Gairah Cinta Hot Duda

Gairah Cinta Hot Duda
Episode 38


__ADS_3

Sesampainya didalam pesawat Ziva duduk bersanding dengan Rian tentunya. Sementara Keynan dan yang lain duduk dikursi yang sedikit jauh dari Ziva dan Rian.


"Ziva..." Lirih Rian seraya memegang tangan Ziva. Pria itu seolah menebarkan senyum penuh kecurigaan bagi Ziva, semacam senyuman licik yang terpancar.


"Ada apa!" Ziva melepas perlahan tangan Rian. Nampaknya gadis itu mulai merasakan firasat yang buruk akan tatapan suaminya tersebut. "Aku ingin menagih janjimu." Bisik Rian ditelinga Ziva.


Benar saja dugaan Ziva, pria mesum itu selalu saja ingat jika apa yang dijanjikan oleh Ziva adalah hal yang menguntungkan baginya. Tidak ingin menanggapinya, lantas Ziva memalingkan wajahnya dari Rian dan tidak bicara apapun.


Melihat sikap wanitanya yang mencoba menghindari setiap pertanyaannya itu, lagi-lagi Rian kembali berbisik ditelinga wanitanya lagi. "Ayolah, sayang. Kita belum pernah mencoba melakukannya dipesawat, bukan? Jadi bagaimana kalau ki--"


Pluk.


Ziva menutup bibir Rian menghentikannya untuk bicara. "Tidak bisakah kau diam? Apa kau pikir aku akan segila dirimu sampai bersedia melakukan hal konyol didalam pesawat?" Rian memegang tangan Ziva dan menyingkirkannya perlahan dari bibirnya.


Pria itu kemudian menatap lekat wajah Ziva dengan senyuman nakalnya. "Kalau tidak boleh melakukannya disini, bagaimana kalau menyentuhnya sedikit saja." Ucapnya seraya tangan yang tiba-tiba menyentuh bagian gundukan kenyal milik Ziva.

__ADS_1


"Akhhh..." Ya, suara indah itu akhirnya tak tertahan hingga terdengar oleh semua penumpang didalam pesawat. Seketika itu juga gadis itu langsung membungkam bibirnya sendiri dan menyembunyikan wajahnya didada suaminya.


"Suara apa itu tadi?" Ucap salah seorang penumpang. "Iya, aku juga mendengarnya, semacam suara seorang gadis yang tengah menahan gairahnya." Sambung penumpang lainnya. Ziva yang benar-benar merasa malu itu, sedikit pun tidak berani menampakkan wajahnya. Ia tetap bertahan dipelukan suaminya.


Nyaman, senang dan bahagia, begitulah yang Rian rasakan saat Ziva berada dalam pelukannya. "Apa mereka masih melihat kearah sini? tanya Ziva dengan berbisik dipelukan Rian. "Iya, mereka masih mencari siapa pemilik suara indah penuh gairah yang mengusik ketenangan didalam pesawat ini." Ucap Rian berbohong.


Ziva semakin menyembunyikan wajahnya didada Rian. Pelukan pun semakin ia eratkan lantaran takut jika orang akan menatap kearahnya dan mengetahui tentang pemilik suara itu adalah dirinya.


"Diamlah dan tidurlah, saat sudah sampai aku akan membangunkanmu." Kata Rian.


Ziva pun mengangguk dengan posisi yang masih memeluk sosok suaminya tersebut. Dan tanpa terasa ia pun sampai benar-benar tertidur dipelukan hangat suaminya itu.


"Namira?"


Ya, Rian menemukan foto mendiang Namira ditas milik Ziva. Pria itu pun tersenyum dengan menitihkan air matanya tanpa sadar, sembari mengusap foto itu lalu mengecupnya. "Jangan khawatir Namira, Aku akan menjaganya dan akan mencintainya dengan sepenuh hatiku. Cinta yang sama besarnya aku berikan untukmu dulu, meski itu sempat terlambat untuk aku mengakuinya." Ucapnya sembari mengusap air mata yang terus mengalir dari pipinya.

__ADS_1


Rian meletakkan foto Namira kembali kedalam tas Ziva lalu menutupnya dengan rapat. Di sepanjang penerbangan Rian terus memeluk Ziva yang tengah tertidur pulas. Bahkan ia sampai terus terjaga hanya agar wanitanya itu tidak lepas dari pelukannya.


Beberapa jam kemudian, pesawat mendarat mulus dibandara kota A. Rian menuruni pesawat dengan membopong tubuh Ziva yang masih tertidur. Apa yang dilakukan Rian tentu menjadi pusat perhatian para penumpang lainnya, dimana orang-orang tersebut terdengar memuji akan perlakuan Rian terhadap istrinya tersebut.


"Key, aku akan langsung kembali kerumah lamaku. Apa kau mau pulang bersamaku?" Tanya Rian dengan kedua tangannya yang masih membopong tubuh sang istri.


"Tidak, aku juga akan langsung pulang, Kita bertemu besok dikantor." Ujar Keynan yang saat itu juga tengah menggendong putri kecilnya yang tengah tertidur pulas.


"Baiklah." Rian dan Keynan pun akhirnya pulang secara terpisah dengan kendaraan mereka masing-masing.


Rian menaiki mobil bersama Ziva dengan posisi duduk dibelakang dan Alex mengemudi didepan. Lalu Luna, tentu saja ia duduk didepan tepat disamping Alex.


"Jalankan mobilnya dengan kecepatan rendah, Lex. Aku tidak ingin Ziva terganggu sedikit pun tidurnya." Kata Rian sembari membenarkan posisi Ziva dipangkuannya.


"Baik, Tuan." Angguk Alex yang kemudian mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Senyum Luna seolah terpancar saat melihat perlakuan lembut Rian pada Ziva melalui kaca mobil. Namun apa yang dilihat Luna itu sedikit terganggu saat tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bagian pahanya hingga membuatnya terkejut bukan main. "Aaaa.....!!!!"


Teriakan Luna itu pun seketika membangunkan Ziva yang tadinya tertidur pulas. "Luna, ada apa!" Seru Rian dengan sedikit kesal lantaran teriakan dari pelayannya itu sudah mengusik tidur dari wanita yang ia cintai tersebut.


__ADS_2