Gairah Cinta Hot Duda

Gairah Cinta Hot Duda
Episode 16


__ADS_3

"Tu-tunggu dulu. Tenang lah dulu, aku rasa kau sedang mabuk atau--"


"Aku tidak mabuk Ziva, tapi aku benar-benar sangat menginginkannya." Ujarnya memotong ucapan Ziva.


Sementara itu Ziva yang berusaha melepaskan diri dari dekapan Rian, mencoba untuk sedikit memberontak namun Rian semakin kuat menahannya agar tidak bisa terlepas dari dekapannya.


"Tuan, aku mohon jangan seperti ini. Ini sama saja dengan salah satu tindakan kejahatan kau tau!" Dengan semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Ziva, kemudian Rian pun menyeringai seraya mengangkat satu alis tebalnya.


"Lalu, jika ini adalah satu tindak kejahatan, maka apa yang ingin kau lakukan? Hum?" Ujar Rian seraya mencium sehelai rambut panjang Ziva.


"I-iya aku, aku akan melaporkanmu pada polisi atas tindak pidana penculikan!" Pekik Ziva dengan menepis tangan Rian yang sejak tadi memainkan rambut panjangnya.


Rian pun menggeleng senyum. Sungguh apa yang diucapkan Ziva itu sangat lucu baginya. Dan dengan santainya Rian pun menantang akan apa yang ingin Ziva lakukan padanya. "Kau ingin melaporkanku?" Tanya Rian dan Ziva hanya mendengus kesal.


"Katakan, Ziva. Benar kau ingin melaporkanku?"

__ADS_1


"Iya!" Sentak Ziva dengan suara sangat keras.


"Suara bentakanmu itu seakan benar-benar membuatku ingin sekali memakanmu." Ziva yang awalnya sangat kesal menatap wajah Rian, kini seketika ekspresi kekesalan itu berubah.


"Maaf aku hanya--" Belum selesai Ziva bicara, Rian pun kemudian beranjak lalu kembali memakai celananya. Sedangkan Ziva seketika langsung menghela nafas leganya saat Rian yang sepertinya mengurungkan niatnya untuk melakukan hal yang sangat Ziva takutkan tadinya.


"Karena besok malam adalah pernikahan kita, maka besok pagi aku akan mengantarmu pulang kepanti asuhanmu." Kata Rian yang membuat Ziva langsung beranjak dari tempat tidurnya.


"Jadi itu artinya besok kita batal menikah dan aku boleh pergi?" Tanya Ziva dengan antusias. "Apa aku mengatakan jika pernikahan kita akan batal?" Ziva terdiam. Ya, gadis itu baru menyadari jika sepertinya Rian tidak mengatakan hal itu.


"Kau akan tau besok." Rian mengenakan kembali pakaiannya lalu pergi begitu saja dari hadapan Ziva.


"Kenapa tidak kau katakan sekarang saja, tuan?" Teriak Ziva namun diacuhkan oleh Rian.


"Rian, apa kau tuli!" Panggilnya lebih kencang lagi.

__ADS_1


"Kau benar-benar tuli ya! Rian Abraham!" Ziva meneriaki nama Rian dengan sangat kencang namun justru tetap tidak diperdulikan oleh sang duda tampan tersebut.


"Menyebalkan!" Pekik Ziva dengan kesal yang kemudian langsung membanting pintu dengan keras lalu menguncinya.


Dengan rasa khawatirnya kemudian gadis itu melemparkan dirinya ketempat tidur lalu menarik selimut untuk menyembunyikan dirinya didalam sana.


"Tadi apa ya? Besar sekali, panjang dan--" Ziva menghentikan ucapannya dan bergedik merinding didalam selimut saat mengingat akan apa yang ia lihat sebelumnya. Sesuatu yang benar-benar tidak Ziva duga jika ia akan bisa melihat hal itu dengan nyata dan sangat nyata tentunya.


"Tidak. Ini gila dan ini benar-benar gila. Bagaimana kalau nanti setelah menikah dia akan memintaku untuk--" Lagi-lagi Ziva dibuat ketakutan dengan bayangan yang terbesit dalam pikirannya sendiri. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana dan apa yang akan terjadi pada nasibnya nanti setelah ia dinikahi oleh sang duda tampan tersebut.


"Tenang Ziva. Jangan berpikir terlalu jauh. Ya, aku punya ide." Kini gadis yang tadinya terbayang rasa takutnya itu, tiba-tiba tersenyum lebar. Entah apa yang tengah ia rencanakan, namun raut wajahnya seolah menggambarkan suatu keyakinan jika apa yang tengah ia siasatkan pasti akan terjadi sesuai rancangan isi otaknya.


Menjelang tengah malam Ziva yang masih berada dalam balutan selimut itu nampak sudah tertidur dengan pulasnya. Dan tanpa diketahui olehnya kini Rian dengan jalan perlahan masuk kedalam kamarnya.


Pria itu hanya tersenyum saat melihat gadis yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan mendiang istrinya itu tengah tertidur dengan pulas. Dan tanpa ragu Rian pun langsung berbaring disampingnya lalu memeluk Ziva dengan hangat tanpa mengganggu tidur pulasnya.

__ADS_1


__ADS_2