
Begitu sudah mendapatkan pakaian yang diinginkannya, lantas Ziva segera mengenakan pakaian itu. Tak lupa juga Ziva juga sedikit merias dirinya dengan make up tipis diwajahnya.
Setelah siap, kini Ziva melangkah dengan rasa malasnya untuk menghampiri Rian dilantai bawah. "Hufftt... kenapa hidupku jadi seperti ini, bertemu dengan pria aneh lalu diculik dan dibawa pergi begitu saja." Gerutu Ziva seraya berjalan menuruni anak tangga.
Sesampainya dilantai bawah Ziva justru dibuat bingung karena tidak tau dimana letak ruang makannya berada. Tidak hanya itu, Ziva juga dibuat tidak percaya saat melihat begitu banyaknya penjaga didalam rumah yang tengah berdiri disetiap sudut ruangan Mansion yang ia tinggali sekarang ini.
"Banyak sekali orang-orang berbadan besar didalam rumah ini." Guman Ziva dengan terus melangkah mencari keberadaan Rian. Sampai tiba-tiba langkah Ziva pun terhenti dihadapan salah satu penjaga.
"Hey, apa kau tau dimana tuanmu berada?" Tanya Ziva dengan tangan mentoel pinggang si penjaga tersebut.
Penjaga yang dimana pinggangnya ditoel oleh Ziva itu seketika langsung berdiri dengan semakin tegap dan melirik kesekitar penjaga lainnya.
"Kenapa tidak dijawab? Dimana tuanmu berada?" Tanya Ziva dengan satu jari yang menyentil bagian dagu penjaga tersebut.
"Hey!" Sentak penjaga tersebut sampai membuat Ziva terkejut.
Plak.
Berani sekali kau membentakku! Kau membuat jantungku hampir copot tau!" Pekik Ziva dengan memukul bahu penjaga tersebut.
"Berani sekali kau memukulku!" Kata penjaga itu dengan lantangnya.
"Memangnya kenapa aku tidak berani! Apa kau tau aku berada disini karena dibawa oleh tuanmu yang gila itu! Ya, aku rasa tuanmu itu sepertinya jatuh cinta padaku karena kecantikanku yang paripurna ini, dan kau Lihatlah ini." Ziva memutarkan tubuhnya hingga dressnya pun ikut berputar mengikuti gerakannya.
__ADS_1
"Kenapa? Kau terpesona ya? Aku cantik kan? Iya kan?" Goda Ziva dengan mencolok dada penjaga tersebut dengan satu jarinya.
Tidak hanya itu Ziva pun juga tertawa sampai terbahak-bahak saat melihat penjaga itu terdiam dan seolah tidak berani bicara apapun lagi pada Ziva.
"Kenapa diam saja? Hum? Tadi kau membentakku sekarang kau diam saja, dasar aneh."
Plak.
Ziva kembali memukul dada kekar penjaga tersebut seraya tertawa dengan lepasnya. "Aku beri tau padamu dan kau harus tau hal ini, aku dibawa tuanmu karena dia menginginkanku, dan karena apa kau tau?" Penjaga itu pun menggeleng dengan kedua mata yang menatap kearah belakang Ziva.
"Lihat lah aku, tentu saja karena aku cantik, seksi dan yang pasti bisa memuaskan hasrat tuanmu itu. Ha... ha... hah..."
Ziva yang sibuk dengan tawanya itu sampai sama sekali tidak menyadari jika orang yang tengah ia bicarakan itu ternyata sudah berdiri dibelakangnya entah sejak kapan.
"Apa? Hah? Mau bilang apa? Mau membentakku lagi?" Kata Ziva dengan tangannya yang hendak menepuk pipi penjaga itu lagi.
Greb.
Tangan Ziva yang sudah hampir menempel pada pipi penjaga itu seketika terhenti saat tiba-tiba satu tangan kekar tengah memegang tangannya.
Perlahan Ziva pun menoleh mengikuti arah tangan yang tengah menggenggam tangannya itu. "Ka-kau?" Ucap Ziva dengan gugupnya saat melihat Rian yang tengah berada dibelakangnya.
Dengan cepat Ziva melepaskan tangannya dari genggaman Rian dan langsung menjauh darinya. "Se-sejak kapan kau ada disini?" Tanya Ziva dengan menahan rasa takutnya.
__ADS_1
Dengan senyumannya lantas Rian langsung menarik tangan Ziva dan membawanya keruang makan. "Egh... jangan ditarik, lepas!" Pekik Ziva lantaran tidak suka akan sikap Rian yang selalu menariknya begitu saja.
"Duduk." Ucap Rian seraya menarik satu kursi untuk Ziva. Dengan patuh Zivan pun duduk dengan bibirnya yang menguncup sedikit kesal.
"Antar kesini semua makanan yang ada." Ujar Rian pada semua pelayan Mansionnya.
"Baik tuan." Semua pelayan Rian itu pun masing-masing membawa makanan yang ada dan dihidangkan satu persatu menu makanan itu dimeja makan.
"Astaga, kenapa banyak sekali makanannya?" Gumam Ziva dalam hati saat melihat begitu banyaknya makanan yang dihidangkan dimejanya.
"Ini untukmu Nona, ini bagus untuk menambah stamina anda agar tidak mudah lelah." Kata pelayan itu seraya meletakkan sup telur setengah matang dihadapan Ziva.
Melihat semangkuk sup tersebut seketika raut wajah Ziva pun berubah. Gadis itu tidak seperti awal yang dimana sangat bersemangat saat melihat makanan itu baru dihidangkan.
"Kenapa tidak di makan? Apa kau tidak lapar?" Tanya Rian saat melihat Ziva hanya memandangi supnya.
"Kenapa?" Tanya Rian lagi.
"Aku... aku tidak suka telur mentah." Kata Ziva dengan menundukkan kepalanya dan tangan yang meremasi ujung gaunnya.
Brak!!!
"Hah." Kaget Ziva dan semua pelayan saat tiba-tiba Rian menggebrak meja makan dengan kerasnya.
__ADS_1