Gairah Cinta Hot Duda

Gairah Cinta Hot Duda
Episode 19


__ADS_3

"Sekarang jelaskan pada ibu, kenapa kau merahasiakan hubungan ini?" Tanya Sinta pada Ziva.


Rasanya gadis itu tidak tau harus mengatakan apa, ia bingung. Bagaimana tidak bingung sedangkan kenyataanya memang tidak ada hubungan yang terjalin antara dirinya dan Rian. Entah darimana Ibunya itu mendapat informasi yang tidak benar.


"Ziva, kenapa tidak menjawab pertanyaan Ibu?" Ziva masih terdiam dengan mengusapi telinganya yang masih membekas rasa sakitnya akibat jeweran Sinta.


"Ziva!" Sentak Sinta.


"Hah, i-iya ibu." Sahut Ziva yang kemudian. menunduk dengan bibir menguncup.


Melihat Ziva terdiam akan kebingungannya untuk menjelaskan pertanyaan Sinta, lantas Rian pun dengan tiba-tiba berpindah tempat duduk tepat didekat Ziva.


"Ibu, aku jelaskan semuanya. Ini bukan salah Ziva tapi..." Rian memegang tangan Ziva yang tentu membuatnya langsung menatap tajam kearah Rian.


Rian tersenyum seraya mengangkat satu alisnya menggoda dihadapan Ziva. "Aku sangat mencintai putrimu ini, Ibu. untuk kenapa hubungan ini kami rahasiakan karena saat itu aku sedang berada diluar negeri untuk keperluan bisnis. Maka dari itu aku dan Zi--"


"Iya, Ibu mengerti sekarang. Tidak apa-apa yang terpenting kau bisa menjaga Ziva dengan baik." Ujar Sinta memotong ucapan Rian.


Rian pun mengangguk senyum serta meyakinkan Sinta untuk tidak mengkhawatirkan hal apapun. Bahkan Rian juga sampai rela duduk dihadapan Sinta hanya untuk bisa mendapat restu dari sosok wanita yang sudah merawat dan membesarkan calon istrinya itu. Ya, meski tanpa Rian melakukannya sudah pasti Sinta akan tetap merestuinya.


Melihat apa yang dilakukan Rian membuat Ziva seperti merasakan sesuatu yang tidak biasa. Rasanya ada yang berbeda dengan perasaannya kali ini. Tatapan yang semula seperti benci pada Rian, kini berubah seperti tatapan yang sulit dijelaskan. Bahkan rencana yang sudah Ziva rancang untung membuat Rian membenci dan tidak ingin menikahinya justru gagal dalam sekejap. Karena ternyata Rian jauh lebih cerdik dari yang dibayangkan.


Setelah restu sudah didapat, Sinta meminta Rian dan asisten pribadi Rian untuk makan bersama dengan hidangan yang sudah disiapkan. Tidak perlu berpikir lama lagi, Alex yang sudah sejak pagi tadi menahan lapar, dengan cepat menyantap semua hidangan tanpa memperdulikan sekitar.


"Kenapa kalian diam saja? Makanlah ini enak sekali." Ucap Alex dengan mulut penuh makanan.

__ADS_1


Ziva sedikit tersenyum saat melihat tingkah lucu Alex. Dan Rian, ia juga tersenyum saat untuk pertama kalinya bisa melihat senyuman yang begitu indah dari bibir Ziva. Bahkan senyuman itu lagi-lagi mengingatkan ia dengan sosok mendiang Namira.


"Ziva tidak lah pandai memasak, jadi kelak kau harus memakluminya, Rian." Ujar Sinta yang membuat Ziva sedikit menahan malu. Karena pssalnya memang benar ia tidak pandai memasak atau bisa dikatakan ia memang tidak bisa sama sekali untuk memasak.


"Tidak apa-apa, Bu. Aku menikahinya tidak untuk pandai memasak, tapi aku menikahinya karena ingin hidup bahagia bersamanya." Ucapan yang sangat mengagumkan. Sampai-sampai membuat Ziva menghentikan makannya dan menatap wajah tampan Rian yang tengah duduk disampingnya itu.


