
"Apa yang sedang kau lihat?" Suara pertanyaan dari Rian itu pun seketika menyadarkan Ziva dari tatapan kosongnya yang tengah menatap sesuatu yang ada tepat dihadapannya tersebut.
"Su-sudah selesai." Ujar Ziva dengan gugupnya yang kemudian langsung berdiri membelakangi Rian.
"Astaga, apa yang ku lihat barusan? Tidak, ini tidak benar. Aku harus pergi." Gumannya yang kemudian melangkah pergi dari hadapan Rian. "Mau kemana?" Langkah Ziva terhenti saat lagi-lagi Rian menarik tangannya.
Ziva memutar tubuhnya dan menatap Rian kembali. "Bukankah aku sudah memakaikan celanamu? Jadi biarkan aku mau pergi." Kata Ziva seraya mencoba melepas genggaman tangannya dari tangan Rian namun gagal.
Dengan cepat Rian pun lantas menarik tangan Ziva lalu mendekap tubuhnya. Tatapan yang nampak begitu nakal Rian tunjukkan sampai membuat wanitanya itu tertunduk diam tidak berani menatap padanya. "Tuan, bisakah ka-kau biarkan aku pergi?" Pinta Ziva dengan suara gugupnya dan tanpa berani sedikit pun menatap wajah Rian.
__ADS_1
Rian menarik dagu Ziva mendekat kewajahnya. "Tidak bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan, Tuan?" Ziva menggeleng perlahan. Ia tidak tau harus menjawab apa, pasalnya ia terbiasa memanggil Rian dengan sebutan itu. Kalau pun memanggil dengan menyebut namanya, itu dilakukan Ziva disaat ia sedang kesal dengan kelakuan suaminya tersebut.
"Maaf, Tuan. Aku harus per--" Rian menahan kedua bahu Ziva dan mendekatkan wajah tampannya tersebut. "Apa kau tidak mendengarku? Sudah kubilang jangan memanggilku dengan sebutan itu." Tegas Rian yang mulai kesal lantaran Ziva yang tidak mengerti akan apa yang Rian inginkan.
"Lalu aku harus memanggilku apa!" Pekik Ziva yang juga mulai kesal karena menganggap apa diakukan Rian terlalu memaksa. "Kau kan bisa memanggilku dengan menyebut namaku saja atau dengan panggilan sayang!" Seru Rian yang seketika membuat Ziva tercengang.
"Apa kau bilang? Aku harus memanggilmu dengan sebutan sayang?" Kata Ziva dengan tidak percaya.
"Apa kau tidak bisa diam, hah?" Ujar Ziva dengan kedua telapak tangan yang masih menutup mulut Rian. Sedangkan Rian hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum dibalik bungkaman tangan Ziva.
__ADS_1
"Sampai berani kau mengatakan hal itu lagi, dan sampai kau ceritakan hal itu pada orang lain, maka aku akan--" Ucapan Ziva terhenti saat dengan perlahan Rian melepas bungkaman tangan Ziva dari mulutnya. "Akan apa? Hum?" Rian menarik pinggang Ziva hingga menempel pada tubuhnya.
"Apa kau akan menghukumku? Atau melukaiku lebih parah dari luka dikepalaku?" Ucapan Rian tersebut seolah langsung menyadarkan Ziva. Ya, luka yang dibuat Ziva dikepala Rian seketika membuatnya lupa akan kekesalannya barusan.
"Maaf, Tuan."
"Tuan?" Kata Rian. Panggilan yang sangat membuat pria itu tidak nyaman. Bagaimana tidak, dengan status keduanya yang sudah berubah tentu membuat Rian sangat tidak menyukai panggilan tersebut. Terlebih lagi jika kolega kerjanya tau bagaimana seorang istri dari CEO ternama Rian Abraham, memanggil suaminya sendiri seolah seperti memanggil majikannya.
"Aku tidak tau harus memangilmu apa! Rasanya aku tidak nyaman memanggilmu dengan nama!" Pekik Ziva dengan perasaan yang penuh penekanan. "Coba beri tau padaku, dengan sebutan apa aku memanggilmu!" Tanya Ziva dengan nada tingginya lagi.
__ADS_1
"Kau benar-benar keras kepala, Ziva! Terserah kau saja mau memanggilku apa!" Sentak Rian yang kemudian pergi begitu saja dari hadapan Ziva.
Entah kenapa kali ini saat mendengar sentakan dari Rian rasanya seperti ada yang berbeda. Rasanya jantung Ziva seolah berhenti berdetak dan kedua matanya pun terlihat berkaca-kaca. "Apa yang salah denganku? Kenapa rasanya sakit sekali melihat sikapnya seperti ini." Gumam Ziva yang tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya.