
Setelah cukup lama Ziva memandangi foto tersebut, ia kembali memikirkan cara untuk bisa kabur dari Mansion Rian. "Jendela itu." Ziva dengan cepat mendekat kearah jendela lalu berusaha untuk membuka jendela itu namun tidak berhasil.
"Kenapa tidak bisa dibuka?" Ziva terus berusaha membukanya sampai pada akhirnya ia pun merasa putus asa dan menyerah.
"Haaiihh... kenapa tidak bisa dibuka sih!" Umpat Ziva seraya memukul kearah kaca tersebut. Seolah menyerah karena tidak berhasil membuka jendelanya, dengan putus asa Ziva pun perlahan duduk dilantai kamar.
"Mau kabur dariku?" Suara yang tidak asing terdengar ditelinga Ziva itu pun seketika membuatnya yang tadinya akan duduk justru menjadikan ia terdiam dengan posisi tubuhnya yang hampir membungkuk.
"Kenapa ingin sekali pergi dariku? Bukankah hidup dengan seorang pria tampan dan kaya raya sepertiku adalah impian bagi setiap wanita sepertimu?"
"Apa kau bilang? Sepertiku?" Ziva memutar tubuhnya dan menatap pada sosok pria yang tengah bicara dengannya itu.
"Perkenalkan namaku adalah Rian Abraham, selain tampan aku juga adalah pengusaha paling sukses dinegeri ini." Ucap Rian seraya melontarkan senyum lebarnya dihadapan Ziva.
"Aku tau, mungkin kau sedang hilang ingatkan." Hilang ingatan? Omong kosong macam apa yang sedang dibicarakan Rian? Ucapannya seketika membuat Ziva menatapnya dengan bingung.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau mulai mengingat sesuatu tentangku?" Kedua tangan Rian perlahan merangkul kedua pinggang Ziva yang seketika membuat gadis itu terdiam dengan menatap mengikuti gerak tangan kekar Rian.
"Aku mencintaimu Namira, aku sangat mencintaimu." Ucapnya Lirih ditelinga Ziva.
"Emph...!" Ziva mendorong dada Rian dengan kuat dan sampai berhasil menjauhkannya.
"Aku katakan padamu tuan Rian Abraham, Namaku adalah Ziva, ingat baik-baik namaku, aku bukan Namira dan aku tidak pernah kehilangan ingatanku." Kata Namira dengan tatapan sinisnya yang menusuk dihadapan Rian.
__ADS_1
Lagi-lagi Rian pun hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Apapun yang dikatakan Ziva padanya sama sekali tidak membuat Rian lantas percaya begitu saja. Karena apa pun itu Rian tetap lah menganggap Ziva sebagai Namira, istrinya yang sebenarnya memang sudah meninggal 3 tahun lalu.
"Sekarang mandi lah dulu dan turun untuk makan, aku menunggumu dibawah." Ucap Rian seraya melangkahkan kaki pergi dari kamarnya.
"Aku tidak mau makan dan aku tidak akan mau mandi!" Teriak Ziva dengan suara lantangnya.
Rian pun lantas menghentikan langkah kakinya. "Aku bilang aku tidak mau mandi dan makan disini! Jadi biarkan aku pergi!" Teriak Ziva lagi dengan suara lebih keras.
Rian memutar tubuhnya dan kembali menatap gadis keras kepala yang ada dihadapannya itu lalu mendekat padanya. Ditatap oleh Rian sedemikian dekat, Ziva kemudian sedikit menundukkan pandangannya.
"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar bisa menjinakkan kelinci keras kepala sepertimu?" Ucap Rian seraya menarik dagu Ziva.
"Lepas!" Ziva menghempas tangan Rian dengan keras. Bukannya membuat Rian marah akan apa yang dilakukan Ziva padanya, justru membuat Rian semakin tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya lebih dalam.
"Matamu menunjukkan kalau kau itu masih perawan, bagaimana jika tiba-tiba aku hilang kendali dan--"
"Aku akan mandi sekarang!" Ucap Ziva yang langsung memotong ucapan Rian. "Lepaskan aku dan aku akan mandi lalu menyusulmu kebawah untuk makan." Kata Ziva.
Dengan tersenyum penuh kemenangan, Rian pun melepas dekapannya lalu pergi meninggalkan Ziva dikamarnya. "Haahh.... akhirnya sela--"
"Jangan lupa untuk mengganti pakaianmu yang sudah tersedia dilemari." Ziva yang kaget pun karena Rian yang ternyata belum keluar dari kamar hanya menganggukkan kepala dengan patuh.
"Aku menunggumu dibawah jadi cepatlah turun." Ucap Rian seraya melontarkan senyum smirknya lalu berlalu pergi.
__ADS_1
"Dasar Rian brengsek! Awas saja kau ya akan ku ba--"
"Ingin mengatakan sesuatu?" Rian yang tiba-tiba muncul lagi seketika membuat Ziva terdiam mematung.
"Ti-tidak ada, ya sudah aku mandi dulu." Ziva dengan cepat masuk ke Bathroom dan menutup pintu dengan keras lalu menguncinya dari dalam.
Tanpa membuang banyak waktu Ziva mandi dengan secepat mungkin karena khawatir jika sewaktu-waktu mungkin Rian akan tiba-tiba masuk kedalam dan melakukan hal yang aneh-aneh padanya.
Sampai 15 menit kemudian Ziva yang baru saja selesai mandi itu lantas bergegas membuka lemari yang sudah ditunjukan pada Rian sebelumnya.
Dilemari yang sangat besar, dimana lemari itu terdapat begitu banyak pintu yang tentu saja membuat Ziva bingung harus mencari pakaian di pintu yang mana.
Satu persatu pintu lemari itu dibuka dan Ziva hanya menemukan semua pakaian pria didalamnya sampai ia menemukan satu pintu yang justru tidak bisa dibuka olehnya.
"Kenapa yang ini tidak bisa dibuka?" Ucap Ziva yang kesulitan saat membuka pintu lemari tersebut.
Sampai pada akhirnya pintu lemari tidak juga bisa dibuka, Ziva mencoba membuka satu pintu yang tersisa yang berada tepat disamping pintu lemari yang sulit ia buka tadinya.
Klak.
Saat lemari berhasil dibuka oleh Ziva, ia melihat banyaknya pakaian wanita yang tersimpan rapi didalamnya. Dan semua pakaian itu adalah pakaian yang masih baru dan bermerk tentunya, dan juga dengan label yang masih menggantung pada masing-masing pakaian
"Apa ini pakaian milik wanita yang ada difoto itu? Tapi ini masih baru dan belum pernah dipakai." Ziva mengambil salah satu pakaian tersebut berikut dengan satu set pakaian dalam yang juga sudah tersedia disana.
__ADS_1