Tidak hanya itu, ucapan Rian bahkan sampai membuat Alex tersedak begitu mendengarnya. "Nak, Alex kau tidak apa-apa?" Ucap Sinta dengan cepat menyodorksn segelas air putih untuk Alex.


Alex menggeleng lalu meneguk segelas air putih yang diberikan Sinta padanya. "Terima kasih, Bu." Ucap Alex sembari melontarkan senyumannya.


"Bagaimana bisa tuan mengatakan hal selembut itu, apa dia lupa yang dia katakan padaku semalam?" Gumam Alex dalam hati. Ya, benar sekali. Bagaimana bisa Rian mengatakan hal yang membahagiakan untuk didengar seperti itu. Padahal Alex ingat betul dengan apa yang dikatakan bosnya itu semalam.


Flashback On.


"Dasar gadis keras kepala, kalau tidak mengingat harus menjaganya sebelum pernikahan maka sudah kumakan habi dia malam ini." Rian terus menggerutu sepanjang ia berjalan menuruni anak tangga, sampai-sampai pria itu tidak sengaja menabrak Alex yang juga akan naik kelantai atas.


Brugh.


"Tuan?" Ucap Alex saat tidak sengaja menabrak tubuh sang majikannya. Seketika mata Alex menatap dada Rian yang terbuka karena beberapa kancing yang belum sempat ditutup.


"Tuan, kau dan Nyonya sudah--"


Bugh.


Ucapan Alex terhenti saat tiba-tiba Rian mendorong asisten pribadinya itu dan menekan tubuhnya ditembok. "Tu-tuan, apa yang kau lakukan? Tuan sadarlah ini aku, Alex. Aku seorang pria tuan."

__ADS_1


"Ssssttt... tutup mulutmu." Rian membungkam bibir Alex menggunakan satu jari telunjuknya.


Alex diam mematung, dahinya berkeringat dan sedikit pun ia tidak berani bergerak. "Lihat aku." Kata Rian dan Alex pun mengangguk cepat. "Katakan padaku, apa dengan bentuk tubuhku ini bisa dinilai besar kecilnya ulat buluku?"


"A-apa? Ulat bulu? Maksud tu--"


"Ck, payah." Rian menepuk keras pundak Alex lalu menjauh darinya.


Alex yang tidak mengerti apa yang dikatakan Rian pun hanya melongoh bingung sembari menatap majikannya yang terlihat gelisah. "Sebenarnya ada apa, Tuan? Dan ada apa dengan ulat bulu?" Rian menatap tajam Alex sampai membuatnya diam mematung dengan kepala menunduk takut.


"Aku harus memberi pelajaran pada gadus keras kepala itu. Berani sekali dia mengejekku dan mengatai ulat buluku kecil." Alex sontak mengangkat pandangannya dan menatap bingung Rian kembali.


Ulat bulu apa yang sebenarnya tengah dibicarakan Rian? Dan gadis siapa yang berani mengejeknya? Mungkinkah Ziva atau gadis lain. Semua pertanyaan demi pertanyaan itu melingkar bulat diotak Alex. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang tengah Rian bicarakan.


Sampai akhirnya Alex memberanikan diri untuk bertanya lebih jelas dan pada akhirnya Rian pun menceritakan semuanya pada asisten pribadinya itu.


Dan benar saja, apa yang diceritakan Rian justru mengundang gelak tawa bagi Alex. "Kau berani mentertawakanku?" Alex sontak terdiam dan menggeleng cepat.


"Ingatkan ini, Alex. Aku menikahi gadis keras kepala itu karena dia mirip dengan mendiang istriku dan bukan karena aku mencintainya atau yang lainnya." Ujar Rian dengan penuh keyakinannya.


"Dan 1 lagi, aku akan membuat gadis itu tergila-gila padaku dan bertekuk lutut mengemis cinta padaku." Mendengar ucapan Bosnya itu, Alex pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya namun tidak sedikit pun bisa mempercayainya.


Ya, karena Alex ingat betul saat dulu Keynan pernah bercerita bagaimana awalnya Rian pernah membenci Namira namun akhirnya berujung dengan cinta.


Flasback Off.

__ADS_1


__ADS_2