
"Bagaimana, hum?" Tanya Rian sembari sikunya menyenggol pinggang Ziva. "A-apa tidak ada cara lain untuk membayarnya? Lagi pula pembayaran macam apa seperti itu?" Ziva beranjak dari duduknya dan sedikit menjauh dari Rian, tak lupa gadis itu pun memalingkan wajahnya dari tatapan suaminya yang seolah sudah tidak sabar ingin melahapnya itu.
Rian pun dengan tersenyum juga beranjak dan mendekat kearah Ziva dengan satu tangan yang tiba-tiba merangkul pinggal rampingnya. "Kalau kau tidak setuju juga tidak masalag bagiku. Lagi pula aku juga tidak dirugikan untuk itu." Ucap Rian yang kemudian berjalan pergi dari hadapan Ziva.
"Aku setuju!" Seru Ziva yang seketika itu juga menghentikkan langkah Rian. Dengan senyuman penuh kelicikikannya kini pria itu bak tertawa didalam hatinya. Puas? Ya, tentu saja sangat puas. Karena memang itu lah yang sangat diinginkan pria tampan berusia 32 tahun tersebut.
Begitu mendengar persetujuan dari Ziva, lantas Rian memutar tubuhnya dan menghadap pada sosok wanita yang nampaknya begitu tidak sabar untuk mendengar sesuatu yang agaknya itu adalah sebuah rahasia besar.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi! Cepat katakan, apa yang terakhir belum kau katakan tadi!" Dengan kesal Ziva duduk kembali disisi tempat tidur dan kemudian Rian pun mendekat kearahnya lalu duduk disampingnya. "Dengarkan ini baik-baik dan aku harap kau tidak akan begitu terkejut setelah mendengarnya." Ucap Rian sembari menggenggam tangan Ziva.
Ziva terdiam, gadis itu kemudian perlahan mengela nafas panjangnya bersiap untuk mendengarkan apa yang sebenarnya ingin Rian katakan. Sejenak suasana kamar nampak begitu hening sampai pada akhirnya Rian pun mulai berbicara. Dan disela pembicaraannya Rian memanggil sang asisten pribadi untuk membawa sebuah berkas yang berisi tentang data penting didalamnya.
"Tuan, ini yang anda minta." Alex menyodorkan sebuah berkas tersebut dari tangannya pada Rian. "Terima kasih dan pergilah." Kata Rian dan asisten pribadinya itu pun pergi setelah memberikan apa yang bosnya minta.
Ziva melihat apa yang ada ditangan Rian dengan tatapan yang semakin penuh tanya. "Baca ini, disini kau mengetahui semuanya." Rian memberikan berkas tersebut dan tak menunggu lama Ziva pun langsung mengambil berkas itu dari tangan Rian dengan tidak sabarnya.
__ADS_1
Melihat wanitanya yang semakin menangis alhasil Rian pun mengambil alih dengan cepat berkas tersebut dari tangannya. "Tuan, kenapa kau mengambilnya? Aku belum sele--"
"Tidak perlu membacanya sampai selesai karena aku yakin kau sudah tau semuanya." Ujar Rian yang langsung memotong ucapan Ziva.
Rian beranjak dan memanggil Alex kembali untuk mengambil berkas tersebut. Tak lama setelah Alex mengambilnya dan pergi, Rian kemudian menatap pada Ziva yang terlihat terus menangis. "Hentikan tangisanmu, Ziva. Sekarang sudah bukan waktunya lagi untukmu terus menangis, karena--"
"Aku mau ikut pulang denganmu." Seketika Rian pun menghentikan ucapannya setelah mendengar Ziva yang bersedia untuk pulang bersama Rian dan meninggalkan kota Swiss. "Iya, Tuan. Aku bersedia ikut denganmu pulang." Rian mendekat kearah Ziva dan menatapnya dengan penuh rasa bersalah. Entah bagaimana pria itu memulai kata maafnya. Ya, kata maaf yang tetap tidak akan bisa mengembalikan Namira kedunia ini lagi. Dan ditambah lagi banyak kesalahan yang ia lakukan pada Ziva karena menyimpan rahasia sebesar itu padanya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ziva. Kau boleh marah padaku tapi bukan berarti kau meninggalkanku. Kau juga harus ingat kalau kau masih memiliki janji padaku untuk--" Rian menghentikan ucapannya dan langsung menggenggam tangan wanitanya tersebut. "Untuk melayaniku karena itu adalah hutangmu." Bisiknya ditelinga Ziva.
Tangis Ziva yang tadinya begitu terdengar sampai tersedu-sedu, seketika itu juga langsung terdengar sunyi. Ya, bagaimana bisa disaat pembicaraan yang masih serius dan disuasana hati Ziva yang kacau lantaran sebuah kenyataan yang baru saja ia ketahui, Rian justru masih sempat-sempatnya mengingatkan hal yang menggelikan semacam itu.