Gairah Cinta Hot Duda

Gairah Cinta Hot Duda
Episode 18


__ADS_3

2 Jam menempuh perjalan akhirnya Rian dan Ziva pun sampai di panti. Dengan cepat Ziva keluar lebih dulu dari mobil tanpa menunggu Rian atau bahkan mengajaknya masuk bersama.


"Tuan, itu Nyonya Ziva dia--"


"Biarkan saja dia masuk dulu, 5 menit lagi kita akan menyusulnya" Ujar Rian memotong ucapan Alex seraya melihat Ziva yang tengah berjalan masuk kepanti.


Sementara Ziva, dengan tidak sabarnya berjalan dengan cepat menuju dapur mencari Sinta. Sosok wanita sekaligus ibu bagi Ziva karena ia lah yang sudah merawat Ziva sejak kecil hingga saat ini.


"Ibu kau dima--" Ucapan Ziva terhenti saat melihat sosok wanita berumur sekitar 55 tahun itu tengah berada didapur sedang memasak.


Perlahan Ziva berjalan mendekat kearahnya lalu memeluknya dari belakang sampai berhasil mengejutkan sosok wanita parubaya tersebut. "Hah... Astaga!" Sontak Sinta yang merasakan pelukan itu langsung memutar tubuhnya dengan cepat dan menatap putrinya dengan terkejut.


"Ziva... kau--" Ziva mengangguk, Air mata kerinduannya pun tumpah setelah 2 hari tidak berjumpa dengan Ibu angkatnya. "Ibu..." Seketika Ziva pun langsung memeluk Sinta dan menangis sesenggukan dipelukannya.


"Aku merindukanmu, Ibu. Maaf karena aku tidak pulang beberapa hari ini, itu karena--" Ziva melepas pelukannya dan mengusap air matanya dengan cepat.


"Karena apa, Nak?" Tanya Sinta.


"Karena aku diculik oleh orang gila." Bisiknya ditelinga Sinta. "Apa?" Sinta menatap Ziva dengan dahi yang mengerut.


Ziva mengangguk cepat. "Iya, aku diculik. Dan Ibu tau?" Sinta menggeleng. Sementara Ziva menoleh kebelakang memastikan jika Rian tidak akan mungkin mendengar pembicaraannya bersama Sinta saat ini.

__ADS_1


"Dia ingin membunuhku, Ibu. Dan yang lebih parah lagi, dia ingin menjual organ dalam tubuhku." Kata Ziva berbohong. Sinta yang terkejut mendengar ucapan putri angkatnya itu, seketika menunjukkan wajah kekhawatirannya.


"Lalu, bagaimana kau bisa kembali kesini?" Tanya Sinta seraya menggenggam erat tangan Ziva dengan cemas.


"Apa ibu lupa kalau aku ini wanita hebat?" Sinta menggeleng cepat. "Aku sengaja membawanya kesini dengan menipu dayanya terlebih dulu sebelumnya. Dan sekarang, Ibu harus membantuku." Ziva menarik tangan Sinta dan mengajaknya duduk dengan serius.


"Membantu apa, Nak?" Tanya Sinta yang masih bingung. Sementara itu Ziva mengambil ponsel dari tas kecilnya dan meminta Ibunya untuk bisa menghubungi polisi.


Namun Sinta yang belum pernah sama sekali berurusan dengan polisi, tentu saja tidak mau melakukan apa yang diminta putrinya. "Tidak, Ibu tidak mau." Sinta kembali meneruskan memasaknya yang tertunda.


"Tapi kenapa, Bu? Apa Ibu mau aku dibunuh olehnya?" Sinta tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Ziva, wanita parubaya itu tetap melanjutkan kegiatan memasaknya sampai semua hidangan yang ia masak pun matang.


"Ibu sudah tidak menyayangiku lagi rupanya!" Umpat Ziva dengan kesal seraya menginjakkan kakinya kelantai.


Saat apa yang ia katakan tidak dihiraukan oleh Sinta, pandangan Ziva pun seketika teralihkan pada meja makan. Ya, nampaknya gadis itu baru menyadari jika Ibunya tengah menghidangkan begitu banyak makanan dimeja makan.


Tidak seperti biasanya yang hanya memasak beberapa menu saja. Karena memang yang tinggal dipanti juga tidak begitu banyak lantaran sudah ada beberapa dari mereka yang menikah dan dibawa pergi oleh pasangan mereka masing-masing.


"Aku tidak akan menghabiskan makanan ini!" Pekik Ziva dengan kesal namun tidak dihiraukan oleh Sinta. "Lagi pula siapa yang mau menghabiskan makanan sebanyak ini disaat detik-detik kematiannya akan tiba." Ujarnya dengan berpura-pura menangis.


Sinta melirik sekilas wajah Ziva lalu menggeleng senyum. "Kalau kau tidak lapar tidak usah makan." Ujar Sinta yang seketika membuat Ziva tidak menyangka akan ucapannya.

__ADS_1


"Ibu, jadi kau tidak me--"


"Kalian sudah datang? Ayo masuklah." Ucapan Ziva terhenti saat mendengar Sinta yang entah berbicara dengan siapa. "Ayo, Nak kemarilah." Dengan cepat Ziva pun memutar tubuhnya lalu melihat sosok siapa yang sebenarnya dengan lembut diajak bicara oleh Sinta itu.


Sungguh diluar dugaan bahwa ternyata yang dipersilahkan masuk oleh Sinta itu adalah Rian. Gadis itu seolah terdiam mematung saat melihat bagaimana sikap lembut Ibu angkatnya itu bicara pada pria yang tidak lama lagi akan menjadi suaminya. Ya, lebih tepatnya lagi seorang pria yang sangat ia tidak sukai ternyata justru sudah begitu akrab dengan Sosok Ibu yang paling ia sayangi.


Melihat Ziva yang terperangah menyaksikan keakraban yang terjalin antara Rian dan Sinta, membuat Rian langsung mengedipkan satu matanya kearah Ziva.


"Ck, bagaimana Ibu dan Rian bisa saling mengenal?" Tanya Ziva dengan rasa penasaran bercampur kesalnya.


Plak.


Sinta menggeplak cukup keras pantat putrinya. "Bagaimana bisa kau menyembunyikan hubunganmu dengan Rian selama 2 tahun, hah!" Ujar Sinta dengan nada sedikit keras pada Ziva.


"Apa?"


"Jadi dia yang kau sebut sebagai penjahat? Bagaimana bisa kau menuduh calon suamimu sendiri sebagai penjahat? Dasar anak nakal." Sinta menjewer telinga Ziva hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.


Sedangkan Alex justru merasa terhibur saat melihat Ziva yang dimarahi oleh Sinta, sosok wanita yang sudah membesarkan Ziva.


"Berani mentertawakannya akan kupotong 80% gajimu." Bisik Rian ditelinga Alex. Seketika Alex pun langsung terdiam dan tidak berani lagi menertawakan calon istri dari majikannya itu.

__ADS_1


__ADS_2