Ya, meski pada kenyataannya istri yang masih dicintainya itu sudah tidak ada, namun tetap saja ada perasaan yang tidak bisa Ziva akui saat ini. Dan tanpa disadari olehnya kini air matanya pun tiba-tiba menetes dari kedua pipinya.


"Aku ingin bercerai." Rian menoleh dan menatap Ziva yang masih duduk disampingnya. Apa yang diucapkan Ziva bukanlah sesuatu yang ingin Rian dengar. Pria itu kemudian memegang kedua pundak Ziva dan menatapnya sangat dekat. "Apa kau bilang barusan?" Tanya Rian ingin lebih jelas lagi.


"Jadi biarkan aku pergi dan lupakan apa yang sudah ter--"


"Tidak!" Sentak Rian memotong ucapan Ziva. Pria itu kemudian berdiri dan berjalan menatap foto pernikahannya bersama Namira. "Meski apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah membiarkan kau pergi dariku. Karena apa kau ingin tau?" Rian memutar tubuhnya menatap Ziva kembali. "Karena kau adalah milikku, Ziva. Dan hanya milikku saja."

__ADS_1


"Tapi--"


"Alex!" Lagi-lagi ucapan Ziva terpotong saat Rian dengan kuatnya berteriak memanggil nama asisten pribadinya.


Hanya dengan satu panggilan lantang dari Rian, tak lama kemudian Alex pun datang dan langsung masuk kedalan kamar Rian dan Ziva. "Ada apa, Tuan?"


"Pindahkan foto ini kekamar tamu." Mendengar Rian meminta Alex untuk memindahkan foto pernikahannya dengan Namira, tentu membuat Ziva tertegun tidak menyangka. Gadis itu kemudian beranjak dari duduknya lalu mencoba melarang Alex untuk melakukan apa yang Rian minta.


"Kenapa harus dipindahkan? Biarkan saja di--"


"Cepat pindahkan sekarang, Alex!" Sentak Rian dengan keras lalu Alex pun dengan cepat langsung melepas foto berukuran besar itu dari dinding kamar kemudian dibawanya keluar.


"Tuan, kenapa harus dipindahkan? Itu kan--" Rian menarik tangan Ziva dan memeluk wanitanya itu kedalam dekapannya. "Aku tau kau tidak menyukainya. Meski aku masih mencintainya tapi bukan berarti aku tidak bisa menjaga perasaanmu sebagai istriku saat ini."

__ADS_1


Ziva terdiam mematung dipelukan Rian. Entah kenapa meski sebenarnya ia tidak ingin foto itu dipindahkan, namun dengan apa yang Rian lakukan kali ini justru membuatnya merasa senang dan bahagia. Kali ini Ziva merasa seperti benar-benar menjadi seorang istri yang begitu dihargai oleh suaminya. Ya, meskipun ia sendiri tidak bisa menebak tentang adanya cinta atau belum diantara dirinya sendiri dan juga Rian, suaminya.


__ADS_2