Gairah Cinta Hot Duda

Gairah Cinta Hot Duda
Episode 31


__ADS_3

"Ayo kita kekamar dulu sekarang." Ujar Rian yang kemudian memegang tangan Ziva namun diseketika dihempas oleh Ziva saat itu juga.


"Aku tidak mau!" Pekik Ziva sembari membuang muka dihadapan Rian. Tidak ingin keributan diantara dirinya dan wanitanya itu menjadi tontonan oleh semua orang yang ada di Mansion, Rian dengan lembutnya merayu wanitanya itu agar bersedia untuk diajaknya pergi kekamar.


"Nyonya, sebaiknya ikuti apa yang dikatakan Tuan Rian atau--"


"Atau apa!" Sentak Ziva yang seketika menghentikan ucapan Alex.


Ziva kembali menatap Rian dengan kedua tangannya yang dilipat didada. "Kenapa ingin mengajakku kekamar? Apa kau malu jika kebenaran tentang dirimu akan didengar oleh semua bawahanmu? Iya?"


Rian tersenyum. Entah lah, rasanya kenapa sulit sekali untuknya marah pada wanitanya itu. Padahal dari mulai sentakan bahkan ucapan yang menusuk sering kali wanitanya itu lontarkan. Namun bukan emosi dan amarah yang Rian lakukan, justru pria itu hanya merespon dengan senyuman sembari menahan rasa gemasnya pada sang istri.

__ADS_1


"Bukan begitu sayang, hanya saja aku ingin mengobati bagian intimu. Bukankah kau bilang itu sangat sakit dan perih akibat gempuranku semalam?" Seketika ucapan Rian itu pun membuat Ziva benar-benar tidak bisa berkutik. Bibirnya seolah terbungkam dengan kedua mata yang melirik kearah para pelayan di Mansion. Malu? Ya, tentu saja malu dan sangat malu. Bahkan rasa malu yang dirasakannya seolah melupakan apa yang juga sudah ia katakan pada Rian sebelumnya dihadapan banyak orang didalam Mansion.


"Ck, ayo kita kekamar sekarang!" Pekik Ziva dengan menahan rasa malunya yang kemudian berjalan dengan cepatnya menuju kekamar. "Dasar tidak tau malu, bagaimana bisa mengatakan hal intim semacam itu didepan semua orang." Ziva terus saja menggerutu sepanjang ia berjalan kelantai atas.


Sementara itu Rian yang masih ada dibawah menatap tajam kearah asisten pribadinya tersebut. "Aku sangat malas untuk bicara denganmu, tapi setidaknya kau bisa menjelaskan hal ini padaku." Kata Rian, dan Alex pun hanya menunduk diam tanpa berani bicara apapun pada bosnya tersebut.


Pria itu kemudian memutar tubuhnya dan hendak berjalan pergi dari hadapan Alex. Namun saat baru saja melangkah, tiba-tiba langkah itu terhenti kembali lalu menatap tajam kearah semua Bodyguard dan para pelayannya. "Kenapa? Apa setelah mendengar keributanku dan istriku lalu kalian merasa begitu iri?" Semua pelayan pun saling menatap bingung akan ucapan Rian. Iri? Iri apa yang dimaksudkan Rian? Baik Alex maupun pelayan lainnya hanya diam dan mencoba mencerna akan ucapan majikannya tersebut.


Rian menyeringai tajam. "Kalian iri kan? Karena kalian masih belum punya pasangan sampai detik ini? Apa kalian juga ingin tau bagaimana rasanya bercinta?" Ujar Rian yang langsung membuat semua pelayannya saling bertanya. "Dan kau Luna." Tunjuk Rian kearah Luna. "Kalau kau ingin tau rasanya, maka coba dekati Alex lalu rayu dia untuk bercinta."


"Apa yang kalian lihat, hah! Cepat selesaikan pekerjaan kalian masing-masing.' Sentak Alex yang langsung membuat semua pelayan kembali keperjaan mereka masing-masing.

__ADS_1


"Kau, kenapa masih berdiri disini? Apa kau sudah mulai menjadi bos sekarang?" Tanya Alex pada salah satu Bodyguard yang tengah berdiri di depan pintu.


Bodyguard itu pun menggeleng dengan cepat. "Tidak tuan, ini memang pekerjaanku. Apa anda lupa jika tugasku memang berjaga disini?" Alex menggeplak dada kekar Bodyguard tersebut. "Kenapa tidak mengatakannya sejak tadi! Menyebalkan!" Ucap Alex dengan langkah kaki meninggalkan Mansion.


Sementara dikamar, terlihat Ziva yang berdiri menghadap keluar jendela kaca dengan perasaan yang tidak karuan. Sampai terdengar pintu kamar terbuka, Ziva kemudian langsung memutar tubuhnya menatap kearah ambang pintu. "Humph!!!" Melihat sosok pria yang ternyata adalah suaminya, Ziva pun langsung membuang muka dan kembali menatap kearah luar jendela seraya melipatkan kedua tangan didada.


"Kenapa dia sangat mirip dengan Namira saat sedang marah?" Lirihnya sembari menutup pintu kamar. Rian berjalan perlahan kemudian berdiri tepat disamping Ziva. Keduanya kini sama-sama saling menatap kearah luar jendela kamar.


"Apa kau sudah mulai mencintaiku, Ziva?" Sontak Ziva menoleh kesampingnya dan menatap pada Rian. Sama halnya dengan Ziva, Rian pun membalikkan tubuhnya dan menatap wanita yang tengah berdiri dihadapannya tersebut.


"Apa yang membuatmu mengikutiku sampai dipemakaman?"

__ADS_1


"Si-siapa yang mengikutimu?" Ujar Ziva yang kemudian mencoba menyembunyikan wajah malunya dihadapan Rian.


"Dengarkan aku, Ziva." Rian menarik tangan Ziva yang hendak menjauh darinya.


__ADS_2