
Pelukan yang cukup lama terjadi itu kini dilepas oleh Ziva secara perlahan. Gadis itu pun mundur satu langkah menjauh dari suaminya. Namun apa yang dilakukan oleh Rian saat istrinya itu mencoba menjauh darinya? Ya, pria itu dengan cepat kemudian menarik tangan wanitanya sampai berhasil membuatnya terbaring ditempat tidur.
"Egh... tuan, apa yang kau--" Rian menutup bibir Ziva menggunakan satu jari telunjuk yang sontak membuatnya terdiam seketika. "Malam ini aku akan membawamu pulang." Kata Rian.
"Pulang?" Ucap Ziva kemudian Rian mengangguk. Ziva yang masih tidak mengerti akan ucapan Rian pun kembali bertanya. "Pulang kemana? Bukankah ini--" Rian beranjak dari atas tubuh Ziva lalu menarik tangan gadis itu untuk duduk.
Terlihat raut wajah Rian yang nampak berbeda kali ini. Saat pria itu duduk disamping Ziva dengan menundukkan kepalanya, seolah menunjukkan banyaknya hal yang belum ia ceritakan pada sosok gadis yang saat ini sudah menjadi istrinya tersebut.
"Tuan?" Lirih Ziva yang kemudian memegang tangan Rian.
Kini pria itu pun tersenyum dan menatap Ziva yang duduk disampingnya. "Ini memang Mansionku tapi ini bukan tanah kelahiranku." Ujarnya dengan menatap sendu Ziva. "Aku disini karena Namira." Mendengar Rian menyebut nama Namira, perlahan Ziva melepas genggamannya pada tangan Rian.
__ADS_1
Rian pun tersenyum dengan tatapan yang masih menatap wanitanya tersebut. "Jangan marah." Kata Rian. "Si-siapa yang marah? Aku sama sekali tidak marah." Ziva pun beranjak dari duduknya dan hendak melangkah pergi.
"Kalau kau tidak marah seharusnya kau tidak pergi." Langkah kaki Ziva pun terhenti. Ia memutar kembali menatap Rian yang masih duduk disisi tempat tidur. "Duduklah, aku akan menceritakan semuanya padamu." Rian menepuk disampingnya meminta Ziva untuk duduk kembali.
Tidak ingin dianggap cemburu karena Rian yang menyebut nama mendiang mantan istrinya, lantas Ziva pun kemudian duduk disamping Rian
Dengan diamnya dan tanpa bertanya sedikit pun tentang apa yang ingin diceritakan olehnya suaminya, Ziva mencoba menahan gejolak hatinya yang sebenernya ia sangat ingin tau bagaimana cerita tentang kehidupan Rian dan Namira dulu.
Dan kini Rian pun mulai menceritakan semuanya. Satu persatu semua yang diceritakan Rian padanya didengar dengan baik oleh Ziva. Sampai dicerita terakhir dimana hal itu adalah sesuatu yang sangat ingin Ziva ketahui, namun tiba-tiba Rian tidak melanjutkannya dan justru hendak pergi dari hadapan Ziva.
"Tuan, kau mau kemana?" Tanya Ziva yang dengan cepat menahan kepergian Rian. "Aku lapar dan aku ingin makan." Ziva menggeleng cepat. Bagaimana bisa Rian akan pergi setelah berhasil membuatnya penasaran setengah mati. Ia pun kemudian menarik paksa tangan Rian lalu mendudukkannya kembali disisi tempat tidur.
__ADS_1
"Kau tidak boleh pergi, bukankah ada satu hal yang belum kau katakan padaku?" Ujar Ziva dengan hati berharap agar Rian bisa cepat mengatakannya. "Benarkah? Bukankah tadi sudah kuceritakan semuanya?" Lagi-lagi dengan cepat Ziva pun menggeleng. "Belum, Tuan. Ada satu hal lagi yang belum kau katakan padaku yaitu tentangku dan Namira."
Rian menunduk senyum seraya mengangkat satu alis tebalnya. "Yang terakhir ini adalah rahasia besar, Ziva. Dan tentunya jika rahasia ini aku beritaukan padamu itu artinya kau harus membeli informasi ini dariku."
"Apa!" Seru Ziva lantaran ia tidak menyangka jika sosok pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata meminta imbalan untuk apa yang ingin diberitaukan padanya. "Iya, Ziva. Tapi jika kau tidak mau membayarnya maka aku pun tidak bisa memberitaukan rahasia besar ini padamu." Ujar Rian yang semakin membuat Ziva penasaran. Sebenarnya rahasia besar apa yang diketahui oleh Rian sampai ia meminta istrinya sendiri untuk membayar sebuah informasi yang nampaknya sangat rahasia tersebut.
Ziva yang tentunya sangat ingin tau tentang hal itu, terpaksa membuka dan melihat isi saldo tabungannya melalui ponselnya. "Baiklah, katakan berapa harga untuk membeli informasi itu?" Tanyanya seraya mengecek jumblah saldo tabungannya.
"Bukan ini yang aku inginkan." Rian mengambil ponsel Ziva dari tangannya. Gadis itu pun menatap Rian dengan penuh tanya. "Lalu?" Tanya Ziva.
Rian mendekatkan bibirnya tepat ditelinga Ziva sembari berbisik. "Aku tidak butuh uangmu, yang aku butuhkan adalah tubuhmu." Sontak kedua mata Ziva pun seketika terbelalak menatap Rian. Betapa tidak disangkanya oleh Ziva jika suaminya itu akan meminta bayaran yang tidak biasa baginya. Ya, meski sudah pernah melakukannya sekali namun tetap saja, Ziva merasa masih sangat takut jika mengingat bagaimana brutalnya permainan yang dilakukan sosok pria tampan yang tengah duduk disampingnya saat ini.
__ADS_1