
"Kenapa tidak cepat memakai baju!" Dengan kesal Ziva berusaha menutupi tubuh Rian menggunakan selimutnya.
"Ziva, bibirmu bengkak?" Rian menatap lekat bibir Ziva sembari mengusapnya. "Maaf ya sudah membuatnya sampai seperti ini." Kata Rian.
"Ck, Jauhkan tanganmu." Ziva berdecak kesal dan tangan Rian pun dihempas olehnya. Gadis itu pun kemudian beranjak dari tempat tidur namun saat akan beranjak tiba-tiba ia mengurungkan niatnya. Melihat bagaimana pakaiannya sudah tidak berbentuk lagi akibat ulah Rian yang sudah merobeknya, membuat Ziva terdiam. Tidak tau bagaimana ia bisa pergi tanpa sehelai pakaian ditubuhnya.
"Kenapa, sayang?" Ziva menoleh dengan cepat kearah suaminya yang duduk dibelakangnya. Menatap pria itu dengan kesal dan ingin sekali rasanya ia meremas wajah tampan itu yang sudah membuatnya kehilangan pakaiannya.
Sementara Ziva yang masih mempermasalahkan pakaian yang dirusak oleh Rian, disisi lain dilantai bawah terlihat Yumna yang masih terus merengek karena ingin bersama Rian di atas. "Aku mau paman Rian, Pa." Rengeknya dengan tangan kecilnya yang menepuki pipi Keynan.
"Kenapa kau membawanya turun, Key? Biarkan saja dia berada diatas bersama Rian." Kata Naura, istri Keynan.
Mendengar ucapan Naura lantas Keynan menarik pinggang istrinya itu dengan mesra kemudian berbisik ditelinganya. "Apa kau pikir aku harus membiarkan putri kecilku melihat Rian dan istrinya yang sedang bercinta dikamar mereka?"
"Apa!" Seru Naura terkejut akan ucapan suaminya barusan.
"Mama, kenapa?" Seketika Naura pun tersenyum kikuk seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat ditanyai oleh Yumna, putri kecilnya. "Ti-tidak apa, Yumna." Ujarnya.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki menuruni anak tangga. Dengan sangat senang tentunya, Yumna pun berlari menghampiri sosok pria yang tengah menuruni anak tangga tersebut. Siapa lagi sosok pria itu jika bukan Rian. "Paman, gendong aku." Yumna merentangkan kedua tangannya dan Rian pun tersenyum kemudian langsung menggendong putri dari sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Paman, kau tampan sekali pagi ini." Ucap Yumna dengan kedua tangan memegangi wajah Rian.
Entah kenapa melihat suaminya itu terus menerus dipuji ketampanannya membuat Ziva nampak sedikit tidak menyukainya. "Tuan..." Lirihnya dengan menari ujung belakang kemeja Rian.
Rian menoleh kebelakang, menatap bagaimana raut wajah istrinya itu yang sedikit berbeda. Tidak hanya Rian, namun raut wajah ketidak sukaan Ziva saat melihat Yumna yang menyentuh dan memuji ketampanan Rian itu juga bisa diliat oleh Naura dan Keynan.
Menyadari akan hal itu Keynan pun bergegas menghampiri putri kecilnya tersebut lalu mengambil alih dari gendongan Rian. Ya, meski awalnya Yumna enggan untuk terlepas dari gendongan Rian, namun dengan berbagai rayuan yang Keynan lakukan akhirnya Yumna pun berhasil diluluhkan.
"Maaf, Ziva. Putri kecilku ini memang sangat menyukai Rian sejak dulu, jadi aku harap kau tidak cemburu."
"A-apa?" Ziva menatap wajah Rian lalu kembali mengalihkan tatapannya berusaha menyembunyikan wajah gugupnya.
"Siapa gadis itu, Pa?" Tanya Yumna yang masih penasaran dengan sosok Ziva yang sejak awal dilihatnya terus saja berada didekat pamannya tersebut.
"Tuan, lihatlah dia. Sepertinya dia tidak menyukaiku." Bisik Ziva ditelinga Rian.
"Kau yang membuatnya seperti itu, bahkan tatapanmu sudah jelas menunjukkan kalau kau tengah cemburu karenanya." Ziva terdiam dan sementara Rian hanya tersenyum sembari memegang tangannya berjalan menuruni tangga menghampiri Naura dan Keynan dilantai bawah.
Di hadapan Keynan dan Naura terlihat bagaimana Ziva yang tidak bicara sedikit pun, bahkan saat Naura memperkenalkan dirinya, ia hanya tersenyum tipis dihadapan istri Keynan tersebut. Dan tanpa banyak basa-basi lagi kini Rian dan yang lainnya berangkat kebandara meninggalkan kota Swiss. Tak lupa Rian juga membawa Alex sang asisten pribadi berikut Ziva yang membawa Luna untuk ikut dengannya juga.
__ADS_1
Sesampainya dibandara terlihat Luna yang kebingungan. "Nyonya, nanti aku duduk dengan siapa?" Tanya Luna yang kebingungan duduk dengan siapa. "Duduk denganku sa--"
"Kau duduk dengan Alex, istriku tentu saja akan duduk denganku." Ujar Rian yang seketika membuat Luna terdiam menatap Ziva.
Rasanya tidak nyaman sekali jika Luna harus duduk bersama asisten pribadi dari majikannya tersebut. Malu, canggung dan tentu saja banyak rasa yang pastinya membuat gadis itu sangat tidak tenang nantinya. Meski bekerja dalam satu Mansion sebelumnya, namun baik Luna dan Alex jarang sekali bertatap muka atau bahkan bertemu. Namun tiba-tiba malam ini ia harus dihadapkan dengan situasi yang mencengangkan baginya.
"Nyonya, bagaimana ini?" Lirihnya sembari menggenggam tangan Ziva.
"Alex." Seru Rian memanggil nama Alex. Dengan cepat Alex pun menghampiri bosnya tersebut.
"Iya, Tuan?"
Rian melirik kearah Luna memberi kode pada asisten pribadinya tersebut. Dengan cepat Alex pun langsung mengerti. Pria itu kemudian memegang tangan Luna dan langsung membawanya masuk kedalam pesawat lebih dulu. "Loh, Luna dia--"
Rian menarik pinggang Ziva dan menetapkan ditubuhnya. "Tuan, apa yang kau lakukan? Banyak orang disini." Bukannya dilepas, Rian justru semakin mendekap tubuhnya lebih dekat sampai membuat Ziva hampir tidak bisa bergerak.
"Tuan, Lepas! Jangan disini." Ucapnya yang seketika membuat Rian tersenyum menyeringai.
"Jangan disini? Apa jika didalam pesawat artinya boleh?" Bisik Rian ditelinga Ziva. Tidak ingin semakin dilihat banyak orang, Ziva dengan cepat pun hanya mengangguk tanpa sadar agar Rian melepas dekapannya.
__ADS_1
"Aku lepaskan dan kita lanjutkan didalam." Bisik Rian lagi ditelinga Ziva.
"Iya!" Seru Ziva dengan melepas dekapan Rian. "Ayo kita cepat naik atau nanti akan tertinggal." Ziva menarik tangan Rian dan membawanya naik kedalam pesawat. Sementara dibelakangnya tanpa Ziva sadari tatapan nakal Rian nampak terlihat dengan jelas saat melihat bagaimana lekuk indah tubuhnya saat tengah berjalan